Kamis, 28 April 2011

Melihat Realisasi Program PNPM- Respek di Kampung Mamda Yawan Kabupaten Jayapura(Bagian- 2/ Habis)

Ada hal menarik yang disampaikan Ketua Tim Pengelolah Kegiatan Kampung(TPKK) Manda Yawan,  dari proses yang mereka hadapi ketika program PNPM Mandiri – Respek itu hadir di kampong mereka. Tidak hanya program fisik yang nyata dihadapan mata mereka, tetapi ada hal penting lainnya yang mereka dapatkan dari program tersebut yang tidak dilihat dan dirasakan orang lain?

Laporan : Alberth Yomo

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Direktur Yayasan Pengembangan Masyarakat Desa ( YPMD ), Decky Rumaropen beberapa waktu lalu, bahwa program Respek yang dicanangkan oleh Pemerintah Provinsi Papua, kemudian disinergikan dengan program Nasional PNPM Mandiri terhadap ribuan kampong di Papua, telah menjadikan program ini sebagai sekolahnya orang Kampung, ternyata diakui oleh Ketua TPKK Mamda Yawan, Martinus Wamebu.
“Kami belajar banyak dari program ini, karena dengan adanya program ini, kami sudah tau cara mengatur uang untuk belanja bahan, kami juga tau bagaimana membuat laporan yang benar, ketika terjadi kesalahan, kami bertanya kepada pendamping atau teman-teman lainnya di kampong ini, ternyata kami bisa saling mengisi kekurangan yang ada,” jelas Martinus.
Selain itu, kata Martinus, proyek yang dihasilkan dari musyawarah bersama masyarakat di kampong, tidak bisa “main tipu”, karena proyek ini langsung diawasi oleh seluruh masyarakat. Ketika ada yang buat salah dengan uang proyek, masyarakat akan  marah besar. Karena itu, apa yang diputuskan bersama, benar-benar dijalankan dengan baik tanpa ada kecurangan.
Ketika tiba waktunya membuat laporan keuangan, kata Martinus, bukan dirinya atau bendaharanya sendiri yang bekerja sendiri, tetapi Kepala Kampung dan masyarakat lainnya saling menopang, sehingga laporan yang dibuat itu benar-benar dapat dipertanggung jawabkan.
“Semua proses pembiayaan yang terjadi dalam kegiatan ini, kami harus simpan buktinya, baik berupa nota belanja atau kwitansi, sehingga itu akan dilampirkan dengan laporan. Saya lihat program ini benar-benar diawasi dengan ketat. Kami tidak bisa main-main. Tapi saya senang sekali, karena masyarakat semua mendukung kegiatan ini,” tandasnya.
Martinus berharap kepada Pemerintah Provinsi Papua, agar program ini tetap berjalan tiap tahun, karena kampung mereka masih membutuhkan pembangunan fisik dan program-program lainnya, selain untuk menata kampong mereka menjadi lebih baik, tetapi lebih dari itu, kehidupan masyarakat di kampong mereka, juga dari waktu ke waktu semakin baik.
“Kalau program ini berjalan terus menerus setiap tahun, saya sangat yakin, pada lima sampai 10 tahun ke depan, akan terjadi perubahan besar di tanah Papua ini. Masyarakat akan merasa aman, tentram kemudian mereka akan bangkit untuk belajar mandiri, dan akhirnya tidak lagi bergantung pada bantuan Pemerintah, tetapi akan menjadi orang yang mampu bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri,” jelasnya.***



Melihat Realisasi Program PNPM- Respek di Kampung Mamda Yawan Kabupaten Jayapura(Bagian- 1)


Kampung Mamda Yawan merupakan salah satu Kampung yang berada dalam wilayah Pemerintahan Distrik Kemtuk, Kabupaten Jayapura. Kampung ini memiliki jumlah jiwa kurang lebih 300 orang, yang terdiri dari 50 Kepala Keluarga. Untuk sampai di kampong ini, dibutuhkan waktu sekitar 45 menit dari Kota Sentani, Ibukota Kabupaten Jayapura.Bagaimana realisasi program PNPM- Respek di Kampung ini, berikut laporannya:
Laporan : Alberth Yomo
Sejak diprogramkan oleh Pemerintah Provinsi Papua tahun 2007, Kampung Mamda Yawan telah menerima dan kini mulai merasakan manfaatnya. Sesuai dengan kesepakatan masyarakat dalam suatu musyawarah bersama, apa yang menjadi kebutuhan mereka, hal itu yang kemudian disepakati lalu dijalankan bersama.
“Kami dari dulu punya masalah itu adalah air, kalau hujan, kami senang, tetapi kalau musim panas seperti sekarang ini, masyarakat baku rebut air di satu sumur yang dulu dibangun oleh orang Belanda,” ungkap Ketua TPKK Kampung Manda Yawan, Marthinus Wamebu.
Karena itu,kata Martinus, ketika program ini masuk, masyarakat semua sepakat untuk dibangun bak penampung air, dibuat pipanisasi, sehingga air bisa sampai ke rumah-rumah, dan pekerjaan itu yang sekarang sedang dikerjakan.
“ Ada 4 pekerjaan fisik yang kami kerjakan dari program ini, yaitu membuat bak penampung, memasang pipa air ( pipanisasi ), pengadaan 50 penampung air ( viber bak ) dan pengadaan mesin parut sagu,” ujar Martinus.
Martinus mengaku senang dan berterima kasih kepada Pemerintah Provinsi Papua, karena melalui program PNPM-Respek ini, mereka bisa membangun apa yang menjadi kebutuhan mereka, dan dapat menikmati hasil dari apa yang mereka kerjakan sendiri.
Martinus menjelaskan, bahwa setiap tahun, mereka memperoleh dana tahap pertama sebesar Rp 74 Juta, dan itu digunakan untuk membiayai pekerjaan fisik, mulai dari belanja bahan hingga sewa transportasinya. Nanti setelah pekerjaan selesai, dipertanggungjawabkan, maka dana sisa akan keluar untuk membiayai tenaga kerja yang melakukan pekerjaan fisik itu.
“ Jadi pekerjaan itu dilakukan oleh anak-anak di kampong ini, nanti setelah mereka selesai kerja, baru kemudian kami berikan upah kerja itu, sesuai dengan upah kerja yang berlaku umum saat ini. Biasanya satu kelompok kerja yang terdiri dari 5-6 orang kami hargai Rp 6 Juta,” tandasnya.
Pekerjaan yang sudah dilakukan, kata Martinus, adalah pipanisasi, dan untuk saat ini yang sedang dikerjakan adalah membangun bak penampung. “ Kami targetkan awal bulan ini sudah selesai, sehingga air dari bak ini bisa dialirkan ke semua rumah yang ada di kampong Mamda Yawan ini. Apalagi ukuran bak penampung sangat cukup, yakni 6x3x2 meter, untuk bisa memenuhi kebutuhan air di 50 rumah yang ada di kampong ini,” jelas Martinus Wamebu.( bersambung )