Kamis, 28 April 2011

Melihat Realisasi Program PNPM- Respek di Kampung Mamda Yawan Kabupaten Jayapura(Bagian- 1)


Kampung Mamda Yawan merupakan salah satu Kampung yang berada dalam wilayah Pemerintahan Distrik Kemtuk, Kabupaten Jayapura. Kampung ini memiliki jumlah jiwa kurang lebih 300 orang, yang terdiri dari 50 Kepala Keluarga. Untuk sampai di kampong ini, dibutuhkan waktu sekitar 45 menit dari Kota Sentani, Ibukota Kabupaten Jayapura.Bagaimana realisasi program PNPM- Respek di Kampung ini, berikut laporannya:
Laporan : Alberth Yomo
Sejak diprogramkan oleh Pemerintah Provinsi Papua tahun 2007, Kampung Mamda Yawan telah menerima dan kini mulai merasakan manfaatnya. Sesuai dengan kesepakatan masyarakat dalam suatu musyawarah bersama, apa yang menjadi kebutuhan mereka, hal itu yang kemudian disepakati lalu dijalankan bersama.
“Kami dari dulu punya masalah itu adalah air, kalau hujan, kami senang, tetapi kalau musim panas seperti sekarang ini, masyarakat baku rebut air di satu sumur yang dulu dibangun oleh orang Belanda,” ungkap Ketua TPKK Kampung Manda Yawan, Marthinus Wamebu.
Karena itu,kata Martinus, ketika program ini masuk, masyarakat semua sepakat untuk dibangun bak penampung air, dibuat pipanisasi, sehingga air bisa sampai ke rumah-rumah, dan pekerjaan itu yang sekarang sedang dikerjakan.
“ Ada 4 pekerjaan fisik yang kami kerjakan dari program ini, yaitu membuat bak penampung, memasang pipa air ( pipanisasi ), pengadaan 50 penampung air ( viber bak ) dan pengadaan mesin parut sagu,” ujar Martinus.
Martinus mengaku senang dan berterima kasih kepada Pemerintah Provinsi Papua, karena melalui program PNPM-Respek ini, mereka bisa membangun apa yang menjadi kebutuhan mereka, dan dapat menikmati hasil dari apa yang mereka kerjakan sendiri.
Martinus menjelaskan, bahwa setiap tahun, mereka memperoleh dana tahap pertama sebesar Rp 74 Juta, dan itu digunakan untuk membiayai pekerjaan fisik, mulai dari belanja bahan hingga sewa transportasinya. Nanti setelah pekerjaan selesai, dipertanggungjawabkan, maka dana sisa akan keluar untuk membiayai tenaga kerja yang melakukan pekerjaan fisik itu.
“ Jadi pekerjaan itu dilakukan oleh anak-anak di kampong ini, nanti setelah mereka selesai kerja, baru kemudian kami berikan upah kerja itu, sesuai dengan upah kerja yang berlaku umum saat ini. Biasanya satu kelompok kerja yang terdiri dari 5-6 orang kami hargai Rp 6 Juta,” tandasnya.
Pekerjaan yang sudah dilakukan, kata Martinus, adalah pipanisasi, dan untuk saat ini yang sedang dikerjakan adalah membangun bak penampung. “ Kami targetkan awal bulan ini sudah selesai, sehingga air dari bak ini bisa dialirkan ke semua rumah yang ada di kampong Mamda Yawan ini. Apalagi ukuran bak penampung sangat cukup, yakni 6x3x2 meter, untuk bisa memenuhi kebutuhan air di 50 rumah yang ada di kampong ini,” jelas Martinus Wamebu.( bersambung )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar