Selasa, 22 Maret 2011

This is Not The Beginning, This is Not The End, But This is Just The Beginning of The Beginning

Gubernur Provinsi Papua, Barnabas Suebu,SH ketika menyaksikan penyerahan bantuan 90 laptop dari Prof. Noel Meyers mewakili The University of The Sunshine Coas, Australia kepada Kepala Dinas Pendidikan,Pemuda dan Olahraga Provinsi Papua, Drs.James Modouw,MM, di sasana krida, kemarin.

Konfrensi Guru Tahunan dalam kerangka pengayaan kurikulum dan pedagogi pembelajaran bagi guru-guru Papua, terutama guru Sains, Matematika dan Bahasa Inggris, berlangsung selama 3 hari di Sasana Krida, Kantor Gubernur,Dok II Jayapura. Pada kesempatan itu, Gubernur Provinsi Papua, Barnabas Suebu,SH,memberikan sambutannya secara langsung, berikut laporannya….

Laporan : Alberth Yomo

Gubernur Provinsi Papua, Barnabas Suebu,SH mengungkapkan bahwa langkah-langkah strategis pengembangan sumber daya manusia yang dilakukan Pemerintahannya saat ini bukanlah suatu langkah awal dan akhir, tetapi akan berlanjut dan terus berlanjut.
“Mr. Noel, This is Not The Beginning, This is Not The End, But This is Just The Beginning of The Beginning,” ucap Bas Suebu ketika memberikan sambutan di hadapan perwakilan The University of The Sunshine Coas, Australia, The Willi Toisuta & Associates dan ratusan guru pada pembukaan Konfrensi Guru Tahunan, di sasana krida, Selasa ( 22/3 ) kemarin.
Gubernur mengatakan, bahwa Pembangunan sumber daya manusia di Papua harus sesuai dengan perencanaan pendidikan yang baik, agar SDM Papua memiliki kualitas, kapasitas dan professional dalam pekerjaannya di kemudian hari.
“ Dalam hubungan itu ada 4 hal yang sedang dan akan kita kembangkan, yang pertama dan utama dalah pendidikan dalam keluarga. Anak-anak sejak hari pertama dalam kandungan ibunya, harus mendapat nutrisi dan mendapat perhatian yang baik hingga hari pertama ia masuk sekolah formal. Hanya dengan gizi dan stimulasi otak yang baik, pendidikan yang baik, anak akan tumbuh dengan sehat dan cerdas.
Hal itu yang sedang dilakukan melalui Respek,” ujar Bas Suebu.
Kedua, lanjutnya,  adalah pemerataan kesempatan belajar bagi semua anak Papua, di manapun dia berada, dalam keadaan apapun dia berada, mempunyai hak untuk mendapat pendidikan yang layak. Oleh karena itu, Pemerintah harus menyediakan fasilitas sekolah, ketersediaan guru, fasilitas sekolah mengikuti kondisi kependudukan kita.
“Ketersebaran sekolah harus mengikuti ketersebaran penduduk, supaya semua anak di Papua mendapat kesempatan yang sama untuk belajar,terutama untuk program sembilan tahun. Karena di Papua penduduk terbatas, kita harap bisa sampai sekolah umum atau sekolah kejuruan,”tandasnya
Ketiga, kata mantan Dubes RI untuk Meksiko dan Honduras ini, adalah pemerataan mutu, terutama pemerataan guru yang baik dan ketersebaran guru yang baik. Guru yang ada harus di latih dan dilatih terus.” Dalam hubungan itu, kita ada kerjasama dengan The University of The Sunshine Coas, di mana Pemerintah Provinsi Papua telah mengirim 80 guru. Kita akan kirim terus sampai 500, 1000, 2000 dan ribuan guru untuk menyiapkan mutu guru lalu disebarkan di seluruh pelosok Papua agar terjadi pemerataan pendidikan,”ungkap Bas.
Keempat, kata Bapak Respek ini,  adalah program khusus yang muncul dari kondisi kita untuk mengejar ketertinggalan kita, yang mana disiapkan anak-anak super cerdas, yang dimulai dengan matematika, fisika dan biologi, juga akan diikuti oleh bidang-bidang lainnya. Dalam rangka memunuhi program 1000 doktor 10 hingga 20 tahun yang akan datang.
“200 anak sudah dikirim belajar di Universitas-Universitas terbaik dunia dan yang ada di Indonesia, dan akan terus meningkat setiap tahunnya,” tandas Suebu.
Untuk program khusus Distance Learning, Pemerintah Provinsi Papua juga sudah siapkan fasilitas di semua kampong, terdiri dari parabola, televise, radio, dan sekarang sedang di rancang gedungnya di semua kampong untuk jadi pusat kegiatan ini. “Sudah terpasang di 1500 kampung, tahun ini akan tambah lagi menjadi 3000 titik di 3000 kampung,”jelasnya.
Bersinergi dengan Distance Learning itu, Pemerintah Provinsi Papua kini menjalin kerjsama dengan  The University of The Sunshine Coas untuk program One Child One Laptop ( Satu Anak Satu Laptop ), di mana satu anak di pedalaman Papua akan mendapatkan satu laptop, dan melalui laptop itulah, ia akan belajar tentang ilmu pendidikan di Indonesia maupun ilmu pengetahuan dunia.
“Untuk mendukung program ini, infrastuktur pendukungnya sudah disiapkan, baik itu Bandwidsnya dan Cyber Optik akan dipasang di Papua. Ini merupakan rangkaian persiapan untuk mendukung program E Learning For All,” ungkap Gubernur Papua ini.
Setiap anak Papua, kata Bas,  akan mendapat kesempatan belajar ilmu pengetahuan dunia tanpa batas, instan dan real time bagi semua anak Papua di semua wilayah Papua.
 “Kita akan melihat anak-anak yang jauh berada di kampong-kampung terpencil, orang tuanya masih hidup dalam keadaan telanjang, mereka akan mengakses dunia ilmu pengetahuan tanpa batas melalui laptop itu. SDM yang kita siapkan bukan saja dalam kemajuan deret hitung, tetapi juga kemajuan deret ukur dan sesudah itu kita lakukan lompatan besar ( Quantum lead ) untuk kemajuan orang Papua,” jelasnya.
Kata Bas, inilah konsep menyeluruh pengembangan SDM Papua. Dan ini bukan satu mimpi, ini sesuatu yang biasa-biasa saja, yang bisa dikerjakan sekarang ini juga.
Pada kesempatan itu, Gubernur Provinsi Papua, Barnabas Suebu,SH juga menyaksikan penyerahan 90 laptop tahap pertama dari Prof. Noel Meyers mewakili The University of The Sunshine Coas, Australia kepada Kepala Dinas Pendidikan,Pemuda dan Olahraga Provinsi Papua, Drs.James Modouw,MM untuk selanjutnya diujicobakan pada 90 anak di sekolah-sekolah SD yang ada di wilayah pilot projech.**

1 komentar:

  1. Pendidikan adalah 'basic foundation' bagi rakyat asli Papua. Pendidikan harus menjadi prioritas dan mendapatkan anggaran terbesar dalam membangun Papua

    BalasHapus