Monday, May 14, 2012

Hadapi Masalah Dana, Managemen Persidafon Minta Dukungan Berbagai Pihak



Persidafon Jayapura beberapa saat sebelum bertanding melawan Sriwijaya FC, Senin(14/5) kemarin.
Jayapura- Persoalan minimnya dana yang sedang dihadapi oleh Persidafon Jayapura, diharapkan mendapat perhatian dari semua pihak di Kabupaten Jayapura, sehingga dapat membantu tim asal Sentani ini tetap tampil konsisten di kasta sepak bola tertinggi se tanah air ini. Demikian harapan Manager tim Persidafon, Iwan Nasarudin kepada wartawan, usai laga Persidafon versus Sriwijaya FC, di Stadion Barnabas Youwe, Senin(14/5) kemarin.
“ Kami sangat berharap ada dukungan dari berbagai pihak kepada Persidafon, khususnya dukungan dana, sehingga tim kebanggaan masyarakat di Kabupaten Jayapura ini bisa tetap tampil konsisten di Kompetisi Sepak Bola Indonesia Super Liga,” ungkap Iwan Nasarudin.
Berbagai upaya telah dilakukan managemen untuk mencari dukungan sponsor, tetapi seperti menabrak tembok, begitu sulit mendapatkan pihak-pihak yang mau bersedia membantu atau mensuport Persidafon Jayapura, padahal dari sisi kualitas dan kemampuan para pemain sangat mumpuni sebagai tim yang bisa bersaing dengan tim-tim besar lainnya.
“ Kami sedang berupaya melakukan negosiasi dengan PT.Freeport Indonesia, dan Ketua Umum Persidafon Habel Melkias Suwae sedang berupaya untuk meyakinkan PT.Freeport Indonesia, semoga ada jalan yang baik bagi tim ini untuk keluar dari persoalan itu,” ungkap Iwan.
Iwan berharap, tidak hanya Freeport, kalau ada pihak-pihak lain yang ingin membantu Persidafon, managemen sangat terbuka dan akan senang menerima bantuan dari pihak-pihak yang mempunyai kepedulian terhadap tim  sepak Bola dari Kabupaten Jayapura ini.
Sementara itu, pelatih Persidafon, Erens Pehelarang mengaku kasihan dengan para pemainnya, karena tak kunjung mendapat kepastian soal gaji pemainnya yang tertunda dibayarkan selama tiga bulan. Ia berharap, semoga dalam waktu yang tidak terlalu lama, hak para pemainnya bisa secepatnya diselesaikan, sehingga tidak memperburuk keadaan dalam tim yang sudah dibentuk dengan susah payah ini.(yom)

Persidafon Jayapura Ditahan Sriwijaya FC 2-2


Selebrasi Ferinando Pahabol, setelah mencetak gol keduanya ke gawang Sriwijaya FC, tetapi sayang, dua golnya tidak mampu mambawa Persidafon meraih poin penuh.


Jayapura- Persidafon Jayapura hanya mampu meraih satu poin dari lawannya Sriwijaya FC, setelah ditahan imbang 2-2 oleh tim asal Sumatera ini pada pertandingan lanjutan kompetisi Sepak Bola Liga Super Indonesia yang berlangsung di Stadion Barnabas Youwe, Senin(14/5) kemarin.
Ferinando Pahabol menjadi pahlawan Persidafon, karena dua gol bagi tim gabus sentani ini lahir dari kakinya, pada menit 16 dan menit 56. Sementara dua gol balasan dari Sriwiajaya FC dicetak oleh Keith Kayamba Gumb dan Thiery Ahatsy pada menit 53 dan menit 81.
Hasil imbang ini tidak mempengaruhi posisi Persidafon dan Sriwijaya FC di klasemen sementara Liga Super Indonesia, di mana Sriwijaya FC tetap berada di puncak klasemen sementara dengan poin 52 dari 23 kali bertanding, sementara Persidafon Jayapura, tetap di urutan 11 dengan poin 29 dari hasil 23 kali bertanding.
Manager tim Persidafon, Iwan Nasarudin mengaku bangga kepada Eduard Ivakdalam cs, karena mampu mempertunjukkan permainan yang baik, meskipun hasilnya draw, tetapi menurut Iwan, itulah hasil yang sangat memuaskan, apalagi dalam beberapa minggu terakhir ini, berbagai persoalan sedang menimpa tim Persidafon, tetapi tidak mempengaruhi secara total permainan tim di lapangan.
Pelatih Persidafon, Erens Pehelerang, juga mengungkapkan hal yang sama, ia senang, karena semangat anak-anak dari kaki gunung cyclop ini tetap terjaga, walaupun di terpa oleh sejumlah persoalan yang sangat krusial, tetapi persoalan itu ternyata tidak mempengaruhi penampilan anak asuhnya di lapangan.
Sementara itu, Pelatih Sriwijaya FC, Kashartadi, mengaku puas dengan performa dari timnya yang telah berhasil menahan imbang Persidafon Jayapura di kandangnya sendiri, dan hasil imbang, menurutnya merupakan hasil yang patut disyukuri, meskipun sebenarnya mereka menargetkan untuk menang di markas Persidafon ini.
“Kompetisi masih panjang, Sriwijaya masih menyisahkan 11 kali pertandingan lagi, dan 6 diantaranya bermain di kandang Sriwijaya, jadi kami tetap bersyukur dengan hasil imbang ini, demikian juga untuk pertandingan tandang lainnya melawan sesama tim asal tanah Papua, hasil imbang merupakan hasil yang sangat baik bagi Sriwijaya FC, dan kami optimis, bahwa pertandingan kandang akan disapu bersih,”ujarnya.
Untuk pertandingan selanjutnya, Persidafon akan menjamu tim asal Kalimantan, Persiba Balik Papan pada tanggal 18 Mei di stadion Barnabas Youwe, sementara Sriwijaya FC akan bertandang ke markas Persiram Raja Ampat pada tanggal 17 mei mendatang.(yom)

Saturday, March 24, 2012

Gerbang Brandenburg_8 Maret 2012




Gerbang Brandenburg (Jerman: Brandenburger Tor) merupakan bekas gerbang kota dan salah satu simbol utama Berlin, Jerman. Terletak antara Pariser Platz dan Platz des 18. März dan merupakan satu-satunya gerbang yang tersisa yang sebelumnya pintu masuk ke Berlin. Satu blok ke utara berdiri Reichstag. Gerbang ini mengawali pemindahan Unter den Linden, jalan terkenal dengan pohon linden yang mengarah langsung ke kediaman kerajaan. Diusulkan oleh Friedrich Wilhelm II sebagai simbol perdamaian dan dibangun oleh Carl Gotthard Langhans sejak 1788 hingga 1791.
Gerbang Brandenburg terdiri dari dua belas kolom Doric, enam di setiap sisi, membentuk lima pintu masuk menuju jalan raya. Warga hanya diperbolehkan menggunakan bagian sisinya. Di atas gerbang adalah Quadriga, dengan Viktoria, dewi kemenangan Romawi mengendarai Quadriga. Quadriga menghadap ke Timur.
Desain Gerbang didasarkan pada Propylaea, gerbang masuk ke Acropolis di Athena, Yunani dan berkaitan dengan sejarah Berlin pada klasikisme arsitektur (pertama, Baroque, dan neo-Palladian). Gerbang ini adalah "Athena di Tepi Sungai" pertama oleh arstiek Karl Gotthard von Langhans. Quadriga dibuat oleh Johann Gottfried Schadow.

Bentuk Gerbang Brandenburg tidak berubah sejak selesai dibangun dan memainkan peran politik dalam sejarah Jerman. Setelah kekalahan Prusia tahun 1806 pada Pertempuran Jena-Auerstedt, Napoleon membawa Quadriga ke Paris. Setelah kekalahan Napoleon tahun 1814 dan pendudukan Paris oleh Prusia dipimpin Jenderal Ernst von Pfuel, Quadriga dikembalikan ke Belin; dan ikat kepala zaitun Viktoria ditukar dengan Salib Besi, sehingga menjadi Nike, dewi kemenangan Yunani.
Ketika Nazi bangkit mereka menggunakan Gerbang sebagai simbol. Gerbang ini selamat dari Perang Dunia II dan merupakan satu dari beberapa struktur yang berdiri di reruntuhan Pariser Platz tahun 1945 (yang lainnya Akademi Seni Modern). Setelah kekalahan Jerman dan akhir perang dunia kedua, pemerintah Berlin Timur dan Berlin Barat memperbaikinya bersama. Kendaraan dan warga dapat bepergian secara bebas melalui gerbang, hingga Agustus 1961 ketika Tembok Berlin dibangun. Tembok dan jalan kematian membentang di barat gerbang, memotong akses dari Berlin Barat dan melewati Berlin Timur. Pada waktu itu, Quadriga dihadapkan ke Timur.
Tahun 1963, Presiden AS John F. Kennedy mengunjungi Gerbang Brandenburg. Soviet mengibarkan spanduk untuk mencegahnya melihat ke Timur Tahun 1980-an, mengenai dua negara Jerman, walikota Berlin Barat Richard von Weizsäcker mengatakan: Pertanyaan Jerman akan dibiarkan selama Gerbang Brandenburg ditutup.
Tanggal 12 Juni 1987, Presiden AS Ronald Reagan berbicara kepada warga Berlin Barat di Gerbang Brandenburg, menuntut pembukaan Tembok Berlin. Kepada Sekretaris Jenderal CPSU Mikhail Gorbachev, Reagan mengatakan,
Sekretaris Jenderal Gorbachev, bila Anda mencari perdamaian, bila Anda mencari kemakmuran Uni Soviet dan Eropa Timur, bila Anda mencari kebebasan: Datanglah ke gerbang ini! Tn. Gorbachev, bukalah gerbang ini! Tn. Gorbachev, runtuhkan tembok ini!
Ketika Revolusi 1989 terjadi dan Tembok Berlin runtuh, Gerbang ini menggambarkan kebebasan dan keinginan menyatukan Kota Berlin. Tanggal 22 Desember 1989, Gerbang Brandenburg dibuka kembali dengan Helmut Kohl, Kanselir Jerman Barat, berjalan melaluinya dan disambut oleh Hans Modrow, Perdana Menteri Jerman Timur.
Tanggal 12 Juli 1994, Presiden AS Bill Clinton berbicara di Gerbang mengenai perdamaian setelah Perang Dingin Eropa.
Tanggal 21 Desember 2000, Gebrang Brandenburg diperbaiki dengan biaya 6 juta dolar.
Gerbang Brandenburg sekarang ditutup kembali untuk lalu lintas kendaraan, dan sebagian Pariser Platz diubah menjadi zona pejalan kaki batu bata.**

Thursday, March 8, 2012

Tarian Murop Pegunungan Bintang Papua Di Berlin Jerman

foto a.yomo_1

foto a.yomo_2

foto a.yomo_3

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia, yang diwakili oleh Director of Internasional Tourism Promotion Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia, Nia Niscaya, mengaku kaget tapi juga merasakan kebahagiaan yang luar biasa, setelah melihat tarian adat yang dipersembahkan oleh para penari asal Pegunungan Bintang Papua, pada pembukaan pameran Pariwisata Internasional ITB Berlin, yang berlangsung di Berlin, Jerman, Rabu(7/3)lalu.
“ Ini surprise, saya tidak menduga Papua bisa hadir dalam iven sebesar ini, apalagi bisa menampilkan tarian adatnya. Luar biasa, hari ini saya sangat bahagia dan bangga, karena ditengah-tengah acara yang padat dan ramai ini, tim tari dari Indonesia yang diwakili oleh saudara-saudara saya dari Papua membuat seluruh pandangan mata para pengunjung dari berbagai negara, tertuju kepada stand Indonesia,” ungkap Nia Niscaya.
Nia menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para penari, kepada Pemerintah Provinsi Papua dan kepada Pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang, yang telah memberi dukungannya melalui tim tari Murop Tabib Pegunungan Bintang Papua, sehingga dari penampilan itu, memberi efek yang positif pada stand Indonesia, pengunjung banyak yang datang dan bertanya.
Nia berharap, Pemerintah Provinsi Papua secepatnya membenahi infrastruktur transportasi dan akomodasi yang mendukung kegiatan wisatawan, disamping itu harus memberikan jaminan keamanan, karena melalui promosi ini, banyak wisatawan akan berkunjung ke Papua, apalagi Papua dikenal sebagai daerah yang masih utuh alamnya, yang merupakan daya tarik luar biasa, khususnya bagi wisatawan dari Eropa.
Sementara itu, Gubernur Provinsi Papua yang diwakili oleh Kepala Biro Humas dan Protokol, Anni Rumbiak,SE,MM juga terharu dan mengaku bangga, karena Papua berhasil mewakili Indonesia dan mempersembahkan salah satu bagian dari kekayaan yang dimiliki di bumi cenderawasih dalam Iven Internasional yang dihadiri 178 Negara ini.
“ Terima kasih buat para penari, karena telah memberikan warna yang berbeda dalam Iven Internasional ini, ke depannya, perlu ada koordinasi yang lebih baik lagi dengan seluruh Pemerintah Kabupaten se-Papua dan Pemerintah Provinsi Papua serta para agen wisata, sehingga menciptakan peluang yang lebih besar lagi bagi peningkatan kunjungan wisata ke Papua,” tandas Anni Rumbiak.
Tim tari Murop Tabib asal Pegunungan Bintang Papua ini, awalnya diberi kesempatan hanya sekali pentas, tetapi seiring banyaknya permintaan dari pengunjung yang tidak sempat melihat tarian ini, akhirya panitia ITB Berlin meminta Indonesia untuk menampilkan kembali tarian asal Papua itu.” Sungguh luar biasa, semoga ke depannya Papua bisa lebih siap lagi,” tandas koordinator tim tari, Silvester Oropyana.
Silvesterpun mencucurkan air matanya ketika diwawancarai, ia mengucap syukur kepada Tuhan Yesus yang telah memberikan kesempatan kepada dirinya dan 10 penarinya, sehingga bisa berkunjung ke Jerman.”Ini sejarah, kami akan ingat seumur hidup kami, karena kami tidak tampil di tingkat kampung, tingkat Distrik, tingkat Kabupaten,tingkat Provinsi atau tingkat Nasional, tetapi ini di tingkat Internasional,” ujar Silvester dengan bangga.(alberth yomo- Berlin, Jerman)

Saturday, December 10, 2011

Perjalanan ke Kampung Rapamerei Distrik Sawai Kabupaten Mamberamo Raya


Kampung Rapamerei, merupakan salah satu Kampung yang masuk dalam wilayah administratif Pemerintahan Distrik Sawai Kabupaten Mamberamo Raya. Selama tiga minggu, kami melakukan kunjungan ke wilayah ini, bagaimana kondisi transportasi ke wilayah ini?
Kampung Rapamerei berada pada jarak kurang lebih 111 kilometer ke arah timur dari Kota Serui Kabupaten Kepulauan Yapen atau 100 kilometer arah barat laut dari Kasonaweja Ibukota Kabupaten Mamberamo Raya. Dari Ibukota Distrik Sawai, Kampung Poiway, jaraknya 17 kilometer ke arah timur .
Tidak mudah untuk sampai di Kampung Rapamerei, satu-satunya penghubung ke wilayah ini adalah melalui jalur transportasi laut dan sungai, baik menggunakan kapal perintis, kapal kayu ataupun menggunakan speedboat dan longboat dari Serui. Belum adanya rute khusus transportasi komersial ke wilayah ini, menyebabkan masyarakat setempat memiliki akses yang sangat terbatas untuk keluar masuk  Kampung Rapamerei.
Bukan hanya Kampung Rapamerei, kampung-kampung tetangga lainnya yang berada dalam satu wilayah topografi seperti Poiway, Bonoi, Sorabi, Anasi ataupun Tamakuri memiliki persoalan yang sama, yaitu terbatasnya sarana prasarana transportasi. Persoalan ini telah melilit masyarakat di wilayah ini selama berpuluh-puluh tahun.
“ Bukan hanya di kampung ini saja, masyarakat lainnya di Kampung Poiway, Bonoi, Sorabi, Anasi dan Tamakuri juga kesulitan masalah transportasi. Sudah bertahun-tahun kami tidak diperhatikan, jadi akses masyarakat dari Kampung-kampung ini untuk ke kota juga sangat terbatas, hanya orang-orang tertentu yang memiliki speedboat yang bisa keluar, kalau ada masyarakat yang mau ikut, butuh negosiasi tenggang rasa,” ujar Pjs Kepala Kampung Rapamerei, Maurits Pameinai.
Akses termurah dan cepat untuk sampai ke wilayah ini, sementara masih lebih nyaman ditempuh lewat Kota Serui, baik melalui Kapal Kayu maupun speedboat. Jika menggunakan speedboat engine 40 PK, waktu tempuh hanya 4 -5 jam, sementara dengan kapal kayu, waktu yang habis diperjalanan kurang lebih 10-12 jam ( tanpa hambatan ).
Karena tidak ada rute pasti komersial, jadi kami harus  mencarter speedboat 2 engine 40PK, tidak murah memang, kami harus membayar Rp 7 juta dari Serui untuk Tujuan Poiway dan Barapasi. Setelah bermalam di Poiway, paginya kami melanjutkan perjalanan ke Rapamerei, dengan speedboat lokal, tarifnya Rp 1 Juta hanya untuk Pergi ( tarif tidak menentu, bisa berubah, tergantung harga BBM setempat dan kebijakan pemilik speedboat atau motoris).
Jika menggunakan kapal kayu, biaya sewanya berkisar Rp 6-10 Juta, tetapi pilihan menggunakan kapal kayu, lebih cocok ketika membawa barang dalam jumlah besar, apakah untuk kebutuhan bangunan atau untuk kebutuhan lainnya.
Andai saja, Pemerintah atau pihak swasta yang mengelolah transportasi kapal perintis selalu konsekuen dan memiliki jadwal pasti dalam melakukan pelayaran ke pelabuhan  Kurudu, biayanya mungkin bisa lebih murah, karena akses dari Kurudu ke Poiway dan Barapasi sangat dekat dan tidak besar resikonya. Tetapi karena jadwal kapal perintis juga tidak pasti, sehingga satu-satunya cara yang cepat adalah dengan mencarter speedboat atau Kapal kayu dari Serui.
“ Kita tidak bisa harap kapal perintis, orang di Kurudu sendiri saja tidak tahu kapan kapal perintis masuk, jadi kami yang jauh juga buta soal jadwal masuk kapal perintis yang tidak jelas itu. Pemerintah Provinsi seharusnya memperhatikan hal ini dengan baik,” harap Maurits Pameinai.
Perjalanan ke wilayah ini, bisa juga dilakukan dari Kasonaweja, ibukota Kabupaten Mamberamo Raya, tetapi costnya sangat tinggi, dibutuhkan paling sedikit 600 liter BBM, dengan menempuh perjalanan yang beresiko ketika laut dan muara sungai Mamberamo sedang mengamuk. Sebenarnya pilihan lewat Serui juga tidak seratus persen nyaman, tetap saja bergantung pada kondisi laut, jika laut tenang, maka kecil resikonya, jika laut mengamuk, tetap saja berbahaya untuk dilewati, terutama ketika melewati selat Sasuarai antara pulau Yapen dan Kurudu.
“ Aduh susah kalau lewat Kasonaweja, kami saja harus pikir dua kali untuk ke Kasonaweja. Bahan Bakar saja perlu sekitar 3 drum ( 600 liter ), belum lagi pikir keselamatan jika terpaksa harus lewat laut. Biasanya kami memilih lewat jalur Gesa, itupun tergantung lagi pada kendaraan perusahaan yang beroperasi di sana, untuk bisa kami tumpangi agar sampai di Trimuris. Ya, setidaknya kalau lancar bisa dua hari baru sampai di Kasonaweja,” tandas Maurits.
Transit di Kampung Poiway, Ada yang berbeda dari kunjungan sebelumnya
Ketika transit di Kampung Poiway yang merupakan Ibukota dari Distrik Sawai, Kabupaten Mamberamo Raya, ada pemandangan yang berbeda dari kunjungan sebulan sebelumnya  ke Kampung ini. Apa saja perubahan yang terjadi?
Memasuki pelabuhan Poiway, tampak tumpukkan batu tela, semen dan kayu balok yang tersusun rapi di pintu keluar Halte pelabuhan Kampung. Beberapa menit kemudian, terlihat sebuah mobil pick up hitam Toyota, menuruni sebuah bukit kecil mengikuti jalan yang menuju ke arah pelabuhan tempat kami berdiri.
“ Mobil Pick up ini baru didatangkan beberapa minggu lalu oleh CV yang menangani proyek pembangunan 16 rumah sehat milik masyarakat Kampung Poiway dari bantuan Pemerintah Kabupaten Mamberamo Raya. Target mereka, akhir tahun ini proyek tersebut selesai, dan 16 Kepala Keluarga sudah bisa menempati rumah barunya,” jelas Kaur Pembangunan Kampung Poiway, Obeth Iwanggin.
Obeth menjelaskan, mengingat jalan Kampung Poiway yang panjangnya sekitar 2 kilometer hanya memiliki satu pintu masuk, sehingga mereka mendatangkan mobil pick up ini, agar mampu memobilisasi bahan-bahan bangunan ke tempatnya dengan cepat, agar pekerjaan juga bisa selesai dengan cepat.
Dengan demikian, di Kampung Poiway sudah ada dua unit kendaraan pengangkut barang, yaitu Bemo dan Toyota Pick up.” Karena itu, kami kerahkan masyarakat untuk melakukan pekerjaan pelebaran jalan, dan dengan jalan yang lebarnya 4 meter ini, maka mobil Pick up dan Bemo bisa lancar beroperasi,” jelas Obeth.
Selain proyek pembangunan 16 rumah sehat dari Pemerintah Kabupaten Mamberamo Raya yang dikerjakan melalui CV, masyarakat di Kampung Poiway juga disibukkan dengan pemasangan instalasi listrik di semua rumah dan ujicoba mesin pembangkit listrik yang baru,  dari program PNPM Mandiri Respek.
“ Ya, pada tahun 2010 lalu kami usulkan pemasangan instalasi listrik dan pembelian satu unit mesin pembangkit listrik, namun barangnya baru tiba di Kampung pada bulan ini, sehingga kami juga baru mau mulai memasang instalasi, dan apabila semua rumah sudah terpasang sambungan listrik, maka Mesin ini akan dihidupkan,” jelas Kepala Kampung Poiway, Onesimus Manemi.
Wajah kepala kampung dan sejumlah masyarakat yang ditemui di lokasi penempatan mesin pembangkit listrik ini nampak ceria dan begitu bersemangat untuk melihat dengan segera, mesin yang dibeli dengan harga Rp 70 Juta itu, bisa mengeluarkan suara gemuruhnya, lalu mengeluarkan tenaganya untuk menerangi kampung mereka.
 Kepala Kampung Onesimus Manemi mengaku bangga, baik kepada Pemerintah Kabupaten Mamberamo Raya, Pemerintah Provinsi Papua dan Pemerintah Pusat yang telah memberikan perhatian nyata dalam 5 tahun terakhir, sehingga kampung mereka bisa mengalami kemajuan yang luar biasa.
Kata Ones, bukan saja fisik yang nyata saat ini, tetapi juga ada bantuan melalui dana pemberdayaan kampung yang besarnya Rp 200 juta per tahun, dan honor aparat kampung yang cukup besar, turut memberikan andil dalam perbaikan ekonomi keluarga, perbaikan pendidikan dan kesehatan bagi anak-anak dan seluruh masyarakat di Kampung Poiway.
Ones berharap, perhatian ini hendaknya terus ditingkatkan, terutama ke kampung-kampung terpencil, sehingga masalah keterbelakangan pembangunan bisa segera teratasi.  Kalaupun ada masalah, selalu ada evaluasi, sehingga dari tahun ke tahun program ini akan semakin memberikan gairah bagi kemajuan fisik di kampung, tetapi juga bagi kemajuan masyarakat di kampung-kampung di seluruh Tanah Papua.


Hutan Mangrove Sebagai Rumah dan Lumbung Makanan
Dari Kampung Poiway, kami kemudian melakukan perjalanan ke Kampung Rapamerei menggunakan satu speedboat dengan satu engine 40PK. Jarak lurus ke Rapamerei dari Kampung Poiway adalah 17 kilometer ke arah timur, dengan waktu tempuh diperkirakan 30 menit. Bagaimana perjalanan itu?
Melepas pergi pelabuhan Poiway, selanjutnya yang tampak dihadapan mata kami adalah pemandangan ekosistem hutan Mangrove atau biasa disebut juga dengan hutan Bakau. Dari alur sungai yang lebar hingga alur sungai yang sempit bentukkan populasi mangrove ini, mata hanya memandang satu populasi tanaman, yaitu pohon mangrove. Meskipun ada pula tanaman lain, namun dominansi mangrove benar-benar menutupi pandangan kami. Ketika menyusuri alur sungai yang sempit, hidung akan menerima aroma hutan mangrove yang khas ini.
“ Inilah rumah makan kami, karena dari sinilah kami bisa dapatkan ikan, buaya, kepiting, kerang, udang dan sagu yang tidak pernah habis-habis sebagai sumber makanan yang memberi kehidupan kepada kami masyarakat di sini,” ungkap kepala kampung Rapamerei, Oddy Pameinai terkiat keberadaan hutan mangrove yang menutupi wilayah mereka yang luas itu.
Kata Oddy, air yang tenang dalam wilayah ini ( Hutan Mangrove ) jangan dikira tidak ada sumber makanan, tinggal siapkan mata kail, nelon atau jala, sudah tidak susah untuk menikmati ikan, tinggal disesuaikan dengan kemampuan. Demikian halnya dengan buaya, udang, kepiting dan kerang, semua tersedia melimpah dalam ekosistem mangrove ini.
Wajah Kampung Berubah Karena PNPM Respek dan Pemberdayaan Kampung
Setelah 30 menit perjalanan, akhirnya kami tiba juga di Kampung Rapamerei, tampak di pelabuhan Rapamerei, sebuah kapal kayu sedang berlabuh. “ Mereka adalah para pedagang orang bugis makasar yang menjual barang-barang “pecah belah” atau barang-barang dapur ,” jelas salah satu warga di Kampung Rapamerei.
Ternyata para pedagang ini mencoba keberuntungannya di Kampung ini dan kampung-kampung terdekat lainnya, seperti Bonoi yang adalah kampung tetangga dari Rapamerei. “ Sudah 4 hari  kami di sini, dan hasilnya cukup memuaskan, karena separuh barang bawaan kami habis terjual di dua kampung ini, yakni Rapamerei dan Bonoi,” ungkap salah satu pedagang  dari Kapal itu yang ditemui di pelabuhan Rapamerei.
Dari pelabuhan, selanjutnya kami berjalan kaki menuju rumah Kepala Kampung yang jaraknya sekitar 50 meter dari dermaga pelabuhan. Beberapa menit kemudian, tuan rumah telah menyediakan kopi dan teh hangat. Sambil menikmati segelas kopi hitam di rumah kepala kampung, kami mulai dengan diskusi lepas tentang pembangunan yang dilakukan Pemerintah di Kampung Rapamerei.
“ Ya, kami masyarakat di Kampung ini baru merasakan pembangunan yang nyata itu terjadi dalam 5 tahun ini, setelah adanya pemekaran Kabupaten Mamberamo Raya. Setelah masuk Kabupaten Mamberamo Raya, barulah kami mendapat perhatian yang sangat luar biasa, bukan saja kepada masyarakat, tetapi juga untuk kami aparat kampung,” jelas Kepala Kampung Rapamerei, Oddy Pameinai.
Oddy mencontohkan dana pemberdayaan kampung yang dialokasikan Rp 200 Juta/tahun ke Kampungnya, kemudian ditambah dengan program PNPM Mandiri Respek yang dananya bisa lebih dari 300 Juta per tahun itu, benar-benar telah mengubah fisik di kampung mereka, tetapi juga mengubah pesimisme masyarakat menjadi optimisme.
Dengan dana PNPM Mandiri Respek selama 4 tahun, masyarakat berhasil membangun jalan kampung sepanjang 3 kilometer dengan kontruksi rabat beton, kemudian membangun pipanisasi untuk jaringan air bersih ke rumah-rumah, selain itu juga dibangun 32 unit wc pada 32 rumah, pengadaan 32 unit mesin babat rumput bagi 32 kepala keluarga, pemasangan instalasi listrik dan pengadaan mesin pembangkit tenaga listrik, serta terakhir tahun 2010 lalu, pengadaan 2 speedboat dengan 2 engine 40 PK.
“ Saya kira perhatian Pemerintah ke kampung-kampung sudah cukup baik, karena melalui dana pemberdayaan kampung dan program PNPM Mandiri Respek saja, itu sudah sangat membantu pembangunan di Kampung. Hanya yang perlu di perhatikan adalah soal pelayanan pendidikan dan kesehatan serta akses-akses transportasi,” pinta Oddy Pameinai.
Kata Oddy lagi, bahwa sudah tiga kali Kampung Rapamerei mengalami tiga masa peralihan Pemerintahan, mulai dari Kabupaten Yapen Waropen, kemudian Kabupaten Waropen, dan terakhir tahun 2007, masuk dalam Pemerintahan Kabupaten Mamberamo Raya, bersamaan dengan dimekarkannya Kabupaten Mamberamo Raya, terpisah dari Kabupaten Sarmi, dan pada masa inilah, dianggap sebagai masa yang cukup baik bagi kehidupan masyarakat di Kampung Rapamerei.(a.yomo)








Monday, August 8, 2011

Mengomentari Pelaksanaan Program PNPM Mandiri-Respek di Provinsi Papua (bagian_1 )

Pengadaan Speed di Kampung Karfasia, Distrik Pantai Barat Kabupaten Sarmi, dari dana PNPM Mandiri- Respek. Bukan hanya pengadaan barang, diharapkan pengelolah program tidak melupakan visi dan misi program, yaitu Pemberdayaan, Pembelajaran, Demokrasi dan Transparansi.
Pada tahun 2011 ini, melalui program PNPM- Mandiri dan Program Respek, Pemerintah Pusat, Provinsi Papua dan Kabupaten se-Papua telah menyiapkan anggaran yang nilainya sangat fastastis, yakni menembus angka Rp 1 trilun, untuk dikucurkan ke 3000 lebih kampung-kampung di Papua. Namun, ada sejumlah catatan yang perlu diperhatikan oleh semua pihak, baik masyarakat di kampung-kampung, maupun para pengelolah program dari Pusat hingga Kampung-Kampung di Papua.

Laporan : Alberth Yomo

Pada tahun 2011 ini, Pemerintah Pusat dan Pemerintah Kabupaten di 28 Kabupaten se- Papua telah menyiapkan dana Kosering sebesar Rp 666.650.000.000 ( Enam Ratus Enam Puluh Enam Miliar Enam Ratus Lima Puluh Juta ), kemudian di tambah dengan dana Respek dari Pemerintah Provinsi Papua sebesar Rp 400 Miliar, maka Total dana yang akan dikucurkan Pemerintah ke 3000 lebih kampung di Papua menembus angka Rp 1 Triliun.
“Sesuai dengan surat Menkokesra pada tanggal 5 Nopember Tahun 2010, tentang penetapan lokasi dan alokasi 2011, untuk Provinsi Papua yang terdiri dari 28 Kabupaten dengan 388 Distrik, total alokasi yang ditetapkan sebesar Rp 666.650.000.000 ( Enam Ratus Enam Puluh Enam Miliar Enam Ratus Lima Puluh Juta ),” jelas Koordinator PNPM Mandiri-Respek Provinsi Papua ,Wem Ngamelubun.
Sementara itu Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah, DR. Achmad Hatari, MSi, mengatakan untuk tahun 2011, alokasi dana Respek dari Pemerintah Provinsi Papua adalah sebesar Rp 400 Miliar atau meningkat 50 Miliar dari tahun sebelumnya. Sehingga ditotalkan, angka ini menembus Rp 1 Triliun.
Jika dana sebesar Rp 1 Triliun ini, di bagi kepada 2,7 Juta jiwa di Papua, maka satu jiwa bisa memperoleh kurang lebih Rp 400 Ribu/ tahun. Tapi petunjuknya tidak seperti itu, namun lewat suatu mekanisme, yang akan diatur dari tingkat Distrik, kemudian turun ke kampung.
” Untuk proses pencairannya, tetap akan melalui mekanisme yang sudah diatur, yakni melalui Musdis ( Musyawarah Tingkat Distrik ), yang kami harapkan sudah harus berjalan pada bulan April ini, sehingga pada akhir tahun, diharapkan dana ini sudah dikeluarkan dari KPPN ke rekening masyarakat melalui TPKD, lalu disalurkan ke kampong-kampung. Biasanya 3 bulan sebelum batas tahun anggaran, dana sudah digunakan oleh masyarakat,”kata Koordinator PNPM Mandiri-Respek Provinsi Papua, Wem Ngamelubun,SH.
 Proses perencanaan  ini diharapkan dipercepat, sehingga per 15 desember 2011, dana dari KPPN itu sudah bisa disalurkan ke rekening TPKD, dan ditargetkan per 15 desember 2011 itu dana sudah dicairkan ke rekening masyarakat. Tinggal dari TPKD disalurkan ke kampong-kampung. Alokasi ini ditetapkan untuk masing-masing Distrik, nanti dari Distrik yang akan menyalurkan ke kampong-kampung.
 “Sekarang kita sedang melakukan rekonsiliasi data kampong, 60 persen untuk Kabupaten/ Kota sudah hamper final, tidak lagi generali sama, tetapi perhitungannya akan mengacu pada banyak sekali variable untuk menentukan pembagian 400 miliar itu. Jadi untuk 2011, akan ada perbedaan nilai yang diterima tiap kampong,” jelas Hatari.
Dengan demikian, jika dikalkulasikan secara kasar, maka pada tahun 2011 ini, tiap kampong di Papua akan mengelolah dana PNPM Mandiri –Respek kurang lebih Rp 400- 500 Juta per kampong. “ Luar biasa dana yang akan diterima tiap kampong. Mudah-mudahan pengelolaannya baik, pengendaliannya juga baik, sehingga masyarakat mendapatkan manfaatnya dengan baik ,” kata Wem.
Tetapi tunggu dulu, jika mengutip pernyataan beberapa masyarakat yang kami temui di kampung-kampung ( tidak semua kampung ) selama program ini berjalan dari tahun 2007 hingga 2010, yang mengatakan kalau mereka hanya mendengar bunyi uang, tetapi faktanya mereka tidak melihat uang itu masuk di kampungnya, hal ini menandakan ada persoalan yang terjadi dalam implementasinya.
” Respek ini hampir sama dengan bahasa daerah kami, yang artinya” Tidak tahu”, jadi program ini kami tidak tahu bagaimana, nanti setelah ada barang yang masuk ke kampung, lalu orang bilang, ini barang dari program Respek,” ujar Berthus Sergenem, salah satu tetua adat di kampung Aurimi, padalaman Kabupaten Sarmi.
Jadi, pesan yang didapat dari pernyataan itu adalah bahwa ternyata, mekanisme yang diatur dalam program PNPM Mandiri-Respek, tidak berjalan di kampung ini, mulai dari musyawarah menjaring aspirasi masyarakat hingga kesepakatan. Artinya, bisa saja, pendampingnya tidak sampai turun ke kampung, atau turun ke kampung, tetapi tidak melakukan proses ini, tetapi hanya melalui orang-orang tertentu di kampung itu, lalu membuat kesepakatan dengan oknum tersebut, lalu mengadakan barang sesuai kesepakatan berdua yang tidak diketahui seluruh masyarakat di kampung itu, sebagaimana yang terjadi di beberapa kampung di Kabupaten Sarmi.
“ Selama ini tidak ada pertemuan Respek di kampung, kami tidak lihat uangnya. Nanti kami dapat kabar, kalau barang sudah ada di sini, baru ada yang bilang, ini dari dana Respek. Jadi kami sendiri bingung, Respek itu apa?” ujar salah satu warga di Aurimi, yang kampungnya telah menerima dana Respek dari tahun 2007 ini.
Ini merupakan kesalahan fatal, karena tidak sesuai dengan visi dan misi program ini, diantaranya pemberdayaan, pembelajaran dan transparansi. Tetapi sebaliknya, ini merupakan cara-cara proyek yang masih saja terjadi.
“ Dana ini dimaksudkan bukan saja merupakan alat pemberdayaan, tetapi juga alat pembelajaran, dimana rakyat belajar untuk mengelolah sendiri keuangan mereka. Selain pemberdayaan dan pembelajaran, rakyat Papua juga mempraktekkan demokrasi pembangunan, di mana seluruh rakyat di kampung terlibat, tanpa terkecuali, tidak ada yang perlu mewakili mereka. Lalu aspek berikutnya adalah transparansi,” ungkap sang pencetus Respek, mantan Gubernur Provinsi Papua, Barnabas Suebu,SH. ( bersambung )

Mengikuti Perjalanan Sarmi Kota- Apawer Hulu – Sarmi Kota



Ternyata tidak mudah untuk melakukan perjalanan ke wilayah di sepanjang sungai Apawer. Dari Jayapura (Jumat,1/7), kami menghabiskan waktu 9 Jam perjalanan menggunakan mobil Rental Jenis Avansa ( Full Tangki ) untuk sampai di Ibukota Kabupaten Sarmi. Perjalanan sejauh 300 kilometer itu, sebenarnya dapat ditempuh dalam waktu 6 jam saja, namun karena kondisi jalan dan jembatan yang belum baik, di tambah lagi dengan pungutan liar sejumlah warga dengan dalih memperbaiki jalan di beberapa titik yang kami lewati, akhirnya molor hingga empat jam.
Bermalam di Ibukota Kabupaten Sarmi, paginya( Sabtu,2/7) kami harus mempersiapkan bahan bakar minyak(bbm) untuk perjalanan ke Apawer. Tapi sial, BBM ( Bensin ) yang dibutuhkan sebanyak 600 liter (pulang dan pergi Sarmi-Apawer Hulu ) tidak kami dapati, karena BBM yang tersedia di Agen sudah habis terjual, kami di suruh bersabar tiga hari. Setelah tiga hari menungguh, Selasa(5/7) kami berhasil mendapatkan 600 liter bensin, tapi itupun kami terpaksa keluarkan biaya yang cukup besar dari harga seharusnya, di mana harga sebenarnya, Rp 4500/liter, di jual kepada kami dengan harga Rp 10000/liter. Kami syukuri aja, karena BBM ini jadi rebutan para pengecer, sehingga stok tiba, langsung habis dalam sehari.
Setelah BBM siap, perahu laut dan motoris yang kami sewa sebesar Rp 5 Juta juga telah siap, paginya( Rabu,6/7), setelah melihat cuaca dan keadaan laut cukup kondusif, kami keluar dari pantai Sarmi menuju Apawer. Baru satu jam lepas dari pantai Sarmi, motor tempel jenis Yamaha engine 40 PK, yang menggerakkan perahu kami, tiba-tiba mati. Setelah diperbaiki kerusakan itu, motor kembali bunyi dan perjalanan dilanjutkan. Tetapi satu jam kemudian, motor kembali mati, kami berlabuh di laut hingga satu jam, namun mesin motor yang diperbaiki tak kunjung sembuh dari penyakitnya. Beruntung ada pertolongan dari motoris lainnya yang datang membantu, sehingga kami bisa kembali melanjutkan perjalanan itu.
Akibat terhambat beberapa jam karena masalah mesin itu, laut semakin bergelombang, perahupun dihempas ombak, semua penumpang basah dan perahupun kemasukkan air yang cukup banyak. Gelombang laut semakin tinggi dan anginpun semakin kencang, perahu yang bermuatan tidak mampu mengimbanginya, terpaksa perahu berbelok haluan menuju pantai, untuk mengurangi muatan. Seluruh penumpang yang berjumlah 14 orang termasuk kami, terpaksa harus berjalan kaki menyusuri pantai, hanya menyisahkan seorang motoris dan dua pembantunya untuk melanjutkan perjalanan itu menantang gelombang.
Muara sungai Apawer yang jaraknya 25 kilometer itu, kami tempuh selama 7 jam (12.00-19.00 Wit ) berjalan kaki menyusuri pantai barat Kabupaten Sarmi. Kami kemudian bermalam melepaskan lelah di Kampung Subu yang berada tepat di muara sungai Apawer. Mie dan Kopi Instan menjadi pengganjal perut dan penghangat tubuh, tidurpun tak nyenyak, karena ditemani sang nyamuk dan teman-temannya hingga pagipun datang.
Pagi itu, kami mendapatkan informasi yang tidak mengenakkan, di mana BBM kami sekitar 80 liter, telah dicuri orang. Kami hanya bisa menggeleng-geleng kepala. Entah disengaja oleh Motoris kami atau memang benar-benar dicuri orang, tapi setidaknya hal itu akan sangat  berpengaruh nanti pada perjalanan kami, tapi ya sudahlah, kami kembali bersiap untuk melanjutkan perjalanan.
Dari Kampung Subu, Distrik Pantai Barat ,Kamis(7/7), pukul 7.00 Wit,  kami melanjutkan perjalanan menuju Kampung Kosata Kapeso. Jarak tegak lurus antara Subu dan Kosata adalah 20 kilometer, tetapi karena menyusuri sungai Apawer yang berliku-liku menyerupai pergerakan ular itu, jarak dan waktupun terasa panjang dan lama. Hingga tiba di Kampung Kosata,pukul 11.30 Wit.  Dari data GPS, track sungai yang kami telusuri itu ternyata sejauh 47,3 kilometer, dengan waktu tempuh 4 jam 30 menit.
Setelah istirahat dan dijamu makan siang oleh masyarakat di Kosata, tepat jam 13.30 Wit, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Kampung Bina yang jaraknya 14 kilometer. Tepat pukul 17.00 Wit, kami masuk di Kampung Bina. Jadi kami tempuh perjalanan dari Kosata- Bina memakan waktu 3 jam, 30 menit, dengan track sungai sejauh 37, 2 kilometer.
Di Kampung Bina ini, kami bermalam, lalu paginya, Jumat(8/7), pukul 8.00 Wit, kami kembali melanjutkan perjalanan dengan tujuan Kampung Murara. Jarak ke kampung Murara kami tempuh dalam 3 jam, dengan track sungai sejauh 32,14 kilometer. Perjalanan dilanjutkan ke kampung Airoran. Hanya 1 jam perjalanan, kami tiba di Airoran, dengan track sungai 6,62 kilometer.
Ada rencana untuk menggantikan perahu dengan cole-cole, namun terjadi kesalahpahaman dengan pemilik kole-kole, akhirnya perjalanan ke kampung Kwesar, tetap dilanjutkan dengan perahu dinding berseman. Adapun alasan pergantian perahu, karena perjalanan semakin ke hulu tidak bisa dengan perahu lebar, karena jalur sungai menjadi sempit dan dangkal.
Tetapi beruntung, dengan perahu dinding itu, akhirnya kami tiba di kampung Kwesar, setelah menempuh perjalanan selama 1 jam dari kampung Airoran dengan track sungai sepanjang 14,58 kilometer.
Kami bermalam di kampung Kwesar, paginya, Sabtu(9/7), perjalanan dilanjutkan menuju Kampung Maniwa, dengan perahu kole-kole milik masyarakat Kwesar, sementara perahu dinding, kami tinggalkan di Kwesar. Setelah 2 jam 30 menit, kami tiba di Kampung Maniwa, dengan track sungai 21,74 kilometer.
Setelah menempuh perjalanan 2 jam, kami masuk di kampung Tamaja, dengan track sungai sepanjang 31 kilometer, padahal jarak lurus Maniwa- Tamaja hanya 11 kilometer. Di tempat ini juga kami melihat keadaan sungai untuk perjalanan selanjutnya ke Sasaupece. Tetapi kondisi sungai tidak memungkinkan, kami kemudian bermalam.
Minggu pagi(10/7), keadaan sungai semakin dangkal, tidak memungkinkan untuk perahu kole-kole menuju kampung Sasaupece. Akhirnya kami memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Kampung Aurimi. Hanya 10 menit dari Tamaja ke pelabuhan Aurimi, selanjutnya, kami berjalan kaki sejauh 3 kilometer dengan waktu tempuh 30 menit, akhirnya tiba di kampung Aurimi.
Setelah 5 hari di Kampung Aurimi, merujuk pada hasil diskusi dengan masyarakat, kami menjadi penasaran untuk melihat kampung Wamariri ( tempat tembusan jalan darat dari Sarmi ). Lalu pada Jumat(15/7), bersama 3 orang masyarakat kampung Aurimi, kami melakukan perjalanan menuju Sarmi dengan berjalan kaki. Kami berangkat pukul 7.30 Wit, dan tiba di kampung Muaim pada pukul 17.00 Wit. Jarak yang kami tempuh adalah 20 kilometer, sementara jarak lurusnya 15 kilometer.
Setelah bermalam di kampung Muaim, paginya,Sabtu(16/7), pukul 9.00 Wit, kami melanjutkan perjalanan menuju kampung Wamariri. Setelah berjalan sejauh 16 kilometer, akhirnya kami tiba di Wamariri pukul 14.30 Wit, padahal, Jarak lurus Muaim- Wamariri hanya 10 kilometer.
Kami sangat beruntung sore itu, karena bisa mendapatkan truck yang akan turun ke Sarmi. Padahal, sudah seminggu, tidak ada kendaraan yang masuk ke kampung Wamariri. Jarak lurus Wamariri- Sarmi adalah 30 kilometer, tetapi track perjalanan mengikuti jalan truck, ternyata jarak yang kami tempuh hingga tiba di Kota Sarmi adalah 41 kilometer. Kami keluar dari Wamariri pukul 15.30 Wit, dan tiba di Kota Sarmi pukul 17.00 Wit. Demikian sekilas gambaran  perjalanan dari Kota Sarmi Sarmi- Apawer Hulu.(alberth yomo)