Monday, June 13, 2011

Kenangan di Taman Soemantri- Bogor




Bas Suebu: MRP Hanya Satu, Kecuali Referendum

Barnabas Suebu
Jayapura- Gubernur Provinsi Papua, Barnabas Suebu,SH menegaskan bahwa jiwa dari Undang-Undang Otonomi Khusus, itu mengamanatkan bahwa MRP satu. Tidak ada pasal dalam Undang-Undang Otsus yang mengamanatkan MRP itu lebih dari satu, kecuali melalui Referendum. Oleh karena itu tidak ada satu pasalpun yang mengatakan MRP itu dua. Jadi dua MRP itu bertentangan dengan Undang-Undang Otsus, walaupun tidak bertentangan dengan PP 56.
“Nah, kalau MRP mau jadi dua, semua anggota MRP harus kembali menanyakan kepada konstituennya, apakah itu yang rakyat Papua kehendaki? karena mereka adalah wakil yang mewakili kepentingan seluruh rakyat Papua. Tetapi ini kembali kepada rasa tanggung jawab dari semua anggota MRP terhadap masa depan dan kelanjutan hidup, keutuhan dari penduduk asli Papua, dari keturunan kepada keturunan berikutnya,” tegas Bas Suebu, ketika ditemui wartawan di VIP Room, Bandara Sentani, Sabtu(11/6) lalu.
Kalau tidak, kata Bas, tindakan seperti itu, akan membawa akibat yang besar untuk kelangsungan hidup penduduk asli di tanah yang Tuhan anugerahkan ini.
Jika Mendagri kemudian melantik MRP Papua Barat bagaimana? Bas kembali menegaskan, bahwa ini bukan masalah Menteri Dalam Negeri, tetapi ini menyangkut masalah keutuhan bangsa dan Negara ini. Jadi masalah ini bisa sampai ke mahkamah Konstitusi dan bisa membawa dampak internasional kembali ke Papua. Ini bukan soal main-main, tetapi akan membawa akibat-akibat yang besar.
“Jadi Pemerintah Provinsi tidak bisa intervensi, kecuali MRP sendiri memutuskan yang terbaik, dan itu harus mewakili kepentingan penduduk asli, bukan kepentingan pribadi sesaat, itu sikap yang bisa saya sampaikan,” jelasnya. (alberth yomo )

Friday, June 10, 2011

11 Cabor Direkomendasikan Untuk Porwanas 2013

peserta rakernas siwo pwi, 27-29 2011 di kendari-Sultra
" Dari Hasil Rakernas SIWO PWI di Kendari"
Kendari-
Seksi Wartawan Olahraga ( SIWO ) PWI cabang seluruh Indonesia akhirnya menyepakati 11 cabang olahraga untuk dipertandingkan pada Pekan Olahraga Wartawan Nasional ( Porwanas ) XI, tahun 2013 mendatang.
Kesepakatan itu diambil setelah melalui perdebatan yang sengit selama kurang lebih 7  jam dilalui dalam suasana rapat kerja nasional SIWO PWI Papua 2011 yang berlangsung selama dua hari di Hotel Athaya Kendari, dan ditutup pada Sabtu(28/5) lalu.
Selain menyepakati 11 cabang olahraga yang dipertandingkan pada Porwanas mendatang, rapat kerja SIWO di Kendari juga telah merekomendasikan Jawa Timur sebagai tuan rumah pelaksanaan Porwanas XI,2013 dan HPN 2013, dan merekomendasikan juga Bengkulu sebagai tuan rumah penyelenggara Rakernas SIWO PWI 2012 mendatang.
Awalnya pada rapat kelompok kerja di Surabaya bulan April 2011 lalu mengusulkan 13 cabang olahraga, penambahan pada cabang olahraga Basket ( usulan DKI Jaya ) dan Sepak Takraw ( usulan Sulawesi Tenggara ). Namun, atas protes SIWO PWI Cabang Papua, yang disampaikan Ketuanya Herry Usulu pada Rakernas di Kendari, akhirnya dilakukan voting untuk menentukan masuk tidaknya dua cabang ini. Ternyata dari hasil voting, kedua cabang olahraga ini tidak mendapat dukungan dari sebagian besar pengurus  SIWO cabang.
Kesebelas cabang olahraga yang direkomendasikan untuk dipertandingkan pada Porwanas XI 2013 di Jawa Timur nanti antara lain, Atletik memperebutkan 2 emas, Biliar 3 emas, Boling 3 emas, Bridge 2 emas, Bulutangkis 9 emas, Bola Volly 1 emas, Catur 2 emas, Futsal 2 emas, Sepak Bola 1 emas, Tenis Meja 9 emas dan Tenis Lapangan 9 emas.
Dalam Rakernas di Kendari ini, yang menjadi sorotan utama pada pelaksanaan Porwanas XI mendatang adalah soal Atlet yang diwartawankan. Disepakati juga, bahwa pada Porwanas XI nanti, akan diperketat, kartu biru tidak akan menjadi jaminan, tetapi jika ada yang dicurigai bukan wartawan, maka atas laporan pihak yang dirugikan, dengan bukti yang lengkap, maka dewan kehormatan yang akan mengambil tindakan tegas.
Ketua SIWO PWI Cabang Papua, Herry Usulu yang dihubungi wartawan mengaku bangga, karena pada Rakernas SIWO di Kendari ini, beberapa usulan dari SIWO Papua mendapat dukungan dari seluruh pengurus SIWO dari perwakilan PWI se-Indonesia. Selain menggagalkan 2 cabang olahraga yang dinilai akan menambah beban biaya, juga permintaan meminta SIWO seluruh Indonesia mendukung langkah tim kebanggaan kota Jayapura, Persipura Jayapura di ajang AFC Cup di dukung penuh dan mendorong dukungan moral kepada FIFA akan tidak menjatuhkan sanksi kepada PSSI.
“ Saya senang, karena selain usulan kami banyak direkomedasikan, juga salah satu anggota SIWO PWI Cabang Papua, Alberth Yomo ditunjuk sebagai sekretaris pemimpin sidang yang telah memimpin sidang pembahasan berbagai hal hingga tuntas dan hasil rekomendasi tersebut diberikan kepercayaan kepada Alberh Yomo untuk membacakan di depan forum Rakernas Kendari itu. ***

Dulu Kami Susah, Sekarang Tidak Lagi, Karena RESPEK

Ketua TPKK Kampung Asei Kecil,Pdt Reinhard Ohee

Jayapura- Program Respek yang dicetuskan oleh Gubernur Provinsi Papua, DR (HC)Barnabas Suebu,SH dinilai sebagai jawaban Tuhan atas apa yang selama ini digumuli oleh seluruh masyarakat di tanah Papua. Demikian diungkapkan Ketua TPKK Kampung Asei Kecil, Pdt. Reinhard Ohee, ketika menyaksikan penandatanganan 7 prasasti hasil Respek, oleh Gubernur Provinsi Papua di kampong Asei Kecil,  kemarin.
“ Dulu kami susah mendapatkan air bersih, tetapi dengan Respek, sekarang tinggal putar kran saja, air sudah di depan mata. Dulu kami susah untuk membangun kampong ini, tetapi dengan Respek, sekarang semua sudah terjawab, dulu anak-anak kami mengeluh soal biaya, tetapi dengan Respek, mereka masih bisa melanjutkan sekolah,” ujar Pdt. Reihard Ohee.
Karena itu, Reinhard percaya bahwa Respek yang digulirkan oleh Pemerintahan yang dipimpin oleh Barnabas Suebu SH, merupakan jawaban Tuhan Yang Maha Kuasa atas penderitaan yang selama ini dirasakan rakyat di kampong-kampung. Doa dan pergumulan masyarakat Papua selama ini telah dijawab melalui Respek ini.
“ Terima kasih bapak pencetus Respek, karena program Bapak yang luar biasa itu, akhirnya sekarang masyarakat bisa melihat secara nyata program pembangunan itu. Dulu, kami hanya sebagai penonton, tetapi sekarang, kami yang bekerja dengan tangan kami sendiri, dan kami yang membangun kampong kami sendiri,” tandas Rein Ohee dihadapan Gubernur Provinsi Papua ini. (alberth yomo )

Gubernur Provinsi Papua Tandatangani 7 Prasasti Hasil Respek

Gubernur Provinsi Papua, Barnabas Suebu, disambut tarian
Gubernur Provinsi Papua, Barnabas Suebu, tandatangani prasasti hasil Respek

Bas : “Hasil Respek Mulai Terlihat”
Jayapura- Program rencana strategis pembangunan kampong ( RESPEK ) yang dimulai dari tahun 2007 hasilnya kini mulai terlihat nyata. Demikian diungkapkan Gubernur Provinsi Papua, DR (HC) Barnabas Suebu,SH ketika menandatangani 7 prasasti hasil program Respek dari 2007 – 2010 pada 7 Kampung di Distrik Sentani Timur Kabupaten Jayapura, yang berlangsung di Kampung Asei Kecil, kemarin.
“ Ya, saya merasa senang, karena apa yang sudah kita mulai dari tahun 2007, hasilnya mulai nampak. Kita telah memulai sesuatu yang baik, mari kita terus bekerja dan bekerja, lalu kita berdoa kepada Tuhan Yesus Kristus, sehingga yang kurang akan ditambahkan melalui kuasaNya,” ujar Bapak Pencetus Respek ini.
Meskipun acara penandatanganan prasasti itu terjadi mendadak, tidak terjadwalkan dalam agenda kerja Gubernur Provinsi Papua ini, namun, Gubernur sendiri, terlihat begitu bahagia, walaupun dicegat di tengah jalan oleh penari dari kampong asei kecil yang telah menanti kunjungan itu sekitar 3 jam.
Acara yang berlangsung dengan singkat itu, di awali oleh sambutan pengantar ketua TPKK Kampung Asei Kecil, Pdt. Reinhard Ohee, kemudian pengguntingan pita pasar ikan di kampong Asei Kecil oleh Gubernur, lalu di lanjutkan dengan penandatanganan 7 prasasti hasil kegiatan Respek di tujuh kampong selama 4 tahun itu.
Kampung-kampung tersebut antara lain, kampong Asei Kecil, kampong Asei Besar, Kampung Nendali, Kampung Itakiwa, Kampung Puai, Kampung Nolokla dan Kampung Yokiwa. Dengan dana Respek yang diterima dari tahun 2007-2010 itu, telah digunakan untuk membangun bak air, pipanisasi, MCK, jalan, jembatan, pengadaan sarana prasarana, beasiswa, peningkatan ekonomi keluarga, simpan pinjam perempuan hingga pemberian beasiswa kepada siswa SD hingga Mahasiswa.( alberth yomo )

Hari Lingkungan Hidup 2011 Jangan Hanya Sebagai Penggembira

Bastian Wamafma, Direktur Yayasan Lingkungan Hidup Papua

Jayapura- Perayaan Hari Lingkungan Hidup (HLH ) tahun ini dibawah tema “Hutan Penyangga Kehidupan”, memiliki arti penting sebagai penyangga keseimbangan antara manusia dan alamnya, fungsi ini dapat dicapai apabila hutan-hutan tersebut terjaga kelestariannya.
“ Memperingati Hari Lingkungan Hidup saya menyampaikan selamat merayakan HLH 5 Juni 2011 kepada Gubernur Provinsi Papua beserta jajaran teknis yang tetap konsisten dalam memajukan pembangunan berkelanjutan di Provinsi Papua,” ungkap Direktur Yayasan Lingkungan Hidup Papua, Bastian Wamafma, di ruang kerjanya, kemarin.
Kata Bas, panggilan akrab Bastian, bahwa untuk menjaga agar fungsi ini tetap efektif, berbagai upaya sudah dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Papua dan akan terus dilakukan dalam rangka menelurkan kebijakan yang berhubungan dengan pengelolaan lingkungan hidup secara berkelanjutan sebut saja PERDASI nomor 6 tahun 2008 PERDASUS 21 tahun 2008 dan kebijakan lainnya yang implementasinya telah dilakukan oleh pemerintah dengan mengajak berbagai stakeholders.
“ Namun,  hal ini akan menjadi lebih efektif apabila setiap stakeholders memedomani apa yang telah dilakukan oleh pemerintah dalam setiap kebijakan internalnya, karena apalah artinya pemerintah melakuan segala upaya tetapi stakeholders hanya sebagai pengggembira dalam setiap event-event lingkungan hidup setiap tahunnya,” tandasnya.
Seharusnya, kata Bas,  stakeholders dan pemerintah melakukan “gerakan hati nurani penyelamatan lingkungan hidup” dimana semua orang harus merasa bahwa dengan kelestarian lingkungan hidup berarti hidupnya juga terjamin.
“ Seperti yang berkembang di wilayah Kota dan Kabupaten Jayapura sehubungan dengan Cagar Alam Cyclop, berbagai kebijakan telah ditelurkan, berbagai event telah dilangsungkan tetapi semuanya bermuara pada pencapaian proyek, hal ini seolah-olah Cyclop akan terselematkan bila ada uang, kalau tarada uang Cyclop tidak bisa terselamatkan,” bebernya.
 Dengan kondisi seperti ini, Bas berharap,  perlu dilakukan upaya secara kontinyu melalui pendampingan terus menerus dan bukan pendampingan tiba berangkat di area ini dengan even-even yang berujung pada menumbuhkan kesadaran misalnya saja dengan melakukan penyuluhan-penyuluhan di seluruh area ini pada segala level.
“Sebaiknya hari ini kita semua menyadari bahwa ketika hutan di Cyclop rusak kitong semua nanti susah terutama susah air, mau pemerintah ka masyarakat atau perusahaan pasti semua menderita jadi stop bikin rusak Cyclop, supaya hari ini, esok dan nanti kitong tidak menderita,” pintanya. (alberth yomo)



Respek Bukan Hanya Fisik, Tetapi Yang Penting Adalah Merubah Pola Pikir Masyarakat

Aplena Saureh, pendamping Kabupaten Biak Numfor ( kacamata)

Biak-
Penilaian terhadap keberhasilan program Respek hendaknya tidak dilihat pada perubahan fisik semata, tetapi ada hal yang lebih penting dari program itu adalah merubah mind set ( pola piker ) masyarakat di kampung untuk mendorong diri mereka bangkit dari kungkungan kemalasan dan ketidakberdayaan.
“ Jangan kita lihat fisik yang dikerjakan masyarakat, karena itu bukan tujuan utama. Hal penting yang harus kita pahami adalah bagaimana program ini didorong untuk mampu merubah pola piker masyarakat menjadi lebih maju,” ungkap pendamping Respek Kabupaten Biak Numfor, Aplena Saureh kepada wartawan, di Biak, beberapa waktu lalu.
Aplena menyayangkan adanya sikap pesimis dari sejumlah pihak yang tidak puas dengan kegiatan masyarakat di beberapa kampung di Biak, lantaran tidak optimal memanfaatkan dana Respek untuk skala yang luas.” Kita harus belajar menghargai keputusan masyarakat, apapun yang disepakati, tidak sesuai menurut kita, mungkin bagi mereka itu yang terbaik,” ujarnya.
Dijelaskan, bahwa apapun pembangunan atau program lainnya yang akan dilakukan di kampung, masyarakat tidak akan pernah merasa puas, justru sebaliknya tuntutan masyarakat akan terus meningkat. Sama dengan manusia pada umumnya yang tidak pernah puas dengan apa yang di dapatnya, demikian halnya dengan orang di kampung.
“Jadi, saya kira yang terpenting adalah bagaimana kita berupaya bahu membahu bekerja sama dengan masyarakat, memberikan pembinaan dan pendampingan secara total dan dengan hati yang iklas, agar tujuan yang kita harapkan bersama untuk mewujudkan masyarakat Papua yang maju, bisa terwujud,” harapnya.        ( alberth yomo )