Jumat, 30 Juli 2010

Catatan Ringan Perjalanan Dari Kampung Metaweja, Kabupaten Mamberamo Raya - Provinsi Papua






“ Tempuh perjalanan sejauh 69 km untuk berobat anak yang sedang sakit”
Pagi itu, cuaca sangat dingin, mentari pagi perlahan mulai menampakkan wajahnya dari balik gunung kwanima, seakan takut dengan munculnya sang mentari, kabut putih yang semula menutup perkampungan metaweja,mulai lenyap dari hadapanku. Tiba-tiba terdengar suara tangisan seorang anak kecil dari balik rumah berdinding gabah yang berada di sebelah rumah tempat kami menginap, suara itu seakan memecah kesunyian pagi.
Tangisan semakin keras terdengar, seiring dengan bentakan suara seorang wanita dewasa, tampaknya seorang Ibu yang sedang membujuk anaknya agar tak menangis lagi, namun sang anak tak menghiraukan bujukkan ibunya, ia terus merengek, sehingga membuat sang Ibu menjadi resah lalu membentak anaknya.
Sejam kemudian, datanglah guide kami dan memberitahukan, kalau suara tangisan tadi adalah tangisan seorang anak benama Petu, berumur setahun lebih yang mengalami demam tinggi, sehingga ia memohon bantuan kepada kami, kalau sekiranya ada obat pada kami, untuk membantu menurunkan panas anak tersebut. Dan kebetulan aku masih menyimpan 3 butir obat generic Parasetamol, lalu aku berikan dengan petunjuk agar diberi setengahnya yang diaduk dalam sendok makan lalu memberi minum obat itu kepada Petu.
“Sudah lama tidak ada petugas kesehatan di kampung ini, jadi kalau ada orang yang sakit, kami akan berusaha membawanya ke Kasonaweja ( Ibukota Kabupaten Mamberamo Raya)” ungkap Panus Sawai, seorang penginjil yang telah mengabdi hamper 19 tahun di wilayah kepala air sungai Apawer, termasuk di Kampung Metaweja, tempat asalnya.
Panus mengungkapkan, bukan hanya Petu yang sakit, tetapi ibunya juga dalam keadaan sakit, sepertinya gejala sakit malaria, sehingga ia menyarankan untuk segera bergegas menuju Kasonaweja. Kebetulan pada saat yang bersamaan, kamipun akan meninggalkan Metaweja menuju Kasonaweja, jadi pasien kecil ini bersama ibunya, atas pertimbangan Panus, akan ikut dalam rombongan kami berjalan menuju Kasonaweja, dengan menempuh perjalanan kurang lebih 69 km menyusuri sungai dan hutan selama tiga hari perjalanan untuk bisa tiba di Kasonaweja.
Bukan hanya Petu dan Ibunya, bersama kami, ada juga Hans Soromoja, salah satu porter kami yang mengalami hal yang sama. Remaja kelas II SMA ini juga mengalami demam tinggi. “ Saya tidak mau tinggal di sini, lebih baik saya ke Kasonaweja, supaya bisa dapat obat,” ujar Hans, ketika ia disarankan untuk tinggal, karena demam tinggi yang dialaminya.
Hans disarankan untuk tinggal bukan tanpa alas an, karena perjalanan yang akan ditempuh ini dikuatirkan sangat beresiko memperparah keadaannya, karena perjalanan ini selain jauh ( 69 Km ), jalannya juga tak mulus, yakni jalan di atas bebatuan tajam, puluhan bahkan ratusan kali masuk dan keluar menyeberangi sungai, panasnya terik matahari, kekuatiran akan turunnya hujan dan banjir, hingga resiko lainnya.
Tetapi bagi Hans, Petu dan Ibundanya, ancaman itu bukanlah hal yang baru, tetapi sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup mereka di Metaweja. Hans bahkan menyebut diri mereka adalah “anak batu”, artinya mereka tumbuh dan besar dalam kondisi alam seperti itu, jadi tajamnya batu kali dan resiko lainnya, sama sekali tidak membuat telapak kaki mereka pilu, karena telah terbiasa.
Aku mencoba melepas sepatu boat dan meniru langkah mereka dengan berjalan tanpa sepatu, aku tak sanggup ketika melangkah sekitar 100 meter, belum lagi melewati hutan yang dipenuhi lintah, aku melihat punggung kaki hingga betis mereka ditumpuki lintah pengisap darah, ketika lintah itu dibersihkan, tampak kaki mereka seperti diiris-iris dengan silet, terlihat darah segar membasahi punggung kaki dan betis kaki mereka, tetapi itu dianggap biasa-biasa saja.
Ketika dalam perjalanan, Panus mengungkapkan, bahwa obat parasetamol yang aku berikan, ternyata manjur, sehingga demam yang dialami Petu sang pasien kecil sudah menurun dan kondisi Petu sedang dalam keadaan baik, demikian pula dengan Ibunya. Sementara Hans, hanya menghangatkan tubuhnya dekat api yang menyala, ketika kami sedang beristirahat dan bermalam dalam perjalanan itu. Kondisi Hans, benar-benar membuat aku panic,karena terlihat jelas ia menahan rasa sakit itu, tetapi disisi lain, aku melihatnya sebagai seorang remaja yang kuat, meski dalam kondisi demikian, ia mampu bertahan hingga kami tiba di Kasonaweja.
Tetapi yang aku salut, meski perjalanan itu jauh dan ditempuh dalam waktu tiga hari berjalan kaki, namun aku merasa seperti sedang berwisata di hutan dengan guide-guide local yang luar biasa. Tim di bagi dua, satunya jalan mendahului guna menyiapkan makan ala kadarnya, sementara tim lainnya mengawal aku dan temanku berjalan di belakang. Ketika tiba pada suatu titik, aku sering terkejut, karena selalu ada kejutan yang melegahkan hati yang dilakukan oleh tim pertama.
Mereka seakan mengetahui apa yang sedang aku rasakan. Ketika haus, tiba-tiba di depan jalan sudah ada air kelapa muda, ketika perut keroncongan, di depan jalan sudah di siapkan makan ala kadarnya, berupa daging hasil buruan dan pisang yang dibakar. Ketika kepanasan, diajak berendam dalam air sungai, sambil menyelam mencari ikan dengan sumpit, jika dapat, kami membakar lalu menikmatinya bersama. Hingga gelap menghampiri, kamipun membaringkan tubuh dalam bevak sempit, menanti esok untuk kembali melanjutkan perjalanan.
Sejak terbentuknya pemerintahan kampong definitive pada pertengahan tahun 80-an, masyarakat di kampong ini, tak pernah menikmati pelayanan pendidikan dan kesehatan. Beruntung ada niat baik dari para penginjil yang mengajarkan bahasa Indonesia, baca dan tulis, sehingga masyarakat di Kampung ini, kecuali kaum perempuan, sudah fasi berbahasa Indonesia. Bangunan sekolah SD ( 2 ruang kelas ), baru dibangun tahun 2008 lalu oleh Pemerintahan sementara Kabupaten Mamberamo Raya, sementara pembangunan dibidang kesehatan, baik fisik maupun pelayanan kesehatan tidak pernah ada hingga saat ini.
Meskipun pada tahun 2001 telah diberlakukan otonomi khusus bagi Provinsi Papua dengan kucuran dana bertriliunan rupiah, namun sangat disayangkan melihat kondisi yang dialami masyarakat di Kampung Metaweja. Ironisnya lagi, sejak terbentuknya Kabupaten Mamberamo Raya pada tahun 2008, sejumlah bantuan dana yang diberikan Pemerintah, melalui program Respek dan Pemberdayaan Kampung dengan dana mencapai Rp 300 Juta per tahun, tidak jelas penggunaannya.
Sekadar diketahui, rata-rata penduduk di Kampung Metaweja berprofesi sebagai petani dan peramu, sehingga setiap harinya, mereka selalu bergelut dengan kebun untuk menanam pisang dan umbi-umbian, menokok sagu dan berburu binatang hutan, seperti Babi, Tikus Tanah, Lao-lao, Soa-soa, burung dan mencari ikan dan udang yang berada di kali-kali yang mengalir di sekitar wilayah mereka.
Mata pencaharian mereka nyaris tidak ada yang dapat dijual ke pasar, hanya tanaman Pinang dan Kakao yang sedikit membantu mereka untuk mendapatkan uang, namun hal itu tidak berlangsung secara kontinyu, kondisi ini diakibatkan oleh letak Kampung Metaweja yang jauh dari pusat pasar di Kasonaweja, sebagaimana di sebutkan di atas, butuh waktu 3 hari untuk berjalan kaki dari Metaweja ke Kasonaweja, hal ini tentu sangat memberatkan bagi masyarakat. Beban yang sanggup dipikul hingga ke kasonaweja, berdasarkan pengamatan kami, tidak lebih dari 20 kilogram per orang dewasa.
Pinang merupakan barang yang sering di pikul dari Metaweja ke Kasonaweja untuk di jual, sekali jalan, mereka sanggup membawa 10 oki pinang ( 20 Kg ), satu oki pinang, biasa dijual dengan harga Rp 250.000 hingga Rp 300.000,- . Jika 20 kg pinang itu di jual, maka bisa diperoleh uang sebesar Rp 3 Juta. Namun, dari pengamatan dan hasil wawancara, 20 kg pinang yang di bawah dari Metaweja, setengahnya di bagi kepada kerabat atau untuk konsumsi sendiri, setengahnya lagi di jual, sehingga kemungkinan, mereka biasa mendapatkan uang dari hasil penjualan pinang adalah kurang lebih Rp 1 – 1,5 Juta.
Selain itu, ada tanaman Kakao yang baru dua kali di pasarkan ke Sarmi, oleh Panus Sawai,penginjil di Metaweja ini. Harga Kakao saat itu di jual per kilogramnya Rp 10.000,-. Ada 100 kg yang di bawah saat itu, sehingga ia mendapatkan uang Rp 1 Juta, namun, hamper ratusan lebih uang yang dia tebus untuk membayar biaya perjalanan, terutama menanggung bensin. Seperti diketahui, rute pulang pergi dari Tamaja ( Apawer ) ke Sarmi membutuhkan 400 liter bensin campur, yang mana harga bensin campur per liternya Rp 15 ribu di Apawer dan Rp 8000 di Sarmi.Setelah sukses dengan penjualan perdana, Panus kembali memanen 300 Kg, dan berupaya membawanya ke Sarmi, dijual kepada penadah kakao di Sarmi, hasilnya cukup menggemberikan, dirinya bisa membeli beras dan alat-alat dapur lainnya untuk membahagiakan sang anak dan istrinya.
Tapi setelah itu, niat Panus untuk kembali menjual Kakao ke Sarmi terbentur pada masalah perahu dan bahan bakar, padahal dirinya sudah memanen sekitar 100 kg Kakao, akibatnya dirinya hanya pasrah melihat kakaonya yang rusak. Demikian halnya tanaman Kakao yang ada di kebun sudah siap panen, namun dirinya enggan untuk memanen, karena terbentur pada masalah transportasi tadi. Dari pengamatan kami, nampak kondisi tersebut sangat memprihatinkan, semua kakao di kebun sudah masak, bahkan ada yang menjadi busuk dan kering berwarna hitam, panus hanya pasrah saja melihat kondisi kebun kakaonya.
Secara administrative, Kampung Metaweja berada dalam pemerintahan Distrik Mamberamo Tengah Kabupaten Mamberamo Raya, Provinsi Papua. Kampung ini berada diantara beberapa kampung, antara lain :
- Sebelah Utara berbatasan dengan wilayah administrative Kampung Tamaja ( Sarmi )
- Sebelah Selatan berbatasan dengan wilayah Sormoja gunung dan wilayah Marinavalen
- Sebelah Barat berbatasan dengan wilayah Kampung Mrumere
- Sebelah Timur berbatasan dengan wilayah Kampung Sasaupece dan Kampung Babija
Kampung Metaweja berada pada koordinat 02017’59.5” Lintang Selatan dan 138021’04.4” Bujur Timur atau berada kurang lebih 50 km arah timur dari Kasonaweja, yang kini menjadi pusat pemerintahan sementara Kabupaten Mamberamo Raya.
Perjalanan terdekat ke kampung Metaweja dapat ditempuh dengan transportasi sungai lewat sungai Apawer, kemudian menyusuri kali wire dan kali Omeri. Namun, rute ini sangat ditentukan oleh keadaan sungai Apawer, jika curah hujan tinggi dan terjadi peningkatan air sungai, maka memungkinkan bagi alat transportasi untuk menuju ke Kampung Metaweja, sebaliknya, jika curah hujan rendah atau sedang, maka rute tersebut tidak bisa dilewati. Waktu yang dibutuhkan untuk sampai di Kampung ini, andaikan kondisi air sungai sedang naik, adalah kurang lebih 3 hari perjalanan dari muara Apawer, sedangkan dari Distrik Aurimi ( Lokasi lapangan terbang terdekat ) hanya sehari.
Jalur lainnya, yaitu lewat sungai Mamberamo, kemudian masuk lewat muara kali kuama atau bisa lewat kampung Mrumere atau kampung Marinavalen, dan berjalan kaki sejauh 57 km kearah timur. Jalur ini, butuh waktu 2- 3 hari untuk sampai di Kampung Metaweja.
Dari kedua rute tersebut di atas, yang sering digunakan masyarakat adalah rute ke-dua melalui Kasonaweja, karena rute ini yang dianggap paling cepat dan aman untuk bisa sampai di Kasonaweja ataupun sebaliknya.
Kebetulan rute ini yang kami lewati, dimana waktu yang kami butuhkan adalah 3 hari berjalan kaki. Dari kasonaweja menggunakan speedboat menuju muara Kuama butuh waktu 30 menit, lalu berjalan kaki sejauh 57 km ke arah timur, dengan rata-rata perjalanan per hari adalah 5 jam.
( Alberth Yomo/ staf peneliti Yayasan Lingkungan Hidup Papua )


1 komentar:

  1. masalah aksesibilitas memang menjadi salah satu penghambat kemajuan bangsa yha boss....

    BalasHapus