Sabtu, 03 November 2012

Tonny Tesar : Kebersamaan sebagai satu rumpun yang memiliki kedekatan emosional



Bupati se-kawasan teluk Cenderawasih

Tonny Tesar
Bupati Kabupaten Kepulauan Yapen, Tonny Tesar,S.Sos memberikan apresiasi yang tinggi kepada semua Bupati se-kawasan teluk Cenderawasih yang sepakat menetapkan Kabupaten Kepulauan Yapen sebagai tuan rumah penyelenggaraan pertemuan Bupati se-Kawasan Teluk Cenderawasih yang pertama.
Pertemuan ini, kata Tonny, merupakan langkah awal untuk menyamakan persepsi langkah kebersamaan sebagai satu rumpun yang memiliki kedekatan emosional, baik sebagai kedekatan kultural, budaya maupun sosial bahkan potensi alam yang sangat menjanjikan untuk diolah secara bersama demi untuk mensejahterakan masyarakat kita.
Pertemuan sekaligus konsolidasi Bupati se-kawasan teluk Cenderawasih ini mengusung thema Merintis kerjasama wilayah dalam rangkah percepatan pembangunan di kawasan teluk cenderawasih.
“Sudah saatnya sebagai bagian dari kawasan teluk Cenderawasih, kita sudah harus berpikir bagaimana membangun kawasan ini agar cepat tumbuh dan berkembang seperti wilayah lain di Indonesia,”ungkap Tonny Tesar, di graha silas papare, Jumat(2/11).
Membangun kawasan teluk Cenderawasih,kata Tonny, akan diperhadapkan pada berbagai permasalahan yang antara lain,yang pertama, belum optimalnya sumber daya manusia, baik dari kualitas maupun kuantitas dalam upaya memanfaatkan potensi sumber daya alam yang begitu besar.
kedua, keterbatasan sektor transportasi, baik transportasi  laut, udara maupun darat, sehingga kelancaran angkutan barang dan orang menjadi terhambat dan mahal.
Tiga, belum termanfaatkannya potensi pasar dan pemasaran yang ada.ke-empat, pemanfaatan hutan  produksi yang melebihi daya dukung lingkungan, sehingga mengganggu fungsi hutan lindung yang ditetapkan. Lima, terjadi konflik sosial menjadi kendala dalam pengembangan potensi budaya yang ada.
Dengan menyimak permasalahan di atas maka tentunya kita masing-masing membangun secara sendiri-sendiri dengan mempertahankan egoisme kedaerahan dengan tidak terkoordinasi secara baik, maka harapan untuk membangun masa depan akan sulit untuk dicapai.
Karena itu, Tonny mengajak semua pimpinan daerah dalam kawaasan teluk Cenderawasih untuk bersatu dan bergandengan tangan membangun kerjasama untuk maju dan berkembangnya daerah teluk Cenderawasih.
Bentuk dan mekanisme percepatan kerjasama wilayah atau daerah ini telah didukung dengan berbagai Undang-Undang dan peraturan, yang antara lain, Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 Tentang Otonomi Khusus Papua, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan kerjasama antar  daerah yang diatur secara tegas dan jelas pada bab IX pasal 195 dan 197,  Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang penataan ruang kerjasama antar daerah yang diamanatkan dalam pasal 47 ayat 1 dan pasal 54 ayat 1. Peraturan Pemerintah nomor 50 tahun 2007 tentang tata cara kerjasama daerah dan Permendagri nomor 69 tahun 2007 tentang kerjasama wilayah perkotaan.
Bertolak dari pemahaman ketentuan peraturan dan perundang-undangan tersebut, maka dasar pemikiran yang muncul adalah, bahwa pembangunan suatu daerah berpengaruh kepada daerah lain. Tetapi pengaruh yang terjadi, bisa bersifat positif, tapi juga bisa bersifat negatif. Untuk itu, dibutuhkan koordinasi antar daerah sehingga pembangunan dari setiap daerah, selain mempunyai implikasi positif menaikan biaya pembangunan, juga dapat dilakukan di berbagai tingkatan kerjasama, antara lain kerjasama perencanaan keuangan, kerjasama perencanaan pembangunan dan kerjasama pembangunan. Dengan demikian, prioritas kebijakan pembangunan kawasan yang kita rencanakan harus diarahkan untuk mengurangi ketertimpangan wilayah dengan menerapkan  5 pemikiran strategis sebagai berikut :
1. Mendorong percepatan pembangunan wilayah-wilayah strategis dan cepat tumbuh yang selama ini masih belum berkembang secara optimal sehingga dapat menjadi motor penggerak bagi wilayah-wilayah tertinggal sekitarnya dan suatu sistem wilayah pengembangan ekonomi yang sangat strategis.
2. Meningkatkan keberpihakkan Pemerintah untuk mengembangkan wilayah-wilayah tertinggal dan terpencil sehingga wilayah-wilayah tersebut dapat tumbuh dan berkembang lebih cepat dan dapat mengejar ketertinggalan pembangunan dari daerah lain.
3. Mengembangkan wilayah-wilayah perbatasan sehingga kawasan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pintu gerbang aktifitas ekonomi dan perdagangan dengan negara tetangga.
4. Menyeimbangkan pertumbuhan pembangunan antar kota.
5. Meningkatkan keterkaitan kegiatan ekonomi yang berada di wilayah Kampung dan perkotaan.
Pertemuan ini dilaksanakan karena banyak hal yang harus dibicarakan. Kita merasa mempunyai kepentingan yang sama dalam upaya mempercapat pembangunan di daerah kita masing-masing. Perlu kita sadari bahwa daerah kita tergolong daerah tertinggal. Ketertinggalan daerah ini merupakan tantangan yang harus  dicari jalan keluarnya, jika kita mempunyai harapan untuk maju seperti daerah lain untuk mengejar ketertinggalan ini perlu adanya terobosan baru yang harus diperjuangkan sebagai wujud kerjasama antar  daerah dalam bentuk program dan kegiatan yang nyata. Tetapi kita juga harus pahami bersama-sama, bahwa pertemuan pertama ini belum bisa menghasilkan suatu rencana yang kongkrit. Namun masih merupakan penyampaian gagasan atau ide yang akan dijadikan sebagai bahan diskusi lebih lanjut. terutama perlu dikaji kembali hasil kesepakatan tentang pembentukkan  atau wadah asosiasi agar pertemuan kita nanti  sesuai dengan peraturan Undang-Undang yang berlaku, perlu kita rumuskan rencana yang lebih baik lagi pada pertemuan-pertemuan dalam rangka untuk memantapkan rencana kerjasama pembangunan kawasan serta mengevaluasi sejauh  mana aspirasi pemekaran daerah otonomi baru, pembentukan Provinsi Papua Tengah.
Dengan  demikian, diharapkan akhir dari pertemuan ini dapat menghasilkan beberapa kesepakatan sebagai tindak lanjut guna mewujudkan cita-cita dan harapan yang mulia ini.(alberth yomo)

Bupati Biak Numfor Pimpin BKADK Teluk Cenderawasih Papua


Penandatanganan kesepakatan 4 Bupati se-wilayah Teluk Cenderawasih

Yusuf Melianus Maryen
“Saatnya Orang Saireri Bangkit dan Memperjuangkan Percepatan Pembangunan Teluk Cenderawasih”

Bupati Kabupaten Biak Numfor, Yusuf Melianus Maryen mengatakan, makanan lezat dan bergizi sudah terhampar di meja makan, namun jika tidak ada tindakan untuk menggerakan tangan lalu mengambilnya serta memasukkan dalam mulut, maka makanan lezat itu tak ada manfaatnya dan perut akan kosong dan terasa lapar. Jika tidak bergerak juga untuk menyentuhnya, maka tubuh semakin lemas dan akhirnya mati.
Filosofi inilah yang kemudian menggema dalam sanubari Yusuf Melianus Maryen serta putra-putri terbaik lainnya di kawasan teluk Cenderawasih dari Pulau Papua ini ( Biak Numfor, kepulauan Yapen dan Waropen ), sehingga lahirlah semangat untuk bersatu dalam suatu perkumpulan, guna membangun kawasan teluk Cenderawasih yang kaya akan sumber daya alam ini menjadi lebih maju dan setara dengan daerah lainnya di Indonesia.
Seperti baru terbangun dari tidur yang panjang, kesadaran sebagai satu suku bangsa yang memiliki kesamaan-kesamaan sejarah dalam satu wilayah teritorial yang saling berhubungan erat satu dan lainnya, baru muncul di awal tahun 2012 lalu. Berawal dari pertemuan Musrenbang khusus di kota karang panas Biak, ide untuk bersatu ini muncul, dan akhirnya baru diwujudkan pada 2 November 2012 di Kota Serui yang juga dikenal sebagai Kota Perjuangan.
Di kota perjuangan inilah, 4 Bupati ( Yusuf Melianus Maryen Bupati Biak Numfor, Tonny Tesar Bupati Kepulauan Yapen, Yesaya Buiney Bupati Waropen dan Fred Manufandu Bupati Supiori ) sebagai pemimpin daerah dalam kawasan teluk Cenderawasih Papua ini duduk bersama, menyatukan pikiran-pikiran mereka yang akan disumbangkan bagi kemajuan daerah dan masyarakat di dalam kawasan teluk Cenderawasih. Bukan hanya 4 Bupati, ternyata respon yang luar biasa juga diberikan oleh 4 pimpinan anggota DPRD dari masing-masing daerah di teluk Cenderawasih.
Pada Jumat, 2 november 2012, Graha Silas Papare menjadi saksi bisu pertemuan penting itu. Suatu pertemuan penting dari orang-orang penting yang memimpin daerah dalam kawasan ini, suatu pertemuan yang akan menentukan nasib dan masa depan rakyat dalam kawasan teluk Cenderawasih menuju kemandirian dan kesejahteraan.
Dalam pertemuan ini, ke-4 Bupati menyampaikan pikiran-pikirannya terhadap apa yang penting untuk digaris bawahi dan selanjutnya untuk diperhatikan, baik tentang perkumpulan ini maupun tentang rencana dan program dari perkumpulan ini. Tidak hanya para bupati,para pimpinan DPRD dari 4 daerah ini juga memberikan pandangan-pandangannya untuk diperhatikan, baik sebagai lembaga maupun manfaatnya bagi masyarakat di kawasan teluk Cenderawasih.
Walaupun pertemuannya singkat dan tidak membicarakan hal-hal secara detail sebagai suatu lembaga, tetapi pertemuan ini setidaknya menjadi dasar untuk melangkah melakukan hal-hal yang besar di masa mendatang untuk masyarakat di kawasan teluk Cenderawasih.
“Biarlah setengah lusin gelas, setengah lusin sendok, setengah lusin piring kita pakai untuk membangun rumah tangga ini, dan mari kita maju bersama. Kalau kita belum mulai, kapan kita akan start. Kalau kita start, kita tidak bermimpi untuk memulai dari yang besar, tetapi kita mulai dari yang kecil. Kalau kita mulai dari yang kecil maka pasti kita menggapai yang lebih besar lagi,” tegas Yusuf Melianus Maryen yang dinobatkan secara aklamasi sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Daerah Kawasan (BKADK) Teluk Cenderawasih periode 2012-2014.
Jika perencanaan fokus pembangunan nasional akan diarahkan ke daerah lain di luar teluk Cenderawasih, maka tanggal 2 November 2012 akan dicatat sebagai hari bersejarah bagi rakyat di kawasan teluk Cenderawasih, bahwa fokus pembangunan nasional, melalui badan yang dibentuk ini, akan diarahkan juga untuk dapat dilakukan di kawasan teluk Cenderawasih.
“Tuhan telah memberikan kepada kita Matahari untuk Ia datang pada setiap pagi, dan tidak ada orang yang dapat menyangkalnya. Apakah hari ini hujan ataukah hari ini panas, dia akan tetap datang. Dan Tuhan telah menetapkan orang pintar untuk mengatakan bahwa hari ini adalah tanggal 1 Januari dan terakhir ia akan menyatakan hari ini adalah tanggal 31 Desember, “tandas Bupati Kabupaten Biak Numfor ini.
Siklus ini, kata Maryen, akan berjalan terus, tapi cuma satu saja yang penting bagi setiap orang, yaitu bahwa segala sesuatu indah pada waktunya.  Ketika kita tahu bahwa kita sama-sama adalah orang Papua, ketika kita tahu bahwa kita sama-sama orang berbudaya Saireri di kawasan teluk Cenderawasih, maka marilah kita bersatu untuk maju bersama sebagai satu kekuatan untuk membangun kawasan kita ini. (alberth yomo)

Jumat, 10 Agustus 2012

Trikora Kalah Dramatis, Venus bersua Ciput di Partai Final

Kiper Venus, Ferdi Mahuze menjadi pahlawan

Jayapura- Tim Sepak Bola Venus  dipastikan akan berhadapan dengan PS.Cigombong Putra  pada laga Final Divisi Utama Persipura, setelah pada pertandingan semifinal  sore kemarin, di lapangan Universitas Ottow dan Geisler,  tim dari Abepura ini berhasil menang 4-2 lewat adu tendangan finalti atas lawannya PS.Trikora Jaya.
Pertandingan yang dramatis ini harus diakhiri lewat adu tendangan finalti setelah kedua tim hanya bermain imbang dengan skor kaca mata selama  2x40 menit. Meskipun terjadi perpanjangan waktu 2x 10 menit, namun tidak ada gol yang tercipta, skor tetap imbang 0-0 hingga wasit meniup peluit panjang, dan adu finaltipun tidak dapat dihindari.
Tiberius Jigibalon dari PS.Trikora menjadi penendang pertama dan berhasil mengeksekusi bola dengan baik, membawa Trikora memimpin 1-0. Namun, Venus berhasil menyamakan skor menjadi 1-1 lewat eksekusi Yusak Utomo. Tanda-tanda sial mulai menimpa PS.Trikora setelah Mussa Ambolon yang tampil sebagai penendang kedua dari PS.Trikora,tidak melaksanakan tugasnya dengan baik, dimana tembakannya melambung tinggi di atas mistar gawang.
Venus kemudian memimpin dengan skor 2-1, setelah  Heskiel Nere berhasil menceploskan bola dengan baik ke gawang PS.Trikora yang dikawal Eneko Pahabol. Namun, Venus harus bersabar merayakan kemenangan itu, setelah penendang ketiga dari PS.Trikora, Yoki Pahabol, berhasil merobek  jala gawang Venus, dan skor menjadi 2-2.
Tetapi Ananias Fingkreuw yang menjadi penendang ketiga dari Venus, kembali menjalankan tugasnya dengan baik, sehingga membawa Venus kembali memimpin dengan skor 3-2. PS Trikora yang berharap agar penendang ketiganya mampu menciptakan gol, malah terbalik, hasil tembakan Otomi Gombo berhasil dimentahkan oleh kiper Venus yang dikawal Ferdi Mahuze, sehingga skor tetap 3-2 untuk Venus. Akhirnya Yudha Maniagasi yang menjadi penentu langkah Venus ke Final, setelah  tembakannya tidak mampu dijangkau Eneko Pahabol, penjaga gawang Trikora.
Skor akhir 4-2 untuk kemenangan PS.Venus Abepura. Dengan demikian, tim asal Kampkey Abepura ini akan ditantang PS.Ciput yang sehari sebelumnya telah memastikan diri di ke Final setelah mengalahkan PS.Kuskus 2-0. (yomo)

Jakcson Tiago Kantongi 12 Nama

Asisten Pelatih, Mettu Duaramuri berbagi tugas

Jayapura- Setelah melakukan pemantauan pada tahapan seleksi yang berlangsung selama seminggu di lapangan brimob Kotaraja, dan melakukan pantauan terhadap dua laga semifinal Divisi Utama Persipura, Jackson Tiago akhirnya memastikan 12 pemain untuk diusulkan ke Managemen Persipura mengikuti tahapan seleksi berikutnya bersama Persipura senior pada latihan perdana Persipura 23 Agustus mendatang.
Namun Jacksen belum bisa menyebutkan siapa nama-nama 12 pemain yang dimaksudkan itu kepada wartawan untuk dipublikasikan, karena sesuai etika, dirinya harus melapor hasil penjaringan itu kepada Manager Persipura.”Nama-nama pemain sudah ada, termasuk umur, dan nama klubnya. Tapi saya belum bisa sampaikan sekarang, karena hal ini terlebih dahulu harus saya sampaikan kepada Manager Persipura, dan Manager harus tahu dulu, barulah melalui petunjuk Manager, bisa dipublikasikan,” ungkap Jacksen.
Penjaringan yang dilakukan pelatih asal Brasil ini, awalnya hanya 6 pemain, kemudian berkembang menjadi 8 pemain, lalu terakhir 11 pemain. Namun, setelah melihat pertandingan semifinal divisi utama Persipura  sore kemarin, antara PS.Trikora versus Venus, Jackson ternyata  tertarik pada satu pemain, sehingga dirinya merekomendasikan pemain tersebut untuk dipanggil bersama 11 pemain sebelumnya untuk mengikuti tahapan seleksi berikut bersama tim senior Persipura.(yomo)

Rabu, 04 Juli 2012

e-KTP Seumur Hidup, Bagaimana Wajahku?Bagaimana Daftar PNS?



Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, Gamawan Fauzi ketika menyaksikan perekaman e-KTP di Distrik Abepura, Kota Jayapura-Papua, beberapa waktu lalu.
Ketika melakukan kunjungan kerja ke Kota Jayapura, Provinsi Papua,beberapa waktu lalu,dalam rangka Launching e-KTP di Kota Jayapura,  Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi menjelaskan secara detil manfaat e-KTP dihadapan ratusan undangan, baik dari kalangan Birokrat, Pengusaha, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Tokoh Adat, Tokoh Pemuda dan masyarakat umum lainnya. Luar biasa! itulah kesan yang aku dapatkan ketika mendengar sambutan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia selaku penggagas e-KTP ini. Selain itu, informasi lengkap tentang e-KTP ini juga disajikan pada brosur yang dibagikan kepada seluruh undangan.
Disebutkan, bahwa e-KTP atau KTP Elektronik adalah dokumen kependudukan yang memuat sistem keamanan / pengendalian baik dari sisi administrasi ataupun teknologi informasi dengan berbasis pada database kependudukan nasional.Penduduk hanya diperbolehkan memiliki 1 (satu) KTP yang tercantum Nomor Induk Kependudukan (NIK). NIK merupakan identitas tunggal setiap penduduk dan berlaku seumur hidup.
NIK  bersifat unik atau khas, tunggal dan melekat pada seseorang yang terdaftar sebagai penduduk Indonesia dan berlaku seumur hidup serta sudah dimiliki seseorang sejak bayi ketika kelahirannya didaftarkan (akte kelahiran), sedang e-KTP wajib bagi yang masuk usia 17 tahun atau kawin. “Jadi, NIK dicantumkan di e-KTP yang disimpan dalam chip e-KTP dan diterbitkan setelah penduduk mengisi biodata penduduk per keluarga (F1-01) dengan menggunakan SIAK Kabupaten/Kota.
Nomor NIK yang ada di e-KTP nantinya akan dijadikan dasar dalam penerbitan Paspor, Surat Izin Mengemudi (SIM), Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), Polis Asuransi, Sertifikat atas Hak Tanah dan penerbitan dokumen identitas lainnya (Pasal 13 UU No. 23 Tahun 2006 tentang Adminduk) Penerapan KTP berbasis NIK (Nomor Induk Kependudukan) telah sesuai dengan pasal 6 Perpres No.26 Tahun 2009 tentang Penerapan KTP berbasis Nomor Induk Kependudukan Secara Nasional Jo Perpres No. 35 Tahun 2010 tentang perubahan atas Perpres No. 26 Tahun 2009 yang berbunyi :
1. KTP berbasis NIK memuat kode keamanan dan rekaman elektronik sebagai alat verifikasi dan validasi data jati diri penduduk;
2. Rekaman elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berisi biodata, tanda tangan, pas foto, dan sidik jari tangan penduduk yang bersangkutan;
3. Rekaman seluruh sidik jari tangan penduduk disimpan dalam database kependudukan;
4. Pengambilan seluruh sidik jari tangan penduduk sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan pada saat pengajuan permohonan KTP berbasis NIK, dengan ketentuan :
Untuk WNI, dilakukan di Kecamatan; dan Untuk orang asing yang memiliki izin tinggal tetap dilakukan di Instansi Pelaksana ;
5. Rekaman sidik jari tangan penduduk yang dimuat dalam KTP berbasis NIK sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berisi sidik jari telunjuk tangan kiri dan jari telunjuk tangan kanan penduduk yang bersangkutan;
6. Rekaman seluruh sidik jari tangan penduduk sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat diakses oleh pihak-pihak yang berkepentingan sesuai dengan peraturan perundang-undangan;
7. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perekaman sidik jari diatur oleh Peraturan Menteri.

Fungsi dan kegunaan e-KTP adalah :
Selain digunakan sebagai Kartu Tanda Penduduk (KTP), manfaat dari e-KTP yaitu dapat meminimalisirkan identitas ganda dan KTP palsu. Karena di dalam kartu telah direkam data biometrik 2 sidik jari telunjuk penduduk,  iris mata dan gambar tanda tangan penduduk. Semua data itu disimpan dalam chip yang tertanam dalam kartu sebagai alat penyimpan data secara elektronik, dan alat pengamanan data (security) baik secara pembacaan, penyimpanan data maupun secara transfer data”.
Fungsinya antara lain :
1. Sebagai identitas jati diri
2. Berlaku Nasional, sehingga tidak perlu lagi membuat KTP lokal untuk pengurusan izin, pembukaan rekening Bank, dan sebagainya;
3. Mencegah KTP ganda dan pemalsuan KTP;
4. Terciptanya keakuratan data penduduk untuk mendukung program pembangunan.

Dengan mengetahui berbagai manfaat dari e-KTP dan sistem komputasinya maka masyarakat wajib mengetahui cara menjaga kartu tersebut. “e-KTP diharapkan diperlakukan seperti memperlakukan KTP yang sekarang. Jangan digunting atau dipotong pinggirnya, karena berpotensi merusak lapisan antena dan chip, tetapi masih berfungsi dengan baik apabila basah, kena air/hujan, tercelup di air.
Sampai di sini, saya tidak menyangsikan manfaat dari e-KTP, yang menurut saya, merupakan suatu terobosan penting yang patut disambut seluruh warga negara Indonesia, guna membangun kehidupan berbangsa yang tertib, termasuk perannya yang penting dalam membantu pihak kepolisian untuk mengidentifikasi pelaku-pelaku kejahatan melalui sidik jari. Disisi lain, kasus akan cepat terungkap, sisi positif yang mungkin akan timbul adalah warga menjadi takut melakukan kejahatan dan berurusan dengan hukum
Namun, Ketika membaca judul berita ini ( Kemendagri akan Implementasikan e-KTP Seumur Hidup/ Kementerian Dalam Negeri Indonesia akan mengimplementasikan kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP) seumur hidup untuk efisiensi biaya administrasi. , 03 Juli 2012 Waktu Washington, DC: 08:04/ Muliarta/ 02.07.2012/ di website VOA Indonesia.
Saya kemudian membayangkan beberapa kejadian yang pernah saya alami, terkait dengan penggunaan Kartu Tanda Penduduk (KTP)model lama. Pertama, ketika akan mendaftar sebagai PNS di Kabupaten lain, syaratnya saya harus memiliki KTP penduduk setempat. Saya pusing 7 keliling, harus menggunakan alamat mana?karena ini Kabupaten baru yang saya datangi. akhirnya ada teman yang menawarkan jasa pengurusan KTP, syaratnya hanya berikan pas photo 2 lembar, untuk nantinya ditempelkan pada KTP tersebut. Namun, karena muka saya brewokan dan tidak rapih, saya terpaksa cuci cetak foto lama ketika kuliah 10 tahun lalu."Kok, beda ya foto ini dengan wajah kamu,"? ungkap temanku ketika aku menyerahkan foto cuci cetak untuk KTP itu.
Dari cerita pengalaman ini, saya ingin mengatakan bahwa raut wajah kita saat ini, tidak akan sama dengan raut wajah 30,40 atau 50 tahun mendatang. Karena itu, apakah pantas, foto kita saat ini yang ganteng dan segar terpampang terus di e-KTP hingga 40 tahun mendatang, ketika wajah ganteng itu sudah berubah menjadi kusut dan layu?Hal berikutnya,berangkat dari cerita pengalaman di atas,  apakah Pemerintah menjamin kebebasan setiap penduduk pemegang e-KTP untuk bisa mendaftar sebagai PNS di mana saja, tanpa dibatasi oleh kewenangan daerah dan Undang-Undang Otonomi Khusus sebagaimana yang berlaku di Provinsi Papua dan Papua Barat yang mengedepankan affirmative action?
Hal lainnya yang mengganggu pikiran saya adalah, jika suatu saat, dipindahtugaskan ke Provinsi lain dalam jangka waktu yang lama, kemudian akan mengurus hal-hal lain dengan pihak Bank, apakah pihak Bank akan menerima alamat kita yang berbeda dengan yang tertera pada e-KTP seumur hidup yang ketika proses pembuatannya, menggunakan alamat lama atau alamat sebelumnya? Selain itu, ketika dilakukan pemilihan umum kepala daerah,entah Gubernur atau Bupati,bagaimana peran kita sebagai pendatang baru di wilayah pemilihan itu?apakah e-KTP seumur hidup dapat membantu?
Menurut hemat saya, jangan dulu terburu-buru untuk memutuskan e-KTP ini berlaku seumur hidup, karena sistem lainnya belum sepenuhnya mendukung atau sejalan dengan tujuan e-KTP. Atau bisa juga diberlakukan seumur hidup, asalkan sistem lainnya siap dan mendukung, tidak bermasalah dan tidak menghambat mobilisasi masyarakat dalam proses pembangunan. 
Saya sependapat dengan Wakil Bupati Jembrana Bali, I Made Kembang Hartawan yang menyatakan mendukung rencana penerapan kebijakan e-KTP yang berlaku seumur hidup. Penerapan e-KTP yang berlaku seumur hidup karena lebih efisien dari segi waktu dan biaya adminitrasi.Cuma belum lihat dampak dan kendalanya.(alberth yomo)

Sabtu, 23 Juni 2012

Aku Bangga, Ayahku Penata Tari Tradisional


Ayah, diantara mereka yang muda
Ayah, mencintai tarian tradisional, mengajak generasi muda, agar tidak melupakan seni budayanya

Sabtu (16/6) pagi itu cuaca sangat cerah, aku memutuskan untuk pulang kampung ( Desa ) menengok ayah, ibu serta adik dan beberapa keponakkanku yang lucu-lucu. Karena, semenjak aku menikah dan sudah bekerja, bersama istri dan anakku, kami menetap di Abepura, Kota Jayapura, Provinsi Papua, sehingga sangat jarang berkunjung ke kampung Ayapo,tempat kelahiranku untuk menengok ayah dan ibu, walau hari libur sekalipun. Padahal, jarak antara tempat tinggalku di Kota dan kampung Ayapo di pinggiran Danau Sentani, kurang lebih 15 kilometer, dan bisa ditempuh dalam waktu 30 menit.
Penerimaan sinyal televisi maupun sinyal telepon seluler sangat baik di kampungku ini, tapi aku sengaja tak menelepon kedua orangtuaku memberitahukan rencana kedatanganku itu. Hal itu aku lakukan, karena tidak ingin merepotkan ibu menyiapkan makanan kesukaanku, karena begitulah kebiasaan ibuku kalau tau aku akan datang.
Aku berangkat  sendiri jam 9.00 Wit menggunakan motor beat kesayanganku menuju Sentani, karena jalan tak begitu ramai dengan kendaraan, hanya 20 menit, aku tiba di pantai Khalkote, dermaga penyeberangan speedboat ke kampungku. Karena aku ingin cepat, maka aku mencarter speedboat Rp 50 Ribu mengantarku ke kampung, dan hanya 10 menit, aku sudah tiba di kampung Ayapo.
Ibuku kaget melihat kedatanganku. “ Kenapa tidak kase tau (beritahu) mama, kalau mau ke kampung?seru ibuku, sambil mengeluh, kalau di rumah lagi tidak ada sagu dan ikan, cuma nasi dan sayur labu yang sudah siap disantap. Mamaku ngomong begitu, karena tahu, kalau aku paling suka makan papeda dan ikan, baik yang dibakar atau dikuah kuningkan.
Bapa di mana?sahutku, lalu mamaku menjelaskan, kalau Ayahku sedang sibuk mempersiapkan pakaian tarian dan beberapa bahan dan alat lainnya untuk dipakai seorang penari, saat pementasan di pembukaan Festival Danau Sentani, Selasa (19/6) yang tinggal dua hari lagi.” Itu bapa lagi di belakang sana ( belakang rumah ),” seru ibuku. Lalu aku berjalan melihat apa yang sedang dikerjakan Ayahku, ternyata Ayah sedang membentuk sebuah cawat atau rumba-rumbai (pakaian bawah penari laki-laki ) yang terbuat dari kulit kayu yang sudah diurai menjadi tali-tali halus.
Dengan senyumnya yang khas, Ayah melepaskan pekerjaannya yang sudah hampir selesai itu, dan menatapku.”Mehemakhai  khelfa?haugi waneng?,”tanya Ayahku dengan Bahasa Sentani yang artinya; Bagaimana anakku(laki-laki), ada sesuatu yang membuat, sampai kamu datang ke kampung?.” Nasong-song yaa...haugibaamm ( Saya cuma jalan-jalan aja, bukan karena ada sesuatu),” balasku.
Sambil memandang ke arah pakaian penari yang hampir diselesaikan, Ayah mengungkapkan, kalau bapa akan memimpin 60 penari muda dari kampung untuk meramaikan tarian perang di atas air ( Felabhe ),pada pembukaan Festival Danau Sentani V di khalkote, Sentani- Papua.  karena itu, Ayahku siapkan segala aksesoris yang akan digunakan pada acara tersebut.
“Tarian perang ( Felabhe) ini, akan diikuti oleh ratusan penari dari 24 kampung ( desa ) di Danau Sentani, dan kita dari kampung Ayapo akan mengikutsertakan 60 penari muda, yang terdiri dari pelajar SMP dan SMA, bapa sudah cek kesiapan semua peserta, mereka siap tampil dan mempersembahkan yang terbaik, demi budaya Sentani ini tetap lestari,”ujar Ayahku.
Kata Ayahku, tarian ini(felabhe) memang sudah lama tidak diangkat, jadi ini merupakan kesempatan yang baik bagi kita orang tua, untuk menunjukkan kepada anak muda generasi baru yang ada di danau sentani, bahwa inilah tarian kita, tarian perang yang memiliki semangat luar biasa, yang dapat mengalahkan lawan-lawan, dan semangat inilah yang harus terus terpatri di dada generasi muda, untuk tetap menjaga dan melestarikan budaya kita. Setelah berdiskusi dengan Ayah dan Ibu, serta bercanda ria dengan dua keponakkanku, aku minta pamit untuk kembali ke kota, lalu Ayah berpesan, agar pada pembukaan FDS V, dapat meluangkan waktu untuk menyaksikan atraksi demi atraksi yang akan dipersembahkan oleh orang-orang Sentani.
Pada Selasa(19/6), jam di dinding menunjukkan pukul 08.45 Wit, aku berangkat dari Abepura menuju Sentani, dan tiba jam 9.15 Wit di pantai Khalkote, pusat kegiatan FDS V. Seremonial pembukaan belum mulai, tetapi pantai khalkote itu sudah dipadati masyarakat dari berbagai tempat, berbagai daerah, berbagai suku dan beberapa turis dari luar negeri.
Tepat jam 10.00 Wit, seremonial pembukaan FDS V dimulai, diawali oleh laporan Ketua Panitia, kemudian dilanjutkan sambutan seorang kepala suku dari sentani, setelah itu, sambutan penjabat Bupati Kabupaten Jayapura, dan sambutan terakhir disampaikan oleh Menteri Pariwisata Indonesia yang diwakili oleh salah satu Dirjennya, sekaligus membuka dengan resmi dimulainya Festival danau Sentani V itu.
Siang itu, matahari bersinar terlalu terik. Namun hal itu tak menyurutkan semangat warga di sekitar Danau Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, untuk melangsungkan Felabhe. Tari perang ini menjadi pembuka Festival Danau Sentani 2012. Salah satu alasan mereka memenuhi tempat ini adalah Felabhe. Ini adalah tari perang khas masyarakat di sekitar Danau Sentani.
Seorang penyanyi mulai melantunkan lagu adat berirama menghentak. Awalnya, pandangan saya tertuju pada seorang pemimpin perang yang mengenakan Khombou, pakaian adat Papua dengan rok berbahan jerami. Sang pemimpin perang membawa tombak panjang, berjalan di jembatan sambil menghentakkan kaki sesuai irama.
Tiba-tiba, muncullah kapal-kapal dari kejauhan. Ada sekitar 7-8 kapal yang membelah Danau Sentani, menuju ke arah para penonton di Kalkhote. Ada lebih dari 500 orang yang memenuhi kapal-kapal itu. Mereka berasal dari 24 desa berbeda di sekitar Danau Sentani.
Kapal-kapal itu seluruhnya berisi pria, yang juga mengenakan Khombou. Ada yang membawa tombak, ada pula yang memegang busur panah. Mereka ikut menyanyi lagu adat, mengarahkan busur panah ke berbagai arah. Lalu sinar matahari yang sangat terik itu menjadi salah satu bagian perpaduan yang apik: tarian, nyanyian, danau, langit biru, serta bukit-bukit hijau yang melatarbelakangi mereka semua. Indah.
Satu per satu kapal bersandar ke jembatan. Para pasukan perang pun turun dan mulai melakukan gerakan yang sama dengan sang pemimpin: menyanyi sambil menghentakkan kaki. Rupanya tak hanya lelaki dewasa, tapi juga anak-anak yang sangat lucu dan sumringah, mengacung-acungkan tombak kayu sesuai ukuran tubuh mereka.
Jembatan kayu itu lalu penuh oleh para pasukan perang. Dengan aba-aba, mereka berlari menuju depan panggung utama yang sebelumnya digunakan untuk pembukaan FDS. Sambil menyanyi dan menari, mereka membentuk barisan. Irama lagu pun semakin lama semakin cepat. Mereka menari cukup lama, sekitar setengah jam.
Dalam salah satu barisan para penari itu, mataku menangkap salah seorang pria paruh bayah yang umurnya 57 tahun, kepalanya gundul, mengenakan anyaman daun kelapa muda melingkari kepala. Mukanya dicoret-coret dengan arang, demikian pula di badannya, dan mengenakan khombou, serta ditangannya memegang busur dan sebuah anak panah dari kayu, bergoyang sambil menyanyikan lagu khas untuk felabhe yang seirama dengan 500 penari lainnya. Ternyata, pria paruh baya itu adalah Ayahku,seorang pria tua yang berada diantara 60 penari muda dari kampung kami.Seperti tak merasakan pilunya sengatan matahari, ayahku tetap bersemangat hingga bermandikan keringat.
Aku tertegun melihat penampilan Ayahku yang begitu luar biasa, bersemangat dan tidak mengenal lelah, tidak merasakan perihnya sengatan matahari. Namun, yang ada diwajah Ayahku adalah berbagi senyum dengan penari lainnya, seperti sedang bermain-main dalam sebuah latihan perang. Luar biasa Ayahku, diantara mereka yang muda, tetap bersemangat, mencintai budaya dan seni tari tradisional kita. Dalam hati, aku katakan, Aku bangga padamu Ayah.
Para wisatawan tak menyia-nyiakan hal ini dengan cara berfoto bersama. Para penari pun dengan ramah meminjamkan tombak atau busur panah mereka. Saat aba-aba kembali diteriakkan, mereka semua kembali berlari ke jembatan.
"Sekali pun aku mati, aku tak akan menyesal jadi orang Sentani!" teriak penyanyi yang memberi aba-aba barusan. Kalimat yang diteriakkan itu berhasil jadi suplemen bagi para pasukan perang. Mereka semakin semangat menari, walaupun matahari semakin terik. Di tengah siksaan matahari itu, seketika saya merinding.
Tapi tunggu dulu, rupanya Felabhe belum selesai. Setelah kembali berbaris di jembatan, kapal-kapal lain datang dari kejauhan. Setelah kapal-kapal itu mendekat, saya pun sadar kalau isinya semua perempuan!
Rupanya tarian perang ini berakhir dengan sukacita. Para pasukan yang memenangkan perang lalu dijemput oleh wanita-wanita terkasihnya, yang mengenakan Khombou dan membawa balon warna-warni di tiap kapal. Balon warna-warni itu pun dilepas ke udara, pertanda kebahagiaan di akhir cerita.
Para pengunjung bersorak-sorai. Tak ada yang menyangka, sebuah tarian perang berujung bahagia layaknya dongeng. Namun, Felabhe menyiratkan
sebuah makna bahwa masyarakat Sentani telah berhasil melewati masa-masa sulit hingga sekarang disambut dengan sukacita oleh seluruh dunia. Tari perang yang gagah ini berhasil membuat wisatawan tepuk tangan cukup lama.( alberth yomo)


Rabu, 20 Juni 2012

Bersama Ketinting Tour Keliling Danau Sentani


















Gagahnya Felabhe, Memukau Ribuan Wisatawan

Penari Felabhe

Simulasi perang ( felabhe )oleh 500 lebih penari dari 24 kampung di danau sentani
Siang itu, matahari bersinar terlalu terik. Namun hal itu tak menyurutkan semangat warga di sekitar Danau Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, untuk melangsungkan Felabhe. Tari perang ini menjadi pembuka Festival Danau Sentani 2012.

Saya tak sangsi lagi akan anggapan bahwa Papua punya sembilan matahari. Pada Selasa (19/6/2012) kemarin, mata saya sampai sakit dibuatnya. Sepuluh menit berdiri di bawah sinar matahari lalu kulit saya mulai memerah. Namun, saya bukanlah satu-satunya orang yang merasakan siksaan matahari siang itu.

Saya berada di antara ribuan orang yang menghadiri pembukaan Festival Danau Sentani (FDS) 2012. Warga lokal, pemerintah daerah, juga wisatawan domestik dan mancanegara berbondong-bondong memenuhi Kawasan Wisata Kalkhote Danau Sentani yang terletak di Kabupaten Jayapura, Papua.

Salah satu alasan mereka memenuhi tempat ini adalah Felabhe. Ini adalah tari perang khas masyarakat di sekitar Danau Sentani. Konon, kegagahan tari ini menggaet banyak wisatawan dari luar negeri. 

Seorang penyanyi mulai melantunkan lagu adat berirama menghentak. Awalnya, pandangan saya tertuju pada seorang pemimpin perang yang mengenakan Khombou, pakaian adat Papua dengan rok berbahan jerami. Sang pemimpin perang membawa tombak panjang, berjalan di jembatan sambil menghentakkan kaki sesuai irama.

Tiba-tiba, muncullah kapal-kapal dari kejauhan. Ada sekitar 7-8 kapal yang membelah Danau Sentani, menuju ke arah para penonton di Kalkhote. Ada lebih dari 500 orang yang memenuhi kapal-kapal itu. Mereka berasal dari 24 desa berbeda di sekitar Danau Sentani.

Kapal-kapal itu seluruhnya berisi pria, yang juga mengenakan Khombou. Ada yang membawa tombak, ada pula yang memegang busur panah. Mereka ikut menyanyi lagu adat, mengarahkan busur panah ke berbagai arah. Lalu sinar matahari yang sangat terik itu menjadi salah satu bagian perpaduan yang apik: tarian, nyanyian, danau, langit biru, serta bukit-bukit hijau yang melatarbelakangi mereka semua. Indah.

Satu per satu kapal bersandar ke jembatan. Para pasukan perang pun turun dan mulai melakukan gerakan yang sama dengan sang pemimpin: menyanyi sambil menghentakkan kaki. Rupanya tak hanya lelaki dewasa, tapi juga anak-anak yang sangat lucu dan sumringah, mengacung-acungkan tombak kayu sesuai ukuran tubuh mereka.

Jembatan kayu itu lalu penuh oleh para pasukan perang. Dengan aba-aba, mereka berlari menuju depan panggung utama yang sebelumnya digunakan untuk pembukaan FDS. Sambil menyanyi dan menari, mereka membentuk barisan. Irama lagu pun semakin lama semakin cepat. Mereka menari cukup lama, sekitar setengah jam.

Para wisatawan tak menyia-nyiakan hal ini dengan cara berfoto bersama. Para penari pun dengan ramah meminjamkan tombak atau busur panah mereka. Saat aba-aba kembali diteriakkan, mereka semua kembali berlari ke jembatan.

"Sekali pun aku mati, aku tak akan menyesal jadi orang Sentani!" teriak penyanyi yang memberi aba-aba barusan. Kalimat yang diteriakkan itu berhasil jadi suplemen bagi para pasukan perang. Mereka semakin semangat menari, walaupun matahari semakin terik. Di tengah siksaan matahari itu, seketika saya merinding.

Tapi tunggu dulu, rupanya Felabhe belum selesai. Setelah kembali berbaris di jembatan, kapal-kapal lain datang dari kejauhan. Setelah kapal-kapal itu mendekat, saya pun sadar kalau isinya semua perempuan!

Rupanya tarian perang ini berakhir dengan sukacita. Para pasukan yang memenangkan perang lalu dijemput oleh wanita-wanita terkasihnya, yang mengenakan Khombou dan membawa balon warna-warni di tiap kapal. Balon warna-warni itu pun dilepas ke udara, pertanda kebahagiaan di akhir cerita.

Para pengunjung bersorak-sorai. Tak ada yang menyangka, sebuah tarian perang berujung bahagia layaknya dongeng. Namun, Felabhe menyiratkan
sebuah makna bahwa masyarakat Sentani telah berhasil melewati masa-masa sulit hingga sekarang disambut dengan sukacita oleh seluruh dunia. Tari perang yang gagah ini berhasil membuat wisatawan tepuk tangan cukup lama.( Oleh: Sri Anindiati Nursastri - detikTravel )