Rabu, 20 Juni 2012

Gagahnya Felabhe, Memukau Ribuan Wisatawan

Penari Felabhe

Simulasi perang ( felabhe )oleh 500 lebih penari dari 24 kampung di danau sentani
Siang itu, matahari bersinar terlalu terik. Namun hal itu tak menyurutkan semangat warga di sekitar Danau Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, untuk melangsungkan Felabhe. Tari perang ini menjadi pembuka Festival Danau Sentani 2012.

Saya tak sangsi lagi akan anggapan bahwa Papua punya sembilan matahari. Pada Selasa (19/6/2012) kemarin, mata saya sampai sakit dibuatnya. Sepuluh menit berdiri di bawah sinar matahari lalu kulit saya mulai memerah. Namun, saya bukanlah satu-satunya orang yang merasakan siksaan matahari siang itu.

Saya berada di antara ribuan orang yang menghadiri pembukaan Festival Danau Sentani (FDS) 2012. Warga lokal, pemerintah daerah, juga wisatawan domestik dan mancanegara berbondong-bondong memenuhi Kawasan Wisata Kalkhote Danau Sentani yang terletak di Kabupaten Jayapura, Papua.

Salah satu alasan mereka memenuhi tempat ini adalah Felabhe. Ini adalah tari perang khas masyarakat di sekitar Danau Sentani. Konon, kegagahan tari ini menggaet banyak wisatawan dari luar negeri. 

Seorang penyanyi mulai melantunkan lagu adat berirama menghentak. Awalnya, pandangan saya tertuju pada seorang pemimpin perang yang mengenakan Khombou, pakaian adat Papua dengan rok berbahan jerami. Sang pemimpin perang membawa tombak panjang, berjalan di jembatan sambil menghentakkan kaki sesuai irama.

Tiba-tiba, muncullah kapal-kapal dari kejauhan. Ada sekitar 7-8 kapal yang membelah Danau Sentani, menuju ke arah para penonton di Kalkhote. Ada lebih dari 500 orang yang memenuhi kapal-kapal itu. Mereka berasal dari 24 desa berbeda di sekitar Danau Sentani.

Kapal-kapal itu seluruhnya berisi pria, yang juga mengenakan Khombou. Ada yang membawa tombak, ada pula yang memegang busur panah. Mereka ikut menyanyi lagu adat, mengarahkan busur panah ke berbagai arah. Lalu sinar matahari yang sangat terik itu menjadi salah satu bagian perpaduan yang apik: tarian, nyanyian, danau, langit biru, serta bukit-bukit hijau yang melatarbelakangi mereka semua. Indah.

Satu per satu kapal bersandar ke jembatan. Para pasukan perang pun turun dan mulai melakukan gerakan yang sama dengan sang pemimpin: menyanyi sambil menghentakkan kaki. Rupanya tak hanya lelaki dewasa, tapi juga anak-anak yang sangat lucu dan sumringah, mengacung-acungkan tombak kayu sesuai ukuran tubuh mereka.

Jembatan kayu itu lalu penuh oleh para pasukan perang. Dengan aba-aba, mereka berlari menuju depan panggung utama yang sebelumnya digunakan untuk pembukaan FDS. Sambil menyanyi dan menari, mereka membentuk barisan. Irama lagu pun semakin lama semakin cepat. Mereka menari cukup lama, sekitar setengah jam.

Para wisatawan tak menyia-nyiakan hal ini dengan cara berfoto bersama. Para penari pun dengan ramah meminjamkan tombak atau busur panah mereka. Saat aba-aba kembali diteriakkan, mereka semua kembali berlari ke jembatan.

"Sekali pun aku mati, aku tak akan menyesal jadi orang Sentani!" teriak penyanyi yang memberi aba-aba barusan. Kalimat yang diteriakkan itu berhasil jadi suplemen bagi para pasukan perang. Mereka semakin semangat menari, walaupun matahari semakin terik. Di tengah siksaan matahari itu, seketika saya merinding.

Tapi tunggu dulu, rupanya Felabhe belum selesai. Setelah kembali berbaris di jembatan, kapal-kapal lain datang dari kejauhan. Setelah kapal-kapal itu mendekat, saya pun sadar kalau isinya semua perempuan!

Rupanya tarian perang ini berakhir dengan sukacita. Para pasukan yang memenangkan perang lalu dijemput oleh wanita-wanita terkasihnya, yang mengenakan Khombou dan membawa balon warna-warni di tiap kapal. Balon warna-warni itu pun dilepas ke udara, pertanda kebahagiaan di akhir cerita.

Para pengunjung bersorak-sorai. Tak ada yang menyangka, sebuah tarian perang berujung bahagia layaknya dongeng. Namun, Felabhe menyiratkan
sebuah makna bahwa masyarakat Sentani telah berhasil melewati masa-masa sulit hingga sekarang disambut dengan sukacita oleh seluruh dunia. Tari perang yang gagah ini berhasil membuat wisatawan tepuk tangan cukup lama.( Oleh: Sri Anindiati Nursastri - detikTravel )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar