Sabtu, 24 Maret 2012

Gerbang Brandenburg_8 Maret 2012




Gerbang Brandenburg (Jerman: Brandenburger Tor) merupakan bekas gerbang kota dan salah satu simbol utama Berlin, Jerman. Terletak antara Pariser Platz dan Platz des 18. März dan merupakan satu-satunya gerbang yang tersisa yang sebelumnya pintu masuk ke Berlin. Satu blok ke utara berdiri Reichstag. Gerbang ini mengawali pemindahan Unter den Linden, jalan terkenal dengan pohon linden yang mengarah langsung ke kediaman kerajaan. Diusulkan oleh Friedrich Wilhelm II sebagai simbol perdamaian dan dibangun oleh Carl Gotthard Langhans sejak 1788 hingga 1791.
Gerbang Brandenburg terdiri dari dua belas kolom Doric, enam di setiap sisi, membentuk lima pintu masuk menuju jalan raya. Warga hanya diperbolehkan menggunakan bagian sisinya. Di atas gerbang adalah Quadriga, dengan Viktoria, dewi kemenangan Romawi mengendarai Quadriga. Quadriga menghadap ke Timur.
Desain Gerbang didasarkan pada Propylaea, gerbang masuk ke Acropolis di Athena, Yunani dan berkaitan dengan sejarah Berlin pada klasikisme arsitektur (pertama, Baroque, dan neo-Palladian). Gerbang ini adalah "Athena di Tepi Sungai" pertama oleh arstiek Karl Gotthard von Langhans. Quadriga dibuat oleh Johann Gottfried Schadow.

Bentuk Gerbang Brandenburg tidak berubah sejak selesai dibangun dan memainkan peran politik dalam sejarah Jerman. Setelah kekalahan Prusia tahun 1806 pada Pertempuran Jena-Auerstedt, Napoleon membawa Quadriga ke Paris. Setelah kekalahan Napoleon tahun 1814 dan pendudukan Paris oleh Prusia dipimpin Jenderal Ernst von Pfuel, Quadriga dikembalikan ke Belin; dan ikat kepala zaitun Viktoria ditukar dengan Salib Besi, sehingga menjadi Nike, dewi kemenangan Yunani.
Ketika Nazi bangkit mereka menggunakan Gerbang sebagai simbol. Gerbang ini selamat dari Perang Dunia II dan merupakan satu dari beberapa struktur yang berdiri di reruntuhan Pariser Platz tahun 1945 (yang lainnya Akademi Seni Modern). Setelah kekalahan Jerman dan akhir perang dunia kedua, pemerintah Berlin Timur dan Berlin Barat memperbaikinya bersama. Kendaraan dan warga dapat bepergian secara bebas melalui gerbang, hingga Agustus 1961 ketika Tembok Berlin dibangun. Tembok dan jalan kematian membentang di barat gerbang, memotong akses dari Berlin Barat dan melewati Berlin Timur. Pada waktu itu, Quadriga dihadapkan ke Timur.
Tahun 1963, Presiden AS John F. Kennedy mengunjungi Gerbang Brandenburg. Soviet mengibarkan spanduk untuk mencegahnya melihat ke Timur Tahun 1980-an, mengenai dua negara Jerman, walikota Berlin Barat Richard von Weizsäcker mengatakan: Pertanyaan Jerman akan dibiarkan selama Gerbang Brandenburg ditutup.
Tanggal 12 Juni 1987, Presiden AS Ronald Reagan berbicara kepada warga Berlin Barat di Gerbang Brandenburg, menuntut pembukaan Tembok Berlin. Kepada Sekretaris Jenderal CPSU Mikhail Gorbachev, Reagan mengatakan,
Sekretaris Jenderal Gorbachev, bila Anda mencari perdamaian, bila Anda mencari kemakmuran Uni Soviet dan Eropa Timur, bila Anda mencari kebebasan: Datanglah ke gerbang ini! Tn. Gorbachev, bukalah gerbang ini! Tn. Gorbachev, runtuhkan tembok ini!
Ketika Revolusi 1989 terjadi dan Tembok Berlin runtuh, Gerbang ini menggambarkan kebebasan dan keinginan menyatukan Kota Berlin. Tanggal 22 Desember 1989, Gerbang Brandenburg dibuka kembali dengan Helmut Kohl, Kanselir Jerman Barat, berjalan melaluinya dan disambut oleh Hans Modrow, Perdana Menteri Jerman Timur.
Tanggal 12 Juli 1994, Presiden AS Bill Clinton berbicara di Gerbang mengenai perdamaian setelah Perang Dingin Eropa.
Tanggal 21 Desember 2000, Gebrang Brandenburg diperbaiki dengan biaya 6 juta dolar.
Gerbang Brandenburg sekarang ditutup kembali untuk lalu lintas kendaraan, dan sebagian Pariser Platz diubah menjadi zona pejalan kaki batu bata.**

Kamis, 08 Maret 2012

Tarian Murop Pegunungan Bintang Papua Di Berlin Jerman

foto a.yomo_1

foto a.yomo_2

foto a.yomo_3

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia, yang diwakili oleh Director of Internasional Tourism Promotion Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia, Nia Niscaya, mengaku kaget tapi juga merasakan kebahagiaan yang luar biasa, setelah melihat tarian adat yang dipersembahkan oleh para penari asal Pegunungan Bintang Papua, pada pembukaan pameran Pariwisata Internasional ITB Berlin, yang berlangsung di Berlin, Jerman, Rabu(7/3)lalu.
“ Ini surprise, saya tidak menduga Papua bisa hadir dalam iven sebesar ini, apalagi bisa menampilkan tarian adatnya. Luar biasa, hari ini saya sangat bahagia dan bangga, karena ditengah-tengah acara yang padat dan ramai ini, tim tari dari Indonesia yang diwakili oleh saudara-saudara saya dari Papua membuat seluruh pandangan mata para pengunjung dari berbagai negara, tertuju kepada stand Indonesia,” ungkap Nia Niscaya.
Nia menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para penari, kepada Pemerintah Provinsi Papua dan kepada Pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang, yang telah memberi dukungannya melalui tim tari Murop Tabib Pegunungan Bintang Papua, sehingga dari penampilan itu, memberi efek yang positif pada stand Indonesia, pengunjung banyak yang datang dan bertanya.
Nia berharap, Pemerintah Provinsi Papua secepatnya membenahi infrastruktur transportasi dan akomodasi yang mendukung kegiatan wisatawan, disamping itu harus memberikan jaminan keamanan, karena melalui promosi ini, banyak wisatawan akan berkunjung ke Papua, apalagi Papua dikenal sebagai daerah yang masih utuh alamnya, yang merupakan daya tarik luar biasa, khususnya bagi wisatawan dari Eropa.
Sementara itu, Gubernur Provinsi Papua yang diwakili oleh Kepala Biro Humas dan Protokol, Anni Rumbiak,SE,MM juga terharu dan mengaku bangga, karena Papua berhasil mewakili Indonesia dan mempersembahkan salah satu bagian dari kekayaan yang dimiliki di bumi cenderawasih dalam Iven Internasional yang dihadiri 178 Negara ini.
“ Terima kasih buat para penari, karena telah memberikan warna yang berbeda dalam Iven Internasional ini, ke depannya, perlu ada koordinasi yang lebih baik lagi dengan seluruh Pemerintah Kabupaten se-Papua dan Pemerintah Provinsi Papua serta para agen wisata, sehingga menciptakan peluang yang lebih besar lagi bagi peningkatan kunjungan wisata ke Papua,” tandas Anni Rumbiak.
Tim tari Murop Tabib asal Pegunungan Bintang Papua ini, awalnya diberi kesempatan hanya sekali pentas, tetapi seiring banyaknya permintaan dari pengunjung yang tidak sempat melihat tarian ini, akhirya panitia ITB Berlin meminta Indonesia untuk menampilkan kembali tarian asal Papua itu.” Sungguh luar biasa, semoga ke depannya Papua bisa lebih siap lagi,” tandas koordinator tim tari, Silvester Oropyana.
Silvesterpun mencucurkan air matanya ketika diwawancarai, ia mengucap syukur kepada Tuhan Yesus yang telah memberikan kesempatan kepada dirinya dan 10 penarinya, sehingga bisa berkunjung ke Jerman.”Ini sejarah, kami akan ingat seumur hidup kami, karena kami tidak tampil di tingkat kampung, tingkat Distrik, tingkat Kabupaten,tingkat Provinsi atau tingkat Nasional, tetapi ini di tingkat Internasional,” ujar Silvester dengan bangga.(alberth yomo- Berlin, Jerman)