Thursday, November 18, 2010

Melihat Dari Dekat Sekolah Menengah Kejuruan Di Wari Kabupaten Tolikara ( Bagian_2 )

Menyusuri jalan masuk ke halaman sekolah, sudah tidak terlihat jelas mana jalan sebenarnya, karena, baik jalan maupun halaman sekolah seluruhnya sudah ditutupi rumput setinggi pinggang orang dewasa. Bahkan Karel, pemuda kampung yang menjadi guide khusus ini, tersungkur masuk dalam parit saat hendak berpose di depan papan nama SMK N Tolikara.

Laporan : Alberth Yomo

Gedung pertama yang kami jumpai ketika memasuki pelataran sekolah adalah kantor administrasi, di mana terdapat ruang guru, ruang kepala sekolah dan ruang tata usaha. Bangunan semi permanen ini luasnya kurang lebih 8 x 20 meter. Memiliki jendela kaca bergerendel dan ditutupi hordein warna merah, sehingga kami tidak bisa melihat isi dalam ruangan itu.
Disamping kanan gedung administrasi, kurang lebih 7 meter, terdapat bangunan memanjang kurang lebih 60 x 10 meter, terdapat 4 ruangan yang cukup luas, ruangan pertama, nampaknya dipersiapkan untuk ruang perpustakaan, namun yang terlihat hanya beberapa rak buku kosong, sementara 3 ruang lainnya merupakan ruang belajar, di mana 3 ruangan ini, pembatas ruangnya dibuat bergerendel, sehingga bisa difungsikan juga sebagai ruang pertemuan atau aula sekolah. Nampak terlihat dalam ruangan ini, puluhan kursi meja kayu tersusun rapi. “ Ini waktu rapat orang tua siswa, jadi semua kursi meja dipindahkan ke ruangan ini,” tandas Karel..
Setelah melihat ruangan tersebut, kami melanjutkan melihat gedung lainnya yang merupakan kembarannya. Ukurannya sama, terdapat empat ruangan, masing-masing ruangan luasnya kurang lebih 10x10 meter yang nampaknya merupakan ruang belajar. “ Bisa menampung 30 siswa dalam satu ruangan, tapi rata-rata siswa per kelas hanya 10 sampai 20 siswa, jadi mungkin ada 60 siswa di sekolah ini,”tandasnya. Ruangan ini dibiarkan terbuka, sehingga memudahkan orang atau binatang bisa masuk. Ada ruangan yang tidak ada kursi dan meja belajarnya, ada yang hanya beberapa kursi dan meja.
Kami melanjutkan lagi berjalan semakin ke belakang menyusuri rumput dan semak-semak untuk melihat rumah guru dan asrama. Kurang lebih 100 meter berjalan ke belakang, kami mendapati dua bangunan kembar ukuran 8x8 meter, rumah semipermanen yang terkesan mewah, terdapat ruang tamu, ruang keluarga, dua kamar tidur, dapur dan WC. Tapi sayang, tidak ada penghuninya. Satu rumah, pintu dan jendelanya terkunci, sedangkan satunya lagi dibiarkan terbuka, sehingga pada beberapa bagian mulai rusak dan dikotori.
“Rumah guru su bagus begini, tapi trada guru yang mau tinggal disini, jadi ada masyarakat yang bilang, kalau guru tidak mau tinggal di rumah ini, nanti masyarakat ambil rumah ini untuk dijadikan tempat tinggal, karena banyak juga masyarakat yang belum dapat bantuan rumah social,” ungkapnya.
Semakin ke belakang lagi kami berjalan, kurang lebih 100 meter dari 50 meter dari rumah guru, kami mendapati 2 gedung lagi.” Yang ini asrama putri, sedangkan yang itu ( 30 meter di depan kami ) asrama putra,” ujar Karel yang pernah diperbantukan bekerja di sekolah ini, namun karena dirinya menilai ada kecurangan yang dilakukan pimpinan sekolah dalam hal penggajian, akhirnya ia tidak bekerja lagi di sekolah ini.
Bangunan dengan luas kurang lebih 30 x 15 meter ini, juga merupakan bangunan semi permanen, dalam bangunan ini terbagi lagi menjadi 2 ruang ukuran 10x10 yang nampaknya merupakan ruang tidur. Sementara dibagian belakang ruangan ini, terdapat 3 Toilet dan 3 kamar mandi. Gedung Asrama putri tampak tertutup, sementara asrama putra, pintunya sudah terbuka, dan ruangannya sudah ditempati orang, dengan membangun 2 tempat tidur darurat. “Macamnya ada orang yang biasa tidur disini, mungkin orang dari gunung,” tandas Karel.( Bersambung )

Melihat Dari Dekat Sekolah Menengah Kejuruan Di Wari Kabupaten Tolikara ( Bagian_1 )

Pada tahun 2007 lalu, salah satu media cetak di Jayapura menulis tentang Sekolah Menengah Kejuruan yang baru diresmikan di Kabupaten Tolikara, dalam tulisan itu, dikatakan sekolah tersebut  mampu menampung ribuan siswa dan ungkapan lainnya soal kelebihan sekolah tersebut. Namun sudah tiga tahun berlalu, tak terdengar kabar tentang sekolah yang katanya bertaraf Internasional itu. Seminggu lebih, pacific post berada di Distrik dimana sekolah itu dibangun, bagaimana kondisinya?

Laporan : Alberth Yomo

Tidak mudah untuk bisa sampai di Distrik Wari Kabupaten Tolikara, transportasi ke sana hanya menggunakan pesawat udara dan jalur transportasi sungai menggunakan longboat. Jika menggunakan pesawat udara, nampaknya harus dicarter dengan puluhan juta rupiah, namun jika ingin yang lebih murah, pasti lewat jalur sungai, tapi itupun tidak mudah.
Menggunakan transportasi sungai, terlebih dahulu harus transit di lapangan terbang Dabra yang biasanya melayani penerbangan perintis Merpati yang disubsidi Pemerintah,yang tentunya harga tiketnya bisa terjangkau. Kemudian dari Dabra, setelah menyiapkan bensin kurang lebih 30 liter, sewa perahu longboat dengan ketinting atau motor temple lalu menyusuri sungai  Mamberamo( Taritatu ), kemudian masuk kali Taiyeve, transit di kampong Taiyeve I, lalu melanjutkan perjalanan menyusuri kali Wari hingga tiba di pelabuhan Wari.
Apabila kondisi kali dalam keadaan banjir atau air naik, maka perjalanan tersebut bisa lebih cepat, dapat menghabiskan waktu kurang lebih 5 jam. Tetapi jika kalinya dalam kondisi normal, maka butuh waktu lebih dari 6 jam, karena perlu extra usaha untuk menarik perahu ketika terkandas di bebatuan, dan perlu menyimpan sebagian tenaga untuk memikul beban dan berjalan kaki sejauh 2 kilometer lagi untuk sampai di Ibukota Distrik Wari.
Beruntung  pada perjalanan ke sana, ketika bermalam di Taiveye I, turun hujan deras, sehingga kali Wari banjir dan air naik cukup tinggi, sehingga pagi harinya kami bergegas cepat menuju Distrik Wari. Dua jam berikut, kami telah berada di pemukiman masyarakat Wari. Setelah 4 hari berdiskusi dan melakukan observasi kondisi kampong, hari ke-lima, saya khususkan untuk melihat dari dekat sekolah menengah kejuruan itu.
Ditemani oleh salah seorang pemuda Kampung, saya disarankan menggunakan sepatu boat karet untuk kami memasuki lokasi sekolah, karena lokasi sekolah menurutnya  sudah ditutupi rumput liar, yang ditakuti kalau-kalau ada ular berbisa. Dan memang benar, nampak seluruh halaman sudah ditumbuhi rumput setinggi pinggang orang dewasa, bahkan pohon liar juga tak jarang terlihat di areal seluas kurang lebih 3 hektar itu, seperti sebuah bangunan yang sudah tidak digunakan lagi. …( bersambung )

Penuturan Direktur Eksekutif YALI Papua Tentang Keberadaan Cagar Alam Cyclop

Bencana alam banjir bandang yang terjadi di Wasior belum lama ini menurut para penggiat lingkungan hidup, disebabkan oleh rusaknya hutan pada kawasan penyangga, bencana itu kemudian mengingatkan kita pada bencana serupa yang terjadi di Sentani tahun 2006 lalu, penyebabnya sama yakni rusaknya kawasan penyangga Cagar Alam Cyclop. Lalu apa hikmahnya? Berikut penuturan Direktur Eksekutif Yayasan Lingkungan Hidup ( YALI ) Papua, Bastian Wamafma kepada tim papua baru…

Laporan: Alberth Yomo

“ Perhatian kepada ( Cagar Alam )Cyclop sudah belasan tahun lalu diberikan, dan telah banyak kegiatan yang dilakukan baik oleh Pemerintah, Lembaga Sawadaya Masyarakat, Perguruan Tinggi maupun Lembaga Internasional, melalui kajian-kajian yang kemudian diseminarkan dan mendapat berbagai rekomendasi namun hasilnya mandek? Ibarat menjaring angin alias sia-sia saja, “ ungkap Bastian Wamafma, Direktur Eksekutif Yali Papua kepada papua baru di kantornya, Senin(15/11 ) kemarin.

Dijelaskan, bahwa keprihatinan berbagai pihak terhadap keberadaan cagar alam cyclop sudah berlangsung lama, dan telah dilakukan berbagai kajian terhadap sumber daya alam yang terkandung di dalamnya, maupun dampak dari pemanfaatan sumber daya alam itu, bahkan puluhan rekomendasi sudah dihasilkan dari kajian-kajian yang dilakukan berbagai pihak tersebut.

“ Tapi sayang upaya-upaya yang dilakukan berbagai pihak itu tidak mampu membendung ancaman-ancaman yang menimpa kawasan, seperti berkurangnya kualitas dan kuantitas debit air, yang merupakan implikasi pertambahan penduduk, perladangan bebas dan pemanfaatan kayu soang yang meningkat dari tahun ke tahun,” ujar Bas panggilan akrab Bastian Wamafma.

Pernyataan Bastian ini sejalan dengan apa yang dikemukakan Direktur PDAM Jayapura Gading Butar Butar beberapa waktu lalu dalam suatu jumpa pers di Jayapura, dimana dalam pernyataan itu Gading Butar Butar mengungkapkan, bahwa debit air di kota Jayapura dari sisi kualitas dan kuantitasnya sudah sangat mengkuatirkan, jika tidak segera dipecahkan akar masalahnya, maka masyarakat di kota Jayapura siap menanggung konsekuensinya.  

Menurut Bastian, bahwa hal yang penting dan mesti dilakukan Pemerintah saat ini adalah bertindak menjalankan rekomendasi-rekomendasi yang pernah dibuat dan disepakati, sehingga pertemuan-pertemuan yang pernah dilakukan benar-benar memberi manfaat yang signifikan sejalan dengan waktu, uang dan tenaga yang telah dikeluarkan baik oleh pemerintah maupun lembaga-lembaga social lainnya, kalau perlu tindakan tegas.

“Relokasi warga, penyusunan peraturan dalam bentuk Perda  tentang pengelolaan CAC (Cagar Alam Cyclop) merupakan dua contoh dari hal-hal yang pernah dibicarakan pada setiap kesempatan berbicara tentang cyclop, tetapi apa yang dibicarakan dalam pertemuan itu, rekomendasi yang dihasilkan pada pertemuan itu, tidak ada yang jalan, entah kenapa,” ujar Bas yang menjadi penggiat lingkungan hidup dari tahun 2000 ini.

Hal lainnya yang diamati Bas adalah ego sektoral, dimana Pemerintah Daerah dan Lembaga-Lembaga Swadaya Masyarakat yang melakukan kajian terhadap keberadaan cyclop berjalan sendiri-sendiri.” Dua-duanya bikin kegiatan, tapi setelah itu mentok ( macet ) saat implementasi,” tegasnya.

Bas kemudian mengingatkan, bahwa dari hasil kajian Natural Resources Management bekerjasama dengan BAPPEDALDA Provinsi tahun 2002 hingga tahun 2004 wilayah angkasa kota Jayapura hingga Kampung Doyo Kabupaten Jayapura, ada hidup lebih dari 2000an jiwa penduduk yang menetap dalam kawasan , dan ini akan menjadi ancaman serius pada tahun-tahun mendatang bila dihubungkan dengan pemanfaatan lahan.” ungkapnya

Jadi Bas meminta, kiranya ada kesadaran dari masyarakat untuk tidak melakukan aktifitas dalam kawasan, dan mentaati aturan dan solusi yang ditawarkan Pemerintah, karena ini untuk kebaikan kita semua, agar ada hari depan bagi anak-anak negeri.” Jangan sampai kita dan anak cucu kita mencucurkan air mata karena banjir bandang yang meluluhlantakan rumah dan semua yang kita miliki,” pesannya.***

Mencermati Pesan Gubernur Provinsi Papua Pada Pelantikan Penjabat Bupati

“Pegang teguh janji yang saudara ucapkan kepada Tuhan, Ingat, Janji ini kepada ini Tuhan,”

Pada beberapa waktu lalu Gubernur Provinsi Papua, Barnabas Suebu SH telah melantik beberapa Bupati definitive dan  juga telah melantik beberapa orang Penjabat Bupati, untuk memimpin penyelenggaraan pemerintahan di daerah-daerah dimana mereka menjabat. Bahkan dalam beberapa waktu ke depan, akan melantik pejabat-pejabat daerah yang baru. Ada beberapa pesan Gubernur yang sangat penting dan perlu digaris bawahi oleh mereka yang telah dilantik dan yang akan dilantik. berikut laporannya :

Laporan : Alberth Yomo

Prosesi pelantikan seorang pejabat di Indonesia, apakah itu seorang Presiden, Gubernur, Bupati bahkan pelantikan seorang kepala kampung, tidak terlepas dari apa yang kita sebut sumpah jabatan. Prosesi ini merupakan suatu ritual baku di Indonesia bahkan di dunia yang telah berlangsung lama dan mungkin akan terus berlangsung abadi. Prosesi ini biasanya ditandai dengan mengangkat lengan tangan kiri sejajar bahu lalu dua jari, yakni jari telunjuk dan jari tengah diacungkan, sementara jari manis dan jari kelingking diapit oleh ibu jari menjadi satu kesatuan merapat di dalam telapak tangan kiri dan pada saat yang sama, tangan kanan calon pejabat menempel di atas kitab suci.
Setelah itu, calon pejabat akan meniru dan menjawab pernyataan sang pelantik.” Dengan nama Tuhan saya berjanji,” demikian sepenggal kalimat lasim yang diucapkan para pejabat yang dilantik. Berjanji berdasarkan agama apa? Tanya sang pelantik, kemudian akan dibalas sang penerima jabatan sesuai dengan nama Agama yang dianutnya. Usai ritual itu, pasti akan diakhiri dengan pemberian ucapan selamat dengan cara berjabatan tangan dan memberi ucapan selamat. Namun prosesi ini, bagi sebagian orang adalah prosesi yang tak bernilai,karena walau sudah bersumpah atas nama Tuhan,selalu saja sumpah janji itu dilanggar, demi kepentingan pribadi dan golongan. Tapi entahlah,mungkin hanya bagi sebagian orang.
Senang dan bangga, itu yang pasti dirasakan seseorang ketika melalui prosesi ini.” Kepercayaan seperti ini tidak bisa diberikan kepada semua orang,  kepercayaan ini datangnya hanya sekali dalam kehidupan seseorang, karena itu saudara melihat bahwa kepercayaan yang diberikan adalah satu kehormatan, kehormatan yang saudara terima, kehormatan ini mengandung tanggung jawab yang besar, karena itu saya berpesan saudara pegang teguh janji yang saudara ucapkan kepada Tuhan, janji ini kepada Tuhan,”tegas Gubernur Provinsi Papua, Barnabas Suebu SH, pada pelantikan dua orang penjabat Bupati, beberapa waktu lalu di gedung Negara, Jayapura.
Pada penegasan itu, Barnabas Suebu menekankan kalimat “Janji Kepada Tuhan” dua kali berturut-turut dalam satu kalimat langsung. Artinya apa?Bahwa seorang Barnabas Suebu mengetahui dengan betul konsekuensi dari janji itu, Barnabas Suebu juga tahu apa akibatnya ketika seseorang mengingkari janjinya kepada Tuhan. Gubernur Provinsi Papua ini meyakini, bahwa konsekuensi dari ingkar janji kepada Tuhan berbeda dengan ingkar janji kepada sesama manusia, dan konsekuensinya jelas, yaitu  Hukuman dan hukuman dari Tuhan itu tentu beda dengan hukuman yang diberikan oleh manusia. “Apabila saudara mengingkari janji ini, saudara akan bertemu dengan konsekuensi- konsekuensi,” tandas Gubernur Provinsi Papua ini.
Gubernur Provinsi Papua ini kemudian mengungkapkan contoh-contoh kasus akibat dari inkonsekuen pejabat-pejabat  Papua yang mengingkari janjinya kepada Tuhan .”Kita tahu banyak pemimpin di Papua yang mengingkari janjinya kepada Tuhan, sehingga mereka sudah mengalami akibat dari konsekuensi itu yang akan terjadi pada diri dan hidup saudara apabila janji ini tidak ditepati seiklas-iklasnya yang setulus-tulusnya seperti yang saudara ucapkan kepada Tuhan,” tandasnya.
Konsekuensi yang dimaksud Gubernur, jelas adalah konsekuensi hukum, dimana ketika seorang pejabat menyalahgunakan kewenangan yang diberikan, misalnya melakukan korupsi terhadap dana APBD atau dana-dana lainnya, maka hotel prodeo akan menjadi tempat peristirahatan berikutnya, dan mungkin akan menjadi tempat yang tepat untuk pengakuan dosa dan tempat yang baik untuk merendahkan diri kepada Tuhan, itupun kalau Tuhan berkenan.
 “Apabila saudara bekerja dengan hati yang tulus dan iklas memenuhi janji saudara kepada Tuhan, kepada Pemerintah, bangsa dan Negara, kita berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang sumber dari segala kekuasaan itu, dari surga akan mengurapi kepemimpinan saudara, maka berkatnya akan mengalir kepada Kabupaten dan masyarakat yang saudara pimpin sehingga melalui kepemimpinan saudara, nama Tuhan dipuji, rakyat mengalami damai sejahtera dan nama saudara akan diingat sepanjang di mana saudara berada,” tegas Barnabas Suebu.
Kepada penjabat Bupati, Gubernur Provinsi Papua ini mengingatkan, bahwa tugas pokok seorang penjabat Bupati, sifatnya sementara saja.”Saudara bukan bupati definitive, saudara diminta untuk mengisi lowongan waktu sebelum bupati definitive dipilih memulai tugas dan tanggung jawabnya di kabupaten yang saudara pimpin. Tugas-tugas tentang penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan dan pembinaan masyarakat tidak boleh berhenti dan harus terus berjalan, untuk itu saudara dilantik,”ucap Gubernur mengingatkan.
Saudara juga, lanjut Gubernur Provinsi Papua ini,  ditugaskan untuk menyelesaikan pemilihan umum kepala daerah yang akan dan sedang berlangsung sampai dengan hari pelantikan. Saudara mendapat tugas dan tanggung jawab untuk memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat dan saya ingin berpesan bahwa masa jabatan penjabat hanya satu tahun paling lama, oleh karena itu saudara dilarang mengambil keputusan-keputusan yang membawa akibat jangka panjang dan memberi beban kepada bupati definitive yang akan datang.
“ Saudara dilarang megambil keputusan-keputusan yang membawa beban negara jangka panjang bagi kabupaten dan bagi pimpinan definitive. Dengan demikian dengan waktu yang singkat, saudara mempersiapkan jalan bagi pemimpin yang baru dan nama saudara dicatat sebagai penyedia jalan bagi pemimpin yang akan datang,” tegas Bas, panggilan akrab Gubernur Provinsi Papua ini.***

Thursday, October 28, 2010

Yang tercecer dari pelaksanaan Pemilukada di Kabupaten Mamberamo Raya

“ Anehnya, 9 kampung definitive milik Pemerintah Tolikara ikut Memilih”

Pada tanggal 14 Oktober lalu, Masyarakat di Kabupaten Mamberamo Raya menggelar pesta demokrasi pemilihan kepala daerah Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Mamberamo Raya periode 2010-2015, namun anehnya, masyarakat di 9 Kampung di satu Distrik dalam wilayah Pemerintahan kabupaten Tolikara, ikut memilih. Bagaimana?Berikut laporan langsung pandangan mata wartawan pacific post dari Distrik Wari Kabupaten Tolikara…

Laporan : Alberth Yomo

Pemilihan Umum Kepala Daerah Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Mamberamo Raya periode 2010-2015 tanggal 14 oktober 2010 lalu merupakan yang pertama sekaligus merupakan sejarah baru, bagi Kabupaten yang baru dimekarkan tahun 2008 lalu. Namun, ada sesuatu yang aneh tapi nyata, yang sudah diketahui, tapi seolah-olah malas tahu, yakni KPUD Mamberamo Raya menetapkan beberapa Distrik milik Pemerintah Tolikara sebagai tempat pemungutan suara. Seperti yang terjadi di Distrik Wari Kabupaten Tolikara dan mungkin juga di Distrik Dow dan Distrik Sebey Kabupaten Tolikara, karena beberapa kotak suara juga diantara ke sana.
Pada tanggal 13 oktober  2010, sekitar pukul 11.00 Wit, sebuah pesawat cesna milik Tariku Aviation mendarat di lapangan terbang Wari. Seperti biasa, kalau ada pesawat yang masuk, pasti semua masyarakat akan keluar dari rumahnya masing-masing untuk melihat gerangan siapa yang diantar oleh pesawat itu.
Karena saat itu, aku sedang berada di kali mencari ikan bersama beberapa anak di kampong itu, jadi kesempatan melihat pesawat terlewatkan. Namun, selang beberapa waktu kemudian,setelah pesawat itu keluar, muncul beberapa pemuda ke tempat kami, dan memberitahukan, kalau pesawat tadi membawa kotak suara dan 3 orang petugas penyelenggara Pemilu.
Aku tersentak kaget, dan bertanya, apakah Distrik Wari juga ikut memilih?Ini kan pemilihan Kabupaten Mamberamo Raya, dan Wari adalah Distrik dari Pemerintah Tolikara. “ Iya kk, biar kita masuk di Tolikara, tapi kita juga biasa ikut pemilihan untuk Mamberamo Raya, karena disini juga masuk wilayah Mamberamo,” ujar salah satu pemuda.
Ya sudah, pada esoknya aku ikut memantau pelaksanaan pemungutan suara di Distrik yang 9 kampungnya berdekatan ini . Apa hasilnya?100 persen kemenangan untuk pasangan nomor urut 2. Saya akui, pelaksanaan berjalan sukses, meski tidak menggunakan asas rahasia lagi, karena pencoblosan langsung diketahui panitia, mana yang dicoblos, semua dilihat langsung oleh petugas.
Aku baru tahu kemudian, bahwa keikutsertaan masyarakat di Wari pada pemilukada Kabupaten Mamberamo Raya, karena factor balas jasa, atas 30 rumah social yang dibangun sang kandidat di wari, sewaktu menjabat sebagai karateker bupati Mamberamo Raya. Dan akan menyusul bantuan dan perhatian lainnya ketika sang kandidat terpilih secara definitive menjadi bupati.***



Monday, October 4, 2010

Pernyataan Penting Pdt. Rainer Scheuneman Bagi Kemajuan Persipura

Pada acara diskusi bertemakan” Sepak Bola Papua menuju Kemandirian” yang dilaksanakan oleh wartawan olahraga Papua di Jayapura, dengan menghadirkan pembicara para kandidat calon walikota Jayapura periode 2010-2015 di auditorium RRI Jayapura,Minggu (4/10 ), hadir pula para pemerhati dan pengamat sepak bola Papua, diantaranya Pdt.Rainer Scheuneman, Benny Jansenem, Niko Dimo dan Fernando Fairio. Dari ke-empat pengamat bola Papua ini, Pdt, Rainer Scheuneman tampak memberikan pencerahan yang spectakuler tentang fakta penting factor-faktor penghambat kemajuan sepak bola Papua, berikut laporannya :



Laporan : Alberth Yomo

“Kita bisa bersyukur dan bangga dengan apa yang telah dilakukan oleh pemain-pemain Persipura masa lalu, tetapi sejujurnya masih banyak hal yang harus dibenahi, agar kita bisa mencetak pemain-pemain Papua menjadi pemain kelas dunia,” ujar Pdt. Rainer.
Diuraikan,bahwa untuk saat ini, di Papua kita bisa memberikan nilai 10 kepada para pemain Persipura, tetapi untuk tingkat Asia, nilai raport mereka( pemain persipura ) adalah 7. Mengapa?Karena melawan Pelita Jaya mereka bisa menang 5-0, tetapi ketika main di luar negeri atau ditingkat Asia melawan Cina, mereka kalah 9-0 dan  8-0. Apa yang salah?tidak ada pembinaan sejak usia dini.
 “Pembinaan yunior harga mati. Anggaran Persipura harus lebih banyak ke Yunior, Kita (pengurus sepak bola di Papua ) telah melakukan kesalahan dan telah gagal dalam 10 tahun terakhir melakukan pembinaan Yunior secara terus menerus, sehingga kondisi itu yang kita lihat saat ini, pemain kita belum bisa berbuat lebih di tingkat Asia,” tandasnya.
Diungkapkan,  dari 450 pemain ISL yang saat ini beredar, hanya 35 pemain Papua. Kita mengatakan Papua gudang pemain, tetapi apa kenyataannya?, kita hanya bisa menyumbangkan 7,7 persen pemain Papua. Karena itu kita harus menanamkan target saat ini, minimal kita harus mencapai 30 persen atau setidaknya 25 persen penyumbang pemain dari Papua 5 atau 10 tahun ke depan.
Selain Pembinaan usia dini yang ditekankan oleh Pdt Rainer, hal lainnya yang menjadi keprihatinan pria Jerman yang sudah 15 tahun mengabdi di tanah Papua ini adalah soal Kepelatihan dan Perwasitan di Papua. “Kesalahan lain yang kita lakukan adalah tidak ada penjenjangan dari system kepelatihan kita. Saya sebagai pendeta, tetapi mempunyai lisensi kepelatihan yang lebih tinggi dari seluruh pelatih yang ada di Papua, ini aneh sekali,” ungkap Rainer yang sudah mengantongi sertifikat kepelatihan Lisensi B dari UEFA ini.
Sebagai bentuk keprihatinan itu Rainer mengharapkan ada perhatian serius untuk eks pemain Persipura agar diberdayakan terus menerus menjadi pelatih yang professional, supaya bisa mengisi kepelatihan yunior di Papua.” Kita bangun gedung 20 tingkat, tetapi kalau fondasinya lemah tidak bisa,” imbuhnya.
Dirinya kemudian mencontohkan sepak bola Timor leste yang merdeka tahun 2002, pertandingan pertama, mereka kalah 28-0 dari Australia, tetapi masyarakat timor leste mereka sambut luar biasa, mereka pawai dan bangga kepada pemain-pemainnya, karena mereka yakin, suatu hari nanti, Timor leste akan berada di depan.
“Buktinya, tahun 2010 mereka kalahkan Indonesia 2-0. Ini suatu hal yang memprihatinkan untuk kita di Indonesia. Itu yang saya katakan tadi, untuk mencapai itu, perlu pembinaan yunior yang serius, kepelatihan yang serius dan perwasitan yang serius. Tidak ada wasit Papua saat ini di ISL. Ini memprihatinkan. Saya harapkan ke depan, harus diperhatikan secara menyeluruh,” harapnya.***

Friday, July 30, 2010

Catatan Ringan Perjalanan Dari Kampung Metaweja, Kabupaten Mamberamo Raya - Provinsi Papua






“ Tempuh perjalanan sejauh 69 km untuk berobat anak yang sedang sakit”
Pagi itu, cuaca sangat dingin, mentari pagi perlahan mulai menampakkan wajahnya dari balik gunung kwanima, seakan takut dengan munculnya sang mentari, kabut putih yang semula menutup perkampungan metaweja,mulai lenyap dari hadapanku. Tiba-tiba terdengar suara tangisan seorang anak kecil dari balik rumah berdinding gabah yang berada di sebelah rumah tempat kami menginap, suara itu seakan memecah kesunyian pagi.
Tangisan semakin keras terdengar, seiring dengan bentakan suara seorang wanita dewasa, tampaknya seorang Ibu yang sedang membujuk anaknya agar tak menangis lagi, namun sang anak tak menghiraukan bujukkan ibunya, ia terus merengek, sehingga membuat sang Ibu menjadi resah lalu membentak anaknya.
Sejam kemudian, datanglah guide kami dan memberitahukan, kalau suara tangisan tadi adalah tangisan seorang anak benama Petu, berumur setahun lebih yang mengalami demam tinggi, sehingga ia memohon bantuan kepada kami, kalau sekiranya ada obat pada kami, untuk membantu menurunkan panas anak tersebut. Dan kebetulan aku masih menyimpan 3 butir obat generic Parasetamol, lalu aku berikan dengan petunjuk agar diberi setengahnya yang diaduk dalam sendok makan lalu memberi minum obat itu kepada Petu.
“Sudah lama tidak ada petugas kesehatan di kampung ini, jadi kalau ada orang yang sakit, kami akan berusaha membawanya ke Kasonaweja ( Ibukota Kabupaten Mamberamo Raya)” ungkap Panus Sawai, seorang penginjil yang telah mengabdi hamper 19 tahun di wilayah kepala air sungai Apawer, termasuk di Kampung Metaweja, tempat asalnya.
Panus mengungkapkan, bukan hanya Petu yang sakit, tetapi ibunya juga dalam keadaan sakit, sepertinya gejala sakit malaria, sehingga ia menyarankan untuk segera bergegas menuju Kasonaweja. Kebetulan pada saat yang bersamaan, kamipun akan meninggalkan Metaweja menuju Kasonaweja, jadi pasien kecil ini bersama ibunya, atas pertimbangan Panus, akan ikut dalam rombongan kami berjalan menuju Kasonaweja, dengan menempuh perjalanan kurang lebih 69 km menyusuri sungai dan hutan selama tiga hari perjalanan untuk bisa tiba di Kasonaweja.
Bukan hanya Petu dan Ibunya, bersama kami, ada juga Hans Soromoja, salah satu porter kami yang mengalami hal yang sama. Remaja kelas II SMA ini juga mengalami demam tinggi. “ Saya tidak mau tinggal di sini, lebih baik saya ke Kasonaweja, supaya bisa dapat obat,” ujar Hans, ketika ia disarankan untuk tinggal, karena demam tinggi yang dialaminya.
Hans disarankan untuk tinggal bukan tanpa alas an, karena perjalanan yang akan ditempuh ini dikuatirkan sangat beresiko memperparah keadaannya, karena perjalanan ini selain jauh ( 69 Km ), jalannya juga tak mulus, yakni jalan di atas bebatuan tajam, puluhan bahkan ratusan kali masuk dan keluar menyeberangi sungai, panasnya terik matahari, kekuatiran akan turunnya hujan dan banjir, hingga resiko lainnya.
Tetapi bagi Hans, Petu dan Ibundanya, ancaman itu bukanlah hal yang baru, tetapi sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup mereka di Metaweja. Hans bahkan menyebut diri mereka adalah “anak batu”, artinya mereka tumbuh dan besar dalam kondisi alam seperti itu, jadi tajamnya batu kali dan resiko lainnya, sama sekali tidak membuat telapak kaki mereka pilu, karena telah terbiasa.
Aku mencoba melepas sepatu boat dan meniru langkah mereka dengan berjalan tanpa sepatu, aku tak sanggup ketika melangkah sekitar 100 meter, belum lagi melewati hutan yang dipenuhi lintah, aku melihat punggung kaki hingga betis mereka ditumpuki lintah pengisap darah, ketika lintah itu dibersihkan, tampak kaki mereka seperti diiris-iris dengan silet, terlihat darah segar membasahi punggung kaki dan betis kaki mereka, tetapi itu dianggap biasa-biasa saja.
Ketika dalam perjalanan, Panus mengungkapkan, bahwa obat parasetamol yang aku berikan, ternyata manjur, sehingga demam yang dialami Petu sang pasien kecil sudah menurun dan kondisi Petu sedang dalam keadaan baik, demikian pula dengan Ibunya. Sementara Hans, hanya menghangatkan tubuhnya dekat api yang menyala, ketika kami sedang beristirahat dan bermalam dalam perjalanan itu. Kondisi Hans, benar-benar membuat aku panic,karena terlihat jelas ia menahan rasa sakit itu, tetapi disisi lain, aku melihatnya sebagai seorang remaja yang kuat, meski dalam kondisi demikian, ia mampu bertahan hingga kami tiba di Kasonaweja.
Tetapi yang aku salut, meski perjalanan itu jauh dan ditempuh dalam waktu tiga hari berjalan kaki, namun aku merasa seperti sedang berwisata di hutan dengan guide-guide local yang luar biasa. Tim di bagi dua, satunya jalan mendahului guna menyiapkan makan ala kadarnya, sementara tim lainnya mengawal aku dan temanku berjalan di belakang. Ketika tiba pada suatu titik, aku sering terkejut, karena selalu ada kejutan yang melegahkan hati yang dilakukan oleh tim pertama.
Mereka seakan mengetahui apa yang sedang aku rasakan. Ketika haus, tiba-tiba di depan jalan sudah ada air kelapa muda, ketika perut keroncongan, di depan jalan sudah di siapkan makan ala kadarnya, berupa daging hasil buruan dan pisang yang dibakar. Ketika kepanasan, diajak berendam dalam air sungai, sambil menyelam mencari ikan dengan sumpit, jika dapat, kami membakar lalu menikmatinya bersama. Hingga gelap menghampiri, kamipun membaringkan tubuh dalam bevak sempit, menanti esok untuk kembali melanjutkan perjalanan.
Sejak terbentuknya pemerintahan kampong definitive pada pertengahan tahun 80-an, masyarakat di kampong ini, tak pernah menikmati pelayanan pendidikan dan kesehatan. Beruntung ada niat baik dari para penginjil yang mengajarkan bahasa Indonesia, baca dan tulis, sehingga masyarakat di Kampung ini, kecuali kaum perempuan, sudah fasi berbahasa Indonesia. Bangunan sekolah SD ( 2 ruang kelas ), baru dibangun tahun 2008 lalu oleh Pemerintahan sementara Kabupaten Mamberamo Raya, sementara pembangunan dibidang kesehatan, baik fisik maupun pelayanan kesehatan tidak pernah ada hingga saat ini.
Meskipun pada tahun 2001 telah diberlakukan otonomi khusus bagi Provinsi Papua dengan kucuran dana bertriliunan rupiah, namun sangat disayangkan melihat kondisi yang dialami masyarakat di Kampung Metaweja. Ironisnya lagi, sejak terbentuknya Kabupaten Mamberamo Raya pada tahun 2008, sejumlah bantuan dana yang diberikan Pemerintah, melalui program Respek dan Pemberdayaan Kampung dengan dana mencapai Rp 300 Juta per tahun, tidak jelas penggunaannya.
Sekadar diketahui, rata-rata penduduk di Kampung Metaweja berprofesi sebagai petani dan peramu, sehingga setiap harinya, mereka selalu bergelut dengan kebun untuk menanam pisang dan umbi-umbian, menokok sagu dan berburu binatang hutan, seperti Babi, Tikus Tanah, Lao-lao, Soa-soa, burung dan mencari ikan dan udang yang berada di kali-kali yang mengalir di sekitar wilayah mereka.
Mata pencaharian mereka nyaris tidak ada yang dapat dijual ke pasar, hanya tanaman Pinang dan Kakao yang sedikit membantu mereka untuk mendapatkan uang, namun hal itu tidak berlangsung secara kontinyu, kondisi ini diakibatkan oleh letak Kampung Metaweja yang jauh dari pusat pasar di Kasonaweja, sebagaimana di sebutkan di atas, butuh waktu 3 hari untuk berjalan kaki dari Metaweja ke Kasonaweja, hal ini tentu sangat memberatkan bagi masyarakat. Beban yang sanggup dipikul hingga ke kasonaweja, berdasarkan pengamatan kami, tidak lebih dari 20 kilogram per orang dewasa.
Pinang merupakan barang yang sering di pikul dari Metaweja ke Kasonaweja untuk di jual, sekali jalan, mereka sanggup membawa 10 oki pinang ( 20 Kg ), satu oki pinang, biasa dijual dengan harga Rp 250.000 hingga Rp 300.000,- . Jika 20 kg pinang itu di jual, maka bisa diperoleh uang sebesar Rp 3 Juta. Namun, dari pengamatan dan hasil wawancara, 20 kg pinang yang di bawah dari Metaweja, setengahnya di bagi kepada kerabat atau untuk konsumsi sendiri, setengahnya lagi di jual, sehingga kemungkinan, mereka biasa mendapatkan uang dari hasil penjualan pinang adalah kurang lebih Rp 1 – 1,5 Juta.
Selain itu, ada tanaman Kakao yang baru dua kali di pasarkan ke Sarmi, oleh Panus Sawai,penginjil di Metaweja ini. Harga Kakao saat itu di jual per kilogramnya Rp 10.000,-. Ada 100 kg yang di bawah saat itu, sehingga ia mendapatkan uang Rp 1 Juta, namun, hamper ratusan lebih uang yang dia tebus untuk membayar biaya perjalanan, terutama menanggung bensin. Seperti diketahui, rute pulang pergi dari Tamaja ( Apawer ) ke Sarmi membutuhkan 400 liter bensin campur, yang mana harga bensin campur per liternya Rp 15 ribu di Apawer dan Rp 8000 di Sarmi.Setelah sukses dengan penjualan perdana, Panus kembali memanen 300 Kg, dan berupaya membawanya ke Sarmi, dijual kepada penadah kakao di Sarmi, hasilnya cukup menggemberikan, dirinya bisa membeli beras dan alat-alat dapur lainnya untuk membahagiakan sang anak dan istrinya.
Tapi setelah itu, niat Panus untuk kembali menjual Kakao ke Sarmi terbentur pada masalah perahu dan bahan bakar, padahal dirinya sudah memanen sekitar 100 kg Kakao, akibatnya dirinya hanya pasrah melihat kakaonya yang rusak. Demikian halnya tanaman Kakao yang ada di kebun sudah siap panen, namun dirinya enggan untuk memanen, karena terbentur pada masalah transportasi tadi. Dari pengamatan kami, nampak kondisi tersebut sangat memprihatinkan, semua kakao di kebun sudah masak, bahkan ada yang menjadi busuk dan kering berwarna hitam, panus hanya pasrah saja melihat kondisi kebun kakaonya.
Secara administrative, Kampung Metaweja berada dalam pemerintahan Distrik Mamberamo Tengah Kabupaten Mamberamo Raya, Provinsi Papua. Kampung ini berada diantara beberapa kampung, antara lain :
- Sebelah Utara berbatasan dengan wilayah administrative Kampung Tamaja ( Sarmi )
- Sebelah Selatan berbatasan dengan wilayah Sormoja gunung dan wilayah Marinavalen
- Sebelah Barat berbatasan dengan wilayah Kampung Mrumere
- Sebelah Timur berbatasan dengan wilayah Kampung Sasaupece dan Kampung Babija
Kampung Metaweja berada pada koordinat 02017’59.5” Lintang Selatan dan 138021’04.4” Bujur Timur atau berada kurang lebih 50 km arah timur dari Kasonaweja, yang kini menjadi pusat pemerintahan sementara Kabupaten Mamberamo Raya.
Perjalanan terdekat ke kampung Metaweja dapat ditempuh dengan transportasi sungai lewat sungai Apawer, kemudian menyusuri kali wire dan kali Omeri. Namun, rute ini sangat ditentukan oleh keadaan sungai Apawer, jika curah hujan tinggi dan terjadi peningkatan air sungai, maka memungkinkan bagi alat transportasi untuk menuju ke Kampung Metaweja, sebaliknya, jika curah hujan rendah atau sedang, maka rute tersebut tidak bisa dilewati. Waktu yang dibutuhkan untuk sampai di Kampung ini, andaikan kondisi air sungai sedang naik, adalah kurang lebih 3 hari perjalanan dari muara Apawer, sedangkan dari Distrik Aurimi ( Lokasi lapangan terbang terdekat ) hanya sehari.
Jalur lainnya, yaitu lewat sungai Mamberamo, kemudian masuk lewat muara kali kuama atau bisa lewat kampung Mrumere atau kampung Marinavalen, dan berjalan kaki sejauh 57 km kearah timur. Jalur ini, butuh waktu 2- 3 hari untuk sampai di Kampung Metaweja.
Dari kedua rute tersebut di atas, yang sering digunakan masyarakat adalah rute ke-dua melalui Kasonaweja, karena rute ini yang dianggap paling cepat dan aman untuk bisa sampai di Kasonaweja ataupun sebaliknya.
Kebetulan rute ini yang kami lewati, dimana waktu yang kami butuhkan adalah 3 hari berjalan kaki. Dari kasonaweja menggunakan speedboat menuju muara Kuama butuh waktu 30 menit, lalu berjalan kaki sejauh 57 km ke arah timur, dengan rata-rata perjalanan per hari adalah 5 jam.
( Alberth Yomo/ staf peneliti Yayasan Lingkungan Hidup Papua )