Kamis, 18 November 2010

Melihat Dari Dekat Sekolah Menengah Kejuruan Di Wari Kabupaten Tolikara ( Bagian_2 )

Menyusuri jalan masuk ke halaman sekolah, sudah tidak terlihat jelas mana jalan sebenarnya, karena, baik jalan maupun halaman sekolah seluruhnya sudah ditutupi rumput setinggi pinggang orang dewasa. Bahkan Karel, pemuda kampung yang menjadi guide khusus ini, tersungkur masuk dalam parit saat hendak berpose di depan papan nama SMK N Tolikara.

Laporan : Alberth Yomo

Gedung pertama yang kami jumpai ketika memasuki pelataran sekolah adalah kantor administrasi, di mana terdapat ruang guru, ruang kepala sekolah dan ruang tata usaha. Bangunan semi permanen ini luasnya kurang lebih 8 x 20 meter. Memiliki jendela kaca bergerendel dan ditutupi hordein warna merah, sehingga kami tidak bisa melihat isi dalam ruangan itu.
Disamping kanan gedung administrasi, kurang lebih 7 meter, terdapat bangunan memanjang kurang lebih 60 x 10 meter, terdapat 4 ruangan yang cukup luas, ruangan pertama, nampaknya dipersiapkan untuk ruang perpustakaan, namun yang terlihat hanya beberapa rak buku kosong, sementara 3 ruang lainnya merupakan ruang belajar, di mana 3 ruangan ini, pembatas ruangnya dibuat bergerendel, sehingga bisa difungsikan juga sebagai ruang pertemuan atau aula sekolah. Nampak terlihat dalam ruangan ini, puluhan kursi meja kayu tersusun rapi. “ Ini waktu rapat orang tua siswa, jadi semua kursi meja dipindahkan ke ruangan ini,” tandas Karel..
Setelah melihat ruangan tersebut, kami melanjutkan melihat gedung lainnya yang merupakan kembarannya. Ukurannya sama, terdapat empat ruangan, masing-masing ruangan luasnya kurang lebih 10x10 meter yang nampaknya merupakan ruang belajar. “ Bisa menampung 30 siswa dalam satu ruangan, tapi rata-rata siswa per kelas hanya 10 sampai 20 siswa, jadi mungkin ada 60 siswa di sekolah ini,”tandasnya. Ruangan ini dibiarkan terbuka, sehingga memudahkan orang atau binatang bisa masuk. Ada ruangan yang tidak ada kursi dan meja belajarnya, ada yang hanya beberapa kursi dan meja.
Kami melanjutkan lagi berjalan semakin ke belakang menyusuri rumput dan semak-semak untuk melihat rumah guru dan asrama. Kurang lebih 100 meter berjalan ke belakang, kami mendapati dua bangunan kembar ukuran 8x8 meter, rumah semipermanen yang terkesan mewah, terdapat ruang tamu, ruang keluarga, dua kamar tidur, dapur dan WC. Tapi sayang, tidak ada penghuninya. Satu rumah, pintu dan jendelanya terkunci, sedangkan satunya lagi dibiarkan terbuka, sehingga pada beberapa bagian mulai rusak dan dikotori.
“Rumah guru su bagus begini, tapi trada guru yang mau tinggal disini, jadi ada masyarakat yang bilang, kalau guru tidak mau tinggal di rumah ini, nanti masyarakat ambil rumah ini untuk dijadikan tempat tinggal, karena banyak juga masyarakat yang belum dapat bantuan rumah social,” ungkapnya.
Semakin ke belakang lagi kami berjalan, kurang lebih 100 meter dari 50 meter dari rumah guru, kami mendapati 2 gedung lagi.” Yang ini asrama putri, sedangkan yang itu ( 30 meter di depan kami ) asrama putra,” ujar Karel yang pernah diperbantukan bekerja di sekolah ini, namun karena dirinya menilai ada kecurangan yang dilakukan pimpinan sekolah dalam hal penggajian, akhirnya ia tidak bekerja lagi di sekolah ini.
Bangunan dengan luas kurang lebih 30 x 15 meter ini, juga merupakan bangunan semi permanen, dalam bangunan ini terbagi lagi menjadi 2 ruang ukuran 10x10 yang nampaknya merupakan ruang tidur. Sementara dibagian belakang ruangan ini, terdapat 3 Toilet dan 3 kamar mandi. Gedung Asrama putri tampak tertutup, sementara asrama putra, pintunya sudah terbuka, dan ruangannya sudah ditempati orang, dengan membangun 2 tempat tidur darurat. “Macamnya ada orang yang biasa tidur disini, mungkin orang dari gunung,” tandas Karel.( Bersambung )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar