Minggu, 08 Mei 2011

Putra SBY Kagum Keindahan Papua

Jayapura- Tanah Papua ( Pulau Papua ) dinilai sangat luar biasa, memiliki panorama alam yang indah dan potensi yang sangat luar biasa. Demikian diungkapkan putra sulung Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY ), Kapten Infanteri Agus Harimurti Yudhoyono kepada pers, usai melakukan jamuan makan malam bersama Gubernur Provinsi Papua, Barnabas Suebu,SH, di Gedung Negara, pada Jumat malam ( 6/5 ) ,lalu.
Agus Yudhoyono yang didampingi Pangdam XVII/Cenderawasih, Mayjen TNI Erfi Triassunu dan sejumlah petinggi Kodam XVII Cenderawasih, selama kurang lebih 2 jam melakukan jamuan makan bersama Gubernur Provinsi Papua, diiringi lantunan lagu-lagu khas Papua, juga diakhiri dengan penyerahan cenderamata dan kenang-kenangan dari Gubernur Provinsi Papua kepada putra sulung Presiden Republik Indonesia ini.
“Papua indah dan potensinya sangat luar biasa, mudah-mudahan Papua semakin maju semakin makmur, semakin meningkat tingkat kesejahteraan rakyatnya, dan dengan kehadiran TNI, Papua semakin aman,” tandas Agus yang nampaknya enggan untuk memberi komentar terkait kunjungannya ke Papua.
Meski tak menjelaskan tujuannya ke Papua, namun, Agus yang pernah mengharumkan nama Indonesia, karena meraih 3 penghargaan dari sekolah militer Angkatan Darat di Fort Benning, Georgia, Amerika Serikat (AS), menurut keterangan Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih, Letkol Infanteri Ali Bogra, bahwa keberadaan Agus di Papua adalah dalam rangka menjalankan tugasnya sebagai aparat TNI.
Keberadaan putra SBY peraih penghargaan Distinguish International Honour Graduated dari AS ini, kata Ali Bogra, dalam rangka mengunjungi pasukannya di Pos-Pos TNI di Papua, “Karena dia sebagai Kepala Seksi operasi brigiv XVII di Cijantung, makanya dia harus mengetahui di mana saja pasukannya di tempatkan, baik di Papua, perbatasan dengan Timor timur, Kalimantan dan sebagainya,” tandas Ali.
Ali menjelaskan, sebagai Kasiop baru di Brigiv,  dia harus melakukan orientasi melihat pasukannya yang tersebar di wilayah Indonesia, dan itulah yang dilakukan di Papua saat ini.
Setelah beberapa hari di Jayapura dan melihat pasukannya di Batalyon 303/Kujang, Kapten Agus yang pernah juga meraih penghargaan Medali The Order of Saint Maurice dan The Commandants List dari milter Amerika Serikat serta pernah meraih gelar Master di bidang Strategic Studies di Institute of Defence and Strategic Studies, Nanyang Technological University (NTU), Singapura pada 2006 lalu terakhir pada 2010 lalu, meraih gelar Master of Public Administration pada John F Kennedy School of Government, Harvard University, Massachusetts AS, selanjutnya kembali ke Jakarta.(alberth yomo)

Ketika Jalan Demta Yang Rusak Parah Tidak Diperdulikan Pemerintah

Distrik Demta Kabupaten Jayapura, berada kurang lebih 100 km arah timur dari Ibukota Kabupaten Jayapura atau berada di pantai utara pulau Papua, dan terletak pada bibir pantai pertengahan antara Sarmi dan Jayapura. Untuk sampai di kampong ini, dapat menggunakan transportasi laut dan darat. Namun, dibandingkan transportasi laut yang beresiko dengan terpaan gelombang laut, masyarakat lebih memilih menggunakan jalur darat, tetapi persoalan lain menghadang, yakni kondisi jalannya semakin rusak parah…

Laporan : Alberth Yomo

Pada tahun 1994 ketika masih duduk dibangku SD, saya pernah mengikuti ayah bersama sejumlah mahasiswa menggunakan Bus milik Dinas Perhubungan dari Kota Jayapura menuju Demta. Selama menempuh kurang lebih dua jam perjalananan dari Jayapura - Berap dengan kondisi jalan yang mulus dan beraspal aku sempat tertidur. Namun tidurku dan juga semua penumpang dalam bus akhirnya terganggu, setelah Bus mulai melepas kampong Berap dan menuju Kampung Demta yang masih menyisahkan 21 kilometer lagi.
Karena kondisi jalannya yang bergelombang, berlubang, licin dan berlumpur, dalam perjalanan itu, kami terpontang-panting ke kiri dan ke kanan, bahkan sejumlah mahasiswa ada yang kepalanya terbentur pada sisi tempat duduk, ada yang mual dan muntah dan saat itu semua berpegang erat pada kursi dan tempat pegangan dalam bus. Sesekali Bus terhenti, karena tertahan dalam lumpur.Setelah kurang lebih 3 jam bertahan melewati jalan yang rusak itu, kami akhirnya tiba di kampong Demta dengan selamat.
Sungguh Ironis kenyataan yang ada di depan mataku, selama 17 tahun meninggalkan jalan rusak itu, bukannya jalan mulus beraspal yang aku harapkan, justru keadaannya tetap sama, bahkan tidak jauh beda dengan keadaan pada 17 tahun lalu. Hatiku bertanya, kenapa jalan ini tidak mampu diselesaikan oleh Pemerintah? Otsus Papua sudah berjalan hamper 11 tahun, kenapa jalan ini tidak diperhatikan? Pemerintah payah…..
 Bagi sebagian besar penduduk di pantai utara,  Demta sering dijuluki sebagai Kota Tua, karena sejak zaman Belanda dari tahun 1906 yang ketika itu kepala pemerintahan setempat disebut dengan istilah Bestuur ( Camat/ Distrik ) menjadi pusat aktifitas manusia teramai ketika itu. Mobilisasi penduduk dan bahan pangan dilakukan melalui transportasi laut.
Kemudian dalam perkembangannya, pada awal tahun 80-an, daerah ini menjadi basis perusahaan-perusahaan besar yang mengeksploitasi sumber daya alam Papua. “Perusahaan pertama yang masuk ke wilayah ini pada tahun 1984 adalah PT You Lim Sari, adalah sebuah perusahan besar dan terkenal ketika itu yang mengeksploitasi kayu log, kemudian Perusahaan Rifi pada tahun 1989, lalu Barito Putra pada tahun 2000, Gisand Abadi, PT Andato dan terakhir PT Sinar Mas yang masuk tahun 2000,” ungkap Sekretaris Distrik Demta, Alex Reniban,S.Sos, di ruang kerjanya beberapa waktu lalu.
Namun, hingga saat ini hanya PT Sinar Mas yang masih aktif beroperasi, sedangkan perusahaan lainnya sebagaimana disebutkan di atas telah hijrah ke tempat lain. Perusahaan Sinar Mas ini bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit, yang menjadikan Demta sebagai pelabuhan penyuplai minyak mentah kelapa sawit ke luar Papua.
Pada sisi lain, kehadiran perusahaan ada memberikan dampak positif, karena mampu membuka akses jalan darat Demta – Jayapura yang sebelumnya hanya dilalui lewat transportasi laut. Namun sayangnya, jalan yang sudah dibuka dari tahun 80-an ini tidak digubris Pemerintah hingga saat ini. “Masyarakat Demta sudah mengajukan ratusan kali permohonan kepada Pemerintah Provinsi dan Kabupaten, termasuk melalui Musrembang, tetapi tetap tidak mendapat respon untuk memperhatikan pembangunan jalan itu,” ujar  Alex.
Kemudian dari sisi lainnya, meskipun disebut sebagai kota tua dan pernah menjadi basis operasi sejumlah perusahaan besar, tapi toh kota tua itu tetap seperti kota tua, tak ada sesuatu yang bisa dijadikan “ukuran”, bahkan segala yang terlihat di kota tua ini biasa-biasa saja, tak ada yang bisa dibanggakan. Ironisnya lagi, masyarakat kampong yang hidup di sana, juga biasa-biasa saja.
“ Jadi mewakil masyarakat Demta dan masyarakat dari 6 kampung lainnya, kami memohon kepada Pemerintah Provinsi Papua dan Pemerintah Kabupaten Jayapura, agar melihat keluhan masyarakat ini, segera membangun jalan Berap- Demta dengan aspal, supaya akses masyarakat menjadi lancer untuk menjual hasil pertanian, kebuh dan hasil nelayan di laut,” jelas Alex. ***

Melihat Realisasi Program PNPM-RESPEK di Distrik Demta Kabupaten Jayapura( Bagian-1)

Nampak rumah pastori di kampung Yakore ( Muris Besar ) yang dibangun dari dana Respek 2008
Distrik Demta Kabupaten Jayapura, berada kurang lebih 100 km arah timur dari Ibukota Kabupaten Jayapura atau berada di pantai utara pulau Papua, dan berada pada bibir pantai pertengahan antara Sarmi dan Jayapura. Bagaimana realisasi program PNPM – RESPEK di Distrik ini, berikut laporannya…

Laporan : Alberth Yomo
Distrik Demta Kabupaten Jayapura memiliki 7 Pemerintahan Kampung, yakni Kampung Yakore ( Muris Besar ), Kampung Muris Kecil, Kampung Demta, Kampung Yaugapsa, Kampung Ambora, Kampung Tarfia dan Kampung Muaif.
Sejak program Respek dicanangkan pada tahun 2007 oleh Gubernur Provinsi Papua, Barnabas Suebu,SH dan Wakilnya Alex Hesegem,SE, ke- 7 Kampung ini telah masuk dalam program tersebut, dan masyarakatnya telah merasakan secara nyata hasil yang lahir dari program itu.” Tujuh Kampung di Distrik Demta semuanya masuk dalam program Respek, dan hasilnya sangat luar biasa, masyarakat merespon program ini dengan sangat baik,” ungkap Sekretaris Distrik Demta, Alex Reniban,S.Sos, di Demta, beberapa waktu lalu.
Selaku Penanggung jawab operasional kegiatan (PjOK ) PNPM Mandiri – Respek di tingkat Distrik Demta, Alex mengakui program Respek yang disinergikan dengan program PNPM Mandiri berjalan dengan baik dan lancer di Distrik Demta, dan mendapat apresiasi yang tinggi dari masyarakat di kampong-kampung.
Dari laporan yang diterima, baik dari masyarakat ataupun dari pendamping, serta hasil kunjungannya secara langsung ke kampong-kampung, Alex melihat antusias yang tinggi dari masyarakat untuk duduk bersama bermusyawarah, merencanakan dan mengambil keputusan tentang kegiatan apa yang menjadi prioritas di kampungnya, untuk selanjutnya dijawab dengan dana Respek.
“Dari Kampong Ambora mereka melaporkan kepada saya, bahwa dana Respek tahun 2010, berdasarkan kesepakatan bersama seluruh masyarakat, digunakan untuk membeli pakaian seragam sekolah, training guru, sepatu sekolah, baju olahraga, kaos bagi kader Posyandu satu lusin, kemudian membuat 2 taman bermain bagi Pendidikan Anak Usia Dini ( PAUD ), Pekan Makanan Tambahan, Pengadaan Bibit Ternak bagi 4 suku di kampong Ambora,” jelas Alex.
Sementara itu di Kampung Yakore ( Muris Besar ), kata Alex, dana Respek yang diterima pada tahun 2008, digunakan untuk membangun pastori gereja, selanjutnya dana Respek tahun 2009 digunakan untuk membuat jalan rabat beton sepanjang 600 meter mengelilingi kampung , kemudian dana Respek tahun 2010 digunakan untuk pembangunan taluk depan gereja, Pipanisasi, bak air dan 3 buah toilet.
“ Kalau di Kampung Muris Kecil, dana Respek 2009 mereka pakai untuk membangun balai serbaguna, di kampong Demta dana Respek tahun 2009 dipakai untuk bangun Posyandu, di Kampung Yogapsa pada tahun 2009, digunakan untuk bangun 3 buah Toilet,” ungkap Alex.
Selanjutnya, penanggung jawab operasional kegiatan Respek di tingkat Distrik ini juga mengungkapkan realisasi penggunaan dana Respek di kampong Tarfia dan Muaif, yang mana di Kampung Tarfia, dana Respek tahun 2009 dipakai untuk membangun pipanisasi dan bak penampung, sementara di kampong Muaif, dana tahun 2009 dipakai untuk membeli 9 ekor sapi bagi 9 kelompok dan pengadaan ternak ayam.
Jadi, kata Alex, tidak semua dana Respek dipakai untuk membiayai pekerjaan fisik, tetapi ada juga yang digunakan untuk peternakan, pendidikan, kesehatan dan lain-lain. Alex mencontohkan dana Respek tahun 2010 di kampong Demta, masyarakatnya sepakat untuk membagi habis dana itu kepada seluruh siswa dari TK hingga Perguruan Tinggi dan itu dilakukan dengan baik.
“ Anak Taman Kanak-Kanak diberikan Rp 110 ribu/orang, siswa Sekolah Dasar Rp 200 Ribu/orang, SMP Rp 400 Ribu/orang, SMA Rp 500 Ribu/orang dan Perguruan Tinggi Rp 1-3 Juta/ orang,” jelas Alex. ( Bersambung )