Jumat, 10 Juni 2011

Hari Lingkungan Hidup 2011 Jangan Hanya Sebagai Penggembira

Bastian Wamafma, Direktur Yayasan Lingkungan Hidup Papua

Jayapura- Perayaan Hari Lingkungan Hidup (HLH ) tahun ini dibawah tema “Hutan Penyangga Kehidupan”, memiliki arti penting sebagai penyangga keseimbangan antara manusia dan alamnya, fungsi ini dapat dicapai apabila hutan-hutan tersebut terjaga kelestariannya.
“ Memperingati Hari Lingkungan Hidup saya menyampaikan selamat merayakan HLH 5 Juni 2011 kepada Gubernur Provinsi Papua beserta jajaran teknis yang tetap konsisten dalam memajukan pembangunan berkelanjutan di Provinsi Papua,” ungkap Direktur Yayasan Lingkungan Hidup Papua, Bastian Wamafma, di ruang kerjanya, kemarin.
Kata Bas, panggilan akrab Bastian, bahwa untuk menjaga agar fungsi ini tetap efektif, berbagai upaya sudah dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Papua dan akan terus dilakukan dalam rangka menelurkan kebijakan yang berhubungan dengan pengelolaan lingkungan hidup secara berkelanjutan sebut saja PERDASI nomor 6 tahun 2008 PERDASUS 21 tahun 2008 dan kebijakan lainnya yang implementasinya telah dilakukan oleh pemerintah dengan mengajak berbagai stakeholders.
“ Namun,  hal ini akan menjadi lebih efektif apabila setiap stakeholders memedomani apa yang telah dilakukan oleh pemerintah dalam setiap kebijakan internalnya, karena apalah artinya pemerintah melakuan segala upaya tetapi stakeholders hanya sebagai pengggembira dalam setiap event-event lingkungan hidup setiap tahunnya,” tandasnya.
Seharusnya, kata Bas,  stakeholders dan pemerintah melakukan “gerakan hati nurani penyelamatan lingkungan hidup” dimana semua orang harus merasa bahwa dengan kelestarian lingkungan hidup berarti hidupnya juga terjamin.
“ Seperti yang berkembang di wilayah Kota dan Kabupaten Jayapura sehubungan dengan Cagar Alam Cyclop, berbagai kebijakan telah ditelurkan, berbagai event telah dilangsungkan tetapi semuanya bermuara pada pencapaian proyek, hal ini seolah-olah Cyclop akan terselematkan bila ada uang, kalau tarada uang Cyclop tidak bisa terselamatkan,” bebernya.
 Dengan kondisi seperti ini, Bas berharap,  perlu dilakukan upaya secara kontinyu melalui pendampingan terus menerus dan bukan pendampingan tiba berangkat di area ini dengan even-even yang berujung pada menumbuhkan kesadaran misalnya saja dengan melakukan penyuluhan-penyuluhan di seluruh area ini pada segala level.
“Sebaiknya hari ini kita semua menyadari bahwa ketika hutan di Cyclop rusak kitong semua nanti susah terutama susah air, mau pemerintah ka masyarakat atau perusahaan pasti semua menderita jadi stop bikin rusak Cyclop, supaya hari ini, esok dan nanti kitong tidak menderita,” pintanya. (alberth yomo)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar