Minggu, 08 Mei 2011

Ketika Jalan Demta Yang Rusak Parah Tidak Diperdulikan Pemerintah

Distrik Demta Kabupaten Jayapura, berada kurang lebih 100 km arah timur dari Ibukota Kabupaten Jayapura atau berada di pantai utara pulau Papua, dan terletak pada bibir pantai pertengahan antara Sarmi dan Jayapura. Untuk sampai di kampong ini, dapat menggunakan transportasi laut dan darat. Namun, dibandingkan transportasi laut yang beresiko dengan terpaan gelombang laut, masyarakat lebih memilih menggunakan jalur darat, tetapi persoalan lain menghadang, yakni kondisi jalannya semakin rusak parah…

Laporan : Alberth Yomo

Pada tahun 1994 ketika masih duduk dibangku SD, saya pernah mengikuti ayah bersama sejumlah mahasiswa menggunakan Bus milik Dinas Perhubungan dari Kota Jayapura menuju Demta. Selama menempuh kurang lebih dua jam perjalananan dari Jayapura - Berap dengan kondisi jalan yang mulus dan beraspal aku sempat tertidur. Namun tidurku dan juga semua penumpang dalam bus akhirnya terganggu, setelah Bus mulai melepas kampong Berap dan menuju Kampung Demta yang masih menyisahkan 21 kilometer lagi.
Karena kondisi jalannya yang bergelombang, berlubang, licin dan berlumpur, dalam perjalanan itu, kami terpontang-panting ke kiri dan ke kanan, bahkan sejumlah mahasiswa ada yang kepalanya terbentur pada sisi tempat duduk, ada yang mual dan muntah dan saat itu semua berpegang erat pada kursi dan tempat pegangan dalam bus. Sesekali Bus terhenti, karena tertahan dalam lumpur.Setelah kurang lebih 3 jam bertahan melewati jalan yang rusak itu, kami akhirnya tiba di kampong Demta dengan selamat.
Sungguh Ironis kenyataan yang ada di depan mataku, selama 17 tahun meninggalkan jalan rusak itu, bukannya jalan mulus beraspal yang aku harapkan, justru keadaannya tetap sama, bahkan tidak jauh beda dengan keadaan pada 17 tahun lalu. Hatiku bertanya, kenapa jalan ini tidak mampu diselesaikan oleh Pemerintah? Otsus Papua sudah berjalan hamper 11 tahun, kenapa jalan ini tidak diperhatikan? Pemerintah payah…..
 Bagi sebagian besar penduduk di pantai utara,  Demta sering dijuluki sebagai Kota Tua, karena sejak zaman Belanda dari tahun 1906 yang ketika itu kepala pemerintahan setempat disebut dengan istilah Bestuur ( Camat/ Distrik ) menjadi pusat aktifitas manusia teramai ketika itu. Mobilisasi penduduk dan bahan pangan dilakukan melalui transportasi laut.
Kemudian dalam perkembangannya, pada awal tahun 80-an, daerah ini menjadi basis perusahaan-perusahaan besar yang mengeksploitasi sumber daya alam Papua. “Perusahaan pertama yang masuk ke wilayah ini pada tahun 1984 adalah PT You Lim Sari, adalah sebuah perusahan besar dan terkenal ketika itu yang mengeksploitasi kayu log, kemudian Perusahaan Rifi pada tahun 1989, lalu Barito Putra pada tahun 2000, Gisand Abadi, PT Andato dan terakhir PT Sinar Mas yang masuk tahun 2000,” ungkap Sekretaris Distrik Demta, Alex Reniban,S.Sos, di ruang kerjanya beberapa waktu lalu.
Namun, hingga saat ini hanya PT Sinar Mas yang masih aktif beroperasi, sedangkan perusahaan lainnya sebagaimana disebutkan di atas telah hijrah ke tempat lain. Perusahaan Sinar Mas ini bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit, yang menjadikan Demta sebagai pelabuhan penyuplai minyak mentah kelapa sawit ke luar Papua.
Pada sisi lain, kehadiran perusahaan ada memberikan dampak positif, karena mampu membuka akses jalan darat Demta – Jayapura yang sebelumnya hanya dilalui lewat transportasi laut. Namun sayangnya, jalan yang sudah dibuka dari tahun 80-an ini tidak digubris Pemerintah hingga saat ini. “Masyarakat Demta sudah mengajukan ratusan kali permohonan kepada Pemerintah Provinsi dan Kabupaten, termasuk melalui Musrembang, tetapi tetap tidak mendapat respon untuk memperhatikan pembangunan jalan itu,” ujar  Alex.
Kemudian dari sisi lainnya, meskipun disebut sebagai kota tua dan pernah menjadi basis operasi sejumlah perusahaan besar, tapi toh kota tua itu tetap seperti kota tua, tak ada sesuatu yang bisa dijadikan “ukuran”, bahkan segala yang terlihat di kota tua ini biasa-biasa saja, tak ada yang bisa dibanggakan. Ironisnya lagi, masyarakat kampong yang hidup di sana, juga biasa-biasa saja.
“ Jadi mewakil masyarakat Demta dan masyarakat dari 6 kampung lainnya, kami memohon kepada Pemerintah Provinsi Papua dan Pemerintah Kabupaten Jayapura, agar melihat keluhan masyarakat ini, segera membangun jalan Berap- Demta dengan aspal, supaya akses masyarakat menjadi lancer untuk menjual hasil pertanian, kebuh dan hasil nelayan di laut,” jelas Alex. ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar