Kamis, 18 November 2010

Melihat Dari Dekat Sekolah Menengah Kejuruan Di Wari Kabupaten Tolikara ( Bagian_3/ Habis )

Setelah melihat bangunan rumah guru dan asrama, kami kembali melalui jalan yang sama menuju satu bangunan lagi, yakni gedung laboratorium. Posisi gedung ini berada di sebelah kiri gedung administrasi, jaraknya kurang lebih 70 meter dari gedung administrasi.
Laporan : Alberth Yomo

Sama seperti gedung lainnya, laboratorium ini dibangun semi permanen dengan memakai jendela kaca bergerendel, tanpa hordein, sehingga isi dalam ruangan bisa dilihat. Tampak semua sudut ruangan masih kosong, sehingga dapat diketahui bahwa ruangan ini belum pernah digunakan untuk praktek.
Karel mengungkapkan kepada pacific post, bahwa sejak sekolah ini dibuka tahun 2007 lalu, ada sekitar 30 anak yang masuk, namun dalam perjalanannya hingga tahun 2010 bulan maret lalu, yang lulus hanya 15 siswa, lainnya tidak melanjutkan sekolah, tanpa diketahui alasannya.
Salah satu mantan siswa SMK, Korneles Treido yang ditemui pacific post di Kampung Wari, juga mengungkapkan hal yang sama, bahwa mereka yang lulus pada maret 2010 lalu ada 15 anak, dan itu merupakan lulusan pertama dari SMK N Tolikara. Sejak bulan itu, tidak pernah ada kegiatan belajar mengajar hingga saat ini ( bulan oktober 2010 ).
“ Guru-guru semua sudah pulang, jadi tidak ada kegiatan belajar. Kami tidak tahu kapan baru guru-guru kembali ke sini. Padahal anak-anak banyak yang sudah tunggu untuk mendaftar masuk sekolah,” tandas Karel.
Karel mengungkapkan, bahwa sejak sekolah ini dibuka, ada sekitar 11 guru yang silih berganti dating dan pergi, selalu ada guru baru. Tapi tidak lama mengajar, guru itu pergi lagi. Anak-anak disini tidak sekolah baik. “Jadi kalau di Koran bilang ini sekolah internasional, itu sangat memalukan,” tandasnya.
Karel dan seluruh orang tua berharap agar Pemerintah Daerah bisa memperhatikan dan menseriusi persoalan SMK ini. Karena ini merupakan satu-satunya sekolah SMK yang ada di Kabupaten Tolikara. Dirinya sangat menyayangkan, anak-anak di kampungnya yang terlantar, bukan saja di SMK, tapi juga di tingkat SMP dan SD mengalami nasib yang sama, yakni terbengkalai selama berbulan-bulan tanpa proses belajar mengajar.
Hal lain yang diungkapkan Karel adalah, bahwa pendidikan di kampong Wari tidak berjalan lancer, karena banyak guru-guru yang mengeluh honor mereka tidak dibayar. Disisi lain, Kepala Sekolah, baik di SMK,SMP dan SD Wari yang dirangkap satu orang ini, menjadi keluhan para guru, karena selain tidak focus juga tidak serius memperhatikan masalah sekolah.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar