Senin, 21 Januari 2013

Mengapa Bas Suebu “Ngotot”?


Bas Suebu


Pertanyaan ini santer didengungkan oleh masyarakat Papua ketika seorang Barnabas Suebu berupaya menempuh jalur hukum lantaran para elite politik dan berbagai pihak “terusik” untuk mempersoalkan statusnya. Padahal Bas Suebu tidak pernah mengusik orang lain atau mengusik seluruh orang asli Papua di Tanah Cenderawasih ini, Bas Suebu juga tidak pernah merampas makanan dari piring orang asli Papua di tanah Papua ini.
Justru Bas Suebu ketika memutuskan untuk “Pulang Kampung” dari perjalanannya yang panjang sebagai duta besar Indonesia di negara-negara lain, karena ia memikirkan orang asli Papua yang masih tertinggal, ia memikirkan orang asli Papua yang hak-hak hidupnya tidak diperhatikan.
Ternyata Bas Suebu membuktikan itu. Sejak 5 Tahun memimpin, rakyat di kampung-kampung yang tidak pernah diperhatikan oleh negara, akhirnya mendapatkan apa yang menjadi hak mereka, baik sebagai manusia atau sebagai warga negara Indonesia maupun sebagai orang asli Papua. Apa buktinya? Tidak perlu menyebut banyak, cukup satu saja, yaitu program Respek.
Lalu apakah seorang Barnabas Suebu melakukan kesalahan ketika memutuskan untuk maju kembali sebagai calon Gubernur? Kalaupun ada masalah di Undang-Undang Pemerintahan, apakah Bas Suebu salah ketika menggunakan Undang-Undang Otonomi Khusus? Kalaupun ada yang kurang di Undang-Undang Otsus, apakah salah jika ditambahkan atau dikurangi? Lalu kenapa para wakil rakyat Papua dan tokoh-tokoh papua lainnya tidak mendukung upaya yang dilakukan Bas Suebu?Apakah karena Bas Suebu seorang penjahat? apakah Bas Suebu bukan orang asli Papua?
Sangat menyedihkan ketika melihat para tokoh Papua, para intelektual Papua dan para wakil rakyat dengan gagah berani dan mati-matian berjuang untuk menggagalkan upaya-upaya yang ditempuh oleh seorang Bas Suebu. Seakan-akan apa yang dilakukan oleh Bas Suebu adalah suatu tindakan kejahatan. Mereka secepat itu melupakan perjuangan dan kerja keras Bas Suebu untuk “tanah ini”.
Berbagai pernyataan klasik yang muncul dari mereka yang “ngotot” untuk memutus upaya-upaya yang dilakukan Bas Suebu antara lain; Bas Suebu itu tokoh nasional, dia tidak pantas menjadi Gubernur di Papua, dia itu pantas menjadi Menteri atau Wakil Presiden. Pernyataan lainnya; Bas Suebu itu tokoh Papua yang pintar dan sangat cerdas, levelnya bukan di Papua lagi, tetapi level nasional dan internasional, dan lain sebagainya. Mengacu pada pernyataan itu, logikanya bahwa kualitas Bas Suebu di atas tokoh-tokoh Papua lainnya, sehingga jika Bas Suebu menjadi Gubernur Papua, maka persoalan-persoalan di Papua bisa cepat diatasi, karena orang yang mengurusnya adalah orang yang berkualitas dan profesional. Nah, kalau Papua diurus oleh pemimpin yang tidak berkualitas, mau di bawah ke mana rakyat Papua?
Dengan demikian, alasan itu adalah suatu bentuk pembelaan diri terhadap upaya-upaya untuk membangun kekuasaan dan kekuatan baru di Papua, yang tentunya akan menguntungkan kelompok tertentu dan mengabaikan kepentingan lain yang lebih besar di Tanah Papua ini.
Mengapa Bas Suebu Ngotot? Apakah karena Bas Suebu ingin kaya raya?Apakah Bas Suebu haus kekuasaan? Jawablah sesuai tafsiran masing-masing, namun jangan lupa, sampai akhir hayat di kandung badan, Papua adalah tempat Bas Suebu dilahirkan, Papua adalah rumahnya. Jadi, ketika Bas Suebu bergelut dengan proses hukum, itu adalah haknya, karena Bas Suebu adalah warga negara Indonesia yang mempunyai hak untuk dipilih, Bas Suebu mempunyai hak konstitusional yang sama dengan warga negara Indonesia lainnya, Bas Suebu mempunyai hak untuk membela kebenaran dan mempunyai hak untuk diperlakukan secara adil oleh negara.
“ Negara ini bukan negara biadab, tetapi negara ini adalah negara hukum. Hukum tidak boleh dipermainkan, hukum tidak boleh diinjak-injak. Kebenaran itu harus ditegakkan, kebenaran tidak boleh dikalahkan oleh kekuatan apapun. Jika hukum dipermainkan dan kebenaran ditutupi, maka pasti kekacauan yang terjadi,” ungkap Bas Suebu.
Karena itu, kenapa Bas Suebu pada waktu lalu berjuang sampai ke Mahkamah Konstitusi, kemudian di awal 2013 ini memperkarakan KPUD Papua di PTUN Jayapura, lalu berlanjut ke PTUN Makassar? Tujuannya hanya satu, agar hukum dan kebenaran itu ditegakkan di Tanah Papua, sehingga rakyat Papua tidak dikatakan sebagai bangsa yang biadab.
Saya yakin, kalau ibunya Bas Suebu masih hidup, ia akan menangis dan marah besar kepada Bas Suebu. Ia akan berkata kepada Bas; Hei Bas, kenapa 5 tahun lalu ko kembali ke Papua, lebih baik ko urus ko punya diri sendiri dan keluarga, kenapa ko mau pusing dengan rakyat Papua?sekarang apa balasannya yang ko dapat dari mereka?ko berjuang sendiri mencari keadilan, sementara para wakil rakyat dan elite Papua lainnya menertawakanmu. Semoga saja, mereka yang tertawa itu tidak menangis di kemudian hari. Selamat berjuang KK Bas, Tuhan memberkati.  (ab)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar