Sabtu, 10 Desember 2011

Perjalanan ke Kampung Rapamerei Distrik Sawai Kabupaten Mamberamo Raya


Kampung Rapamerei, merupakan salah satu Kampung yang masuk dalam wilayah administratif Pemerintahan Distrik Sawai Kabupaten Mamberamo Raya. Selama tiga minggu, kami melakukan kunjungan ke wilayah ini, bagaimana kondisi transportasi ke wilayah ini?
Kampung Rapamerei berada pada jarak kurang lebih 111 kilometer ke arah timur dari Kota Serui Kabupaten Kepulauan Yapen atau 100 kilometer arah barat laut dari Kasonaweja Ibukota Kabupaten Mamberamo Raya. Dari Ibukota Distrik Sawai, Kampung Poiway, jaraknya 17 kilometer ke arah timur .
Tidak mudah untuk sampai di Kampung Rapamerei, satu-satunya penghubung ke wilayah ini adalah melalui jalur transportasi laut dan sungai, baik menggunakan kapal perintis, kapal kayu ataupun menggunakan speedboat dan longboat dari Serui. Belum adanya rute khusus transportasi komersial ke wilayah ini, menyebabkan masyarakat setempat memiliki akses yang sangat terbatas untuk keluar masuk  Kampung Rapamerei.
Bukan hanya Kampung Rapamerei, kampung-kampung tetangga lainnya yang berada dalam satu wilayah topografi seperti Poiway, Bonoi, Sorabi, Anasi ataupun Tamakuri memiliki persoalan yang sama, yaitu terbatasnya sarana prasarana transportasi. Persoalan ini telah melilit masyarakat di wilayah ini selama berpuluh-puluh tahun.
“ Bukan hanya di kampung ini saja, masyarakat lainnya di Kampung Poiway, Bonoi, Sorabi, Anasi dan Tamakuri juga kesulitan masalah transportasi. Sudah bertahun-tahun kami tidak diperhatikan, jadi akses masyarakat dari Kampung-kampung ini untuk ke kota juga sangat terbatas, hanya orang-orang tertentu yang memiliki speedboat yang bisa keluar, kalau ada masyarakat yang mau ikut, butuh negosiasi tenggang rasa,” ujar Pjs Kepala Kampung Rapamerei, Maurits Pameinai.
Akses termurah dan cepat untuk sampai ke wilayah ini, sementara masih lebih nyaman ditempuh lewat Kota Serui, baik melalui Kapal Kayu maupun speedboat. Jika menggunakan speedboat engine 40 PK, waktu tempuh hanya 4 -5 jam, sementara dengan kapal kayu, waktu yang habis diperjalanan kurang lebih 10-12 jam ( tanpa hambatan ).
Karena tidak ada rute pasti komersial, jadi kami harus  mencarter speedboat 2 engine 40PK, tidak murah memang, kami harus membayar Rp 7 juta dari Serui untuk Tujuan Poiway dan Barapasi. Setelah bermalam di Poiway, paginya kami melanjutkan perjalanan ke Rapamerei, dengan speedboat lokal, tarifnya Rp 1 Juta hanya untuk Pergi ( tarif tidak menentu, bisa berubah, tergantung harga BBM setempat dan kebijakan pemilik speedboat atau motoris).
Jika menggunakan kapal kayu, biaya sewanya berkisar Rp 6-10 Juta, tetapi pilihan menggunakan kapal kayu, lebih cocok ketika membawa barang dalam jumlah besar, apakah untuk kebutuhan bangunan atau untuk kebutuhan lainnya.
Andai saja, Pemerintah atau pihak swasta yang mengelolah transportasi kapal perintis selalu konsekuen dan memiliki jadwal pasti dalam melakukan pelayaran ke pelabuhan  Kurudu, biayanya mungkin bisa lebih murah, karena akses dari Kurudu ke Poiway dan Barapasi sangat dekat dan tidak besar resikonya. Tetapi karena jadwal kapal perintis juga tidak pasti, sehingga satu-satunya cara yang cepat adalah dengan mencarter speedboat atau Kapal kayu dari Serui.
“ Kita tidak bisa harap kapal perintis, orang di Kurudu sendiri saja tidak tahu kapan kapal perintis masuk, jadi kami yang jauh juga buta soal jadwal masuk kapal perintis yang tidak jelas itu. Pemerintah Provinsi seharusnya memperhatikan hal ini dengan baik,” harap Maurits Pameinai.
Perjalanan ke wilayah ini, bisa juga dilakukan dari Kasonaweja, ibukota Kabupaten Mamberamo Raya, tetapi costnya sangat tinggi, dibutuhkan paling sedikit 600 liter BBM, dengan menempuh perjalanan yang beresiko ketika laut dan muara sungai Mamberamo sedang mengamuk. Sebenarnya pilihan lewat Serui juga tidak seratus persen nyaman, tetap saja bergantung pada kondisi laut, jika laut tenang, maka kecil resikonya, jika laut mengamuk, tetap saja berbahaya untuk dilewati, terutama ketika melewati selat Sasuarai antara pulau Yapen dan Kurudu.
“ Aduh susah kalau lewat Kasonaweja, kami saja harus pikir dua kali untuk ke Kasonaweja. Bahan Bakar saja perlu sekitar 3 drum ( 600 liter ), belum lagi pikir keselamatan jika terpaksa harus lewat laut. Biasanya kami memilih lewat jalur Gesa, itupun tergantung lagi pada kendaraan perusahaan yang beroperasi di sana, untuk bisa kami tumpangi agar sampai di Trimuris. Ya, setidaknya kalau lancar bisa dua hari baru sampai di Kasonaweja,” tandas Maurits.
Transit di Kampung Poiway, Ada yang berbeda dari kunjungan sebelumnya
Ketika transit di Kampung Poiway yang merupakan Ibukota dari Distrik Sawai, Kabupaten Mamberamo Raya, ada pemandangan yang berbeda dari kunjungan sebulan sebelumnya  ke Kampung ini. Apa saja perubahan yang terjadi?
Memasuki pelabuhan Poiway, tampak tumpukkan batu tela, semen dan kayu balok yang tersusun rapi di pintu keluar Halte pelabuhan Kampung. Beberapa menit kemudian, terlihat sebuah mobil pick up hitam Toyota, menuruni sebuah bukit kecil mengikuti jalan yang menuju ke arah pelabuhan tempat kami berdiri.
“ Mobil Pick up ini baru didatangkan beberapa minggu lalu oleh CV yang menangani proyek pembangunan 16 rumah sehat milik masyarakat Kampung Poiway dari bantuan Pemerintah Kabupaten Mamberamo Raya. Target mereka, akhir tahun ini proyek tersebut selesai, dan 16 Kepala Keluarga sudah bisa menempati rumah barunya,” jelas Kaur Pembangunan Kampung Poiway, Obeth Iwanggin.
Obeth menjelaskan, mengingat jalan Kampung Poiway yang panjangnya sekitar 2 kilometer hanya memiliki satu pintu masuk, sehingga mereka mendatangkan mobil pick up ini, agar mampu memobilisasi bahan-bahan bangunan ke tempatnya dengan cepat, agar pekerjaan juga bisa selesai dengan cepat.
Dengan demikian, di Kampung Poiway sudah ada dua unit kendaraan pengangkut barang, yaitu Bemo dan Toyota Pick up.” Karena itu, kami kerahkan masyarakat untuk melakukan pekerjaan pelebaran jalan, dan dengan jalan yang lebarnya 4 meter ini, maka mobil Pick up dan Bemo bisa lancar beroperasi,” jelas Obeth.
Selain proyek pembangunan 16 rumah sehat dari Pemerintah Kabupaten Mamberamo Raya yang dikerjakan melalui CV, masyarakat di Kampung Poiway juga disibukkan dengan pemasangan instalasi listrik di semua rumah dan ujicoba mesin pembangkit listrik yang baru,  dari program PNPM Mandiri Respek.
“ Ya, pada tahun 2010 lalu kami usulkan pemasangan instalasi listrik dan pembelian satu unit mesin pembangkit listrik, namun barangnya baru tiba di Kampung pada bulan ini, sehingga kami juga baru mau mulai memasang instalasi, dan apabila semua rumah sudah terpasang sambungan listrik, maka Mesin ini akan dihidupkan,” jelas Kepala Kampung Poiway, Onesimus Manemi.
Wajah kepala kampung dan sejumlah masyarakat yang ditemui di lokasi penempatan mesin pembangkit listrik ini nampak ceria dan begitu bersemangat untuk melihat dengan segera, mesin yang dibeli dengan harga Rp 70 Juta itu, bisa mengeluarkan suara gemuruhnya, lalu mengeluarkan tenaganya untuk menerangi kampung mereka.
 Kepala Kampung Onesimus Manemi mengaku bangga, baik kepada Pemerintah Kabupaten Mamberamo Raya, Pemerintah Provinsi Papua dan Pemerintah Pusat yang telah memberikan perhatian nyata dalam 5 tahun terakhir, sehingga kampung mereka bisa mengalami kemajuan yang luar biasa.
Kata Ones, bukan saja fisik yang nyata saat ini, tetapi juga ada bantuan melalui dana pemberdayaan kampung yang besarnya Rp 200 juta per tahun, dan honor aparat kampung yang cukup besar, turut memberikan andil dalam perbaikan ekonomi keluarga, perbaikan pendidikan dan kesehatan bagi anak-anak dan seluruh masyarakat di Kampung Poiway.
Ones berharap, perhatian ini hendaknya terus ditingkatkan, terutama ke kampung-kampung terpencil, sehingga masalah keterbelakangan pembangunan bisa segera teratasi.  Kalaupun ada masalah, selalu ada evaluasi, sehingga dari tahun ke tahun program ini akan semakin memberikan gairah bagi kemajuan fisik di kampung, tetapi juga bagi kemajuan masyarakat di kampung-kampung di seluruh Tanah Papua.


Hutan Mangrove Sebagai Rumah dan Lumbung Makanan
Dari Kampung Poiway, kami kemudian melakukan perjalanan ke Kampung Rapamerei menggunakan satu speedboat dengan satu engine 40PK. Jarak lurus ke Rapamerei dari Kampung Poiway adalah 17 kilometer ke arah timur, dengan waktu tempuh diperkirakan 30 menit. Bagaimana perjalanan itu?
Melepas pergi pelabuhan Poiway, selanjutnya yang tampak dihadapan mata kami adalah pemandangan ekosistem hutan Mangrove atau biasa disebut juga dengan hutan Bakau. Dari alur sungai yang lebar hingga alur sungai yang sempit bentukkan populasi mangrove ini, mata hanya memandang satu populasi tanaman, yaitu pohon mangrove. Meskipun ada pula tanaman lain, namun dominansi mangrove benar-benar menutupi pandangan kami. Ketika menyusuri alur sungai yang sempit, hidung akan menerima aroma hutan mangrove yang khas ini.
“ Inilah rumah makan kami, karena dari sinilah kami bisa dapatkan ikan, buaya, kepiting, kerang, udang dan sagu yang tidak pernah habis-habis sebagai sumber makanan yang memberi kehidupan kepada kami masyarakat di sini,” ungkap kepala kampung Rapamerei, Oddy Pameinai terkiat keberadaan hutan mangrove yang menutupi wilayah mereka yang luas itu.
Kata Oddy, air yang tenang dalam wilayah ini ( Hutan Mangrove ) jangan dikira tidak ada sumber makanan, tinggal siapkan mata kail, nelon atau jala, sudah tidak susah untuk menikmati ikan, tinggal disesuaikan dengan kemampuan. Demikian halnya dengan buaya, udang, kepiting dan kerang, semua tersedia melimpah dalam ekosistem mangrove ini.
Wajah Kampung Berubah Karena PNPM Respek dan Pemberdayaan Kampung
Setelah 30 menit perjalanan, akhirnya kami tiba juga di Kampung Rapamerei, tampak di pelabuhan Rapamerei, sebuah kapal kayu sedang berlabuh. “ Mereka adalah para pedagang orang bugis makasar yang menjual barang-barang “pecah belah” atau barang-barang dapur ,” jelas salah satu warga di Kampung Rapamerei.
Ternyata para pedagang ini mencoba keberuntungannya di Kampung ini dan kampung-kampung terdekat lainnya, seperti Bonoi yang adalah kampung tetangga dari Rapamerei. “ Sudah 4 hari  kami di sini, dan hasilnya cukup memuaskan, karena separuh barang bawaan kami habis terjual di dua kampung ini, yakni Rapamerei dan Bonoi,” ungkap salah satu pedagang  dari Kapal itu yang ditemui di pelabuhan Rapamerei.
Dari pelabuhan, selanjutnya kami berjalan kaki menuju rumah Kepala Kampung yang jaraknya sekitar 50 meter dari dermaga pelabuhan. Beberapa menit kemudian, tuan rumah telah menyediakan kopi dan teh hangat. Sambil menikmati segelas kopi hitam di rumah kepala kampung, kami mulai dengan diskusi lepas tentang pembangunan yang dilakukan Pemerintah di Kampung Rapamerei.
“ Ya, kami masyarakat di Kampung ini baru merasakan pembangunan yang nyata itu terjadi dalam 5 tahun ini, setelah adanya pemekaran Kabupaten Mamberamo Raya. Setelah masuk Kabupaten Mamberamo Raya, barulah kami mendapat perhatian yang sangat luar biasa, bukan saja kepada masyarakat, tetapi juga untuk kami aparat kampung,” jelas Kepala Kampung Rapamerei, Oddy Pameinai.
Oddy mencontohkan dana pemberdayaan kampung yang dialokasikan Rp 200 Juta/tahun ke Kampungnya, kemudian ditambah dengan program PNPM Mandiri Respek yang dananya bisa lebih dari 300 Juta per tahun itu, benar-benar telah mengubah fisik di kampung mereka, tetapi juga mengubah pesimisme masyarakat menjadi optimisme.
Dengan dana PNPM Mandiri Respek selama 4 tahun, masyarakat berhasil membangun jalan kampung sepanjang 3 kilometer dengan kontruksi rabat beton, kemudian membangun pipanisasi untuk jaringan air bersih ke rumah-rumah, selain itu juga dibangun 32 unit wc pada 32 rumah, pengadaan 32 unit mesin babat rumput bagi 32 kepala keluarga, pemasangan instalasi listrik dan pengadaan mesin pembangkit tenaga listrik, serta terakhir tahun 2010 lalu, pengadaan 2 speedboat dengan 2 engine 40 PK.
“ Saya kira perhatian Pemerintah ke kampung-kampung sudah cukup baik, karena melalui dana pemberdayaan kampung dan program PNPM Mandiri Respek saja, itu sudah sangat membantu pembangunan di Kampung. Hanya yang perlu di perhatikan adalah soal pelayanan pendidikan dan kesehatan serta akses-akses transportasi,” pinta Oddy Pameinai.
Kata Oddy lagi, bahwa sudah tiga kali Kampung Rapamerei mengalami tiga masa peralihan Pemerintahan, mulai dari Kabupaten Yapen Waropen, kemudian Kabupaten Waropen, dan terakhir tahun 2007, masuk dalam Pemerintahan Kabupaten Mamberamo Raya, bersamaan dengan dimekarkannya Kabupaten Mamberamo Raya, terpisah dari Kabupaten Sarmi, dan pada masa inilah, dianggap sebagai masa yang cukup baik bagi kehidupan masyarakat di Kampung Rapamerei.(a.yomo)








Tidak ada komentar:

Posting Komentar