Kamis, 28 Oktober 2010

Yang tercecer dari pelaksanaan Pemilukada di Kabupaten Mamberamo Raya

“ Anehnya, 9 kampung definitive milik Pemerintah Tolikara ikut Memilih”

Pada tanggal 14 Oktober lalu, Masyarakat di Kabupaten Mamberamo Raya menggelar pesta demokrasi pemilihan kepala daerah Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Mamberamo Raya periode 2010-2015, namun anehnya, masyarakat di 9 Kampung di satu Distrik dalam wilayah Pemerintahan kabupaten Tolikara, ikut memilih. Bagaimana?Berikut laporan langsung pandangan mata wartawan pacific post dari Distrik Wari Kabupaten Tolikara…

Laporan : Alberth Yomo

Pemilihan Umum Kepala Daerah Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Mamberamo Raya periode 2010-2015 tanggal 14 oktober 2010 lalu merupakan yang pertama sekaligus merupakan sejarah baru, bagi Kabupaten yang baru dimekarkan tahun 2008 lalu. Namun, ada sesuatu yang aneh tapi nyata, yang sudah diketahui, tapi seolah-olah malas tahu, yakni KPUD Mamberamo Raya menetapkan beberapa Distrik milik Pemerintah Tolikara sebagai tempat pemungutan suara. Seperti yang terjadi di Distrik Wari Kabupaten Tolikara dan mungkin juga di Distrik Dow dan Distrik Sebey Kabupaten Tolikara, karena beberapa kotak suara juga diantara ke sana.
Pada tanggal 13 oktober  2010, sekitar pukul 11.00 Wit, sebuah pesawat cesna milik Tariku Aviation mendarat di lapangan terbang Wari. Seperti biasa, kalau ada pesawat yang masuk, pasti semua masyarakat akan keluar dari rumahnya masing-masing untuk melihat gerangan siapa yang diantar oleh pesawat itu.
Karena saat itu, aku sedang berada di kali mencari ikan bersama beberapa anak di kampong itu, jadi kesempatan melihat pesawat terlewatkan. Namun, selang beberapa waktu kemudian,setelah pesawat itu keluar, muncul beberapa pemuda ke tempat kami, dan memberitahukan, kalau pesawat tadi membawa kotak suara dan 3 orang petugas penyelenggara Pemilu.
Aku tersentak kaget, dan bertanya, apakah Distrik Wari juga ikut memilih?Ini kan pemilihan Kabupaten Mamberamo Raya, dan Wari adalah Distrik dari Pemerintah Tolikara. “ Iya kk, biar kita masuk di Tolikara, tapi kita juga biasa ikut pemilihan untuk Mamberamo Raya, karena disini juga masuk wilayah Mamberamo,” ujar salah satu pemuda.
Ya sudah, pada esoknya aku ikut memantau pelaksanaan pemungutan suara di Distrik yang 9 kampungnya berdekatan ini . Apa hasilnya?100 persen kemenangan untuk pasangan nomor urut 2. Saya akui, pelaksanaan berjalan sukses, meski tidak menggunakan asas rahasia lagi, karena pencoblosan langsung diketahui panitia, mana yang dicoblos, semua dilihat langsung oleh petugas.
Aku baru tahu kemudian, bahwa keikutsertaan masyarakat di Wari pada pemilukada Kabupaten Mamberamo Raya, karena factor balas jasa, atas 30 rumah social yang dibangun sang kandidat di wari, sewaktu menjabat sebagai karateker bupati Mamberamo Raya. Dan akan menyusul bantuan dan perhatian lainnya ketika sang kandidat terpilih secara definitive menjadi bupati.***



Senin, 04 Oktober 2010

Pernyataan Penting Pdt. Rainer Scheuneman Bagi Kemajuan Persipura

Pada acara diskusi bertemakan” Sepak Bola Papua menuju Kemandirian” yang dilaksanakan oleh wartawan olahraga Papua di Jayapura, dengan menghadirkan pembicara para kandidat calon walikota Jayapura periode 2010-2015 di auditorium RRI Jayapura,Minggu (4/10 ), hadir pula para pemerhati dan pengamat sepak bola Papua, diantaranya Pdt.Rainer Scheuneman, Benny Jansenem, Niko Dimo dan Fernando Fairio. Dari ke-empat pengamat bola Papua ini, Pdt, Rainer Scheuneman tampak memberikan pencerahan yang spectakuler tentang fakta penting factor-faktor penghambat kemajuan sepak bola Papua, berikut laporannya :



Laporan : Alberth Yomo

“Kita bisa bersyukur dan bangga dengan apa yang telah dilakukan oleh pemain-pemain Persipura masa lalu, tetapi sejujurnya masih banyak hal yang harus dibenahi, agar kita bisa mencetak pemain-pemain Papua menjadi pemain kelas dunia,” ujar Pdt. Rainer.
Diuraikan,bahwa untuk saat ini, di Papua kita bisa memberikan nilai 10 kepada para pemain Persipura, tetapi untuk tingkat Asia, nilai raport mereka( pemain persipura ) adalah 7. Mengapa?Karena melawan Pelita Jaya mereka bisa menang 5-0, tetapi ketika main di luar negeri atau ditingkat Asia melawan Cina, mereka kalah 9-0 dan  8-0. Apa yang salah?tidak ada pembinaan sejak usia dini.
 “Pembinaan yunior harga mati. Anggaran Persipura harus lebih banyak ke Yunior, Kita (pengurus sepak bola di Papua ) telah melakukan kesalahan dan telah gagal dalam 10 tahun terakhir melakukan pembinaan Yunior secara terus menerus, sehingga kondisi itu yang kita lihat saat ini, pemain kita belum bisa berbuat lebih di tingkat Asia,” tandasnya.
Diungkapkan,  dari 450 pemain ISL yang saat ini beredar, hanya 35 pemain Papua. Kita mengatakan Papua gudang pemain, tetapi apa kenyataannya?, kita hanya bisa menyumbangkan 7,7 persen pemain Papua. Karena itu kita harus menanamkan target saat ini, minimal kita harus mencapai 30 persen atau setidaknya 25 persen penyumbang pemain dari Papua 5 atau 10 tahun ke depan.
Selain Pembinaan usia dini yang ditekankan oleh Pdt Rainer, hal lainnya yang menjadi keprihatinan pria Jerman yang sudah 15 tahun mengabdi di tanah Papua ini adalah soal Kepelatihan dan Perwasitan di Papua. “Kesalahan lain yang kita lakukan adalah tidak ada penjenjangan dari system kepelatihan kita. Saya sebagai pendeta, tetapi mempunyai lisensi kepelatihan yang lebih tinggi dari seluruh pelatih yang ada di Papua, ini aneh sekali,” ungkap Rainer yang sudah mengantongi sertifikat kepelatihan Lisensi B dari UEFA ini.
Sebagai bentuk keprihatinan itu Rainer mengharapkan ada perhatian serius untuk eks pemain Persipura agar diberdayakan terus menerus menjadi pelatih yang professional, supaya bisa mengisi kepelatihan yunior di Papua.” Kita bangun gedung 20 tingkat, tetapi kalau fondasinya lemah tidak bisa,” imbuhnya.
Dirinya kemudian mencontohkan sepak bola Timor leste yang merdeka tahun 2002, pertandingan pertama, mereka kalah 28-0 dari Australia, tetapi masyarakat timor leste mereka sambut luar biasa, mereka pawai dan bangga kepada pemain-pemainnya, karena mereka yakin, suatu hari nanti, Timor leste akan berada di depan.
“Buktinya, tahun 2010 mereka kalahkan Indonesia 2-0. Ini suatu hal yang memprihatinkan untuk kita di Indonesia. Itu yang saya katakan tadi, untuk mencapai itu, perlu pembinaan yunior yang serius, kepelatihan yang serius dan perwasitan yang serius. Tidak ada wasit Papua saat ini di ISL. Ini memprihatinkan. Saya harapkan ke depan, harus diperhatikan secara menyeluruh,” harapnya.***