Kamis, 16 Desember 2010

Taklukan Sleman 6-0,Persidafon Pimpin Klasemen Grup III Liga Ti-Phone

Cristian Worabay ketika melepaskan tembakan dari sudut sempit dan gol, membawa Persidafon menang 6-0 atas PSS Sleman, di Stadion Bas Youwe, Kamis (16/12 ) kemarin.
Jayapura- Persidafon Jayapura kembali meraih hasil positif, setelah pada dua pertandingan sebelumnya mengalahkan Persigo dan Persebaya, kali ini giliran PSS Sleman yang menjadi korban. Tim asal pulau Jawa ini dibantai 6 gol tanpa balas oleh anak-anak gabus sentani, pada pertandingan lanjutan kompetisi sepak bola divisi utama Liga Ti-Phone yang berlangsung di Stadion Barnabas Youwe ( SBY ), Kamis (16/12 ) kemarin.
Dengan hasil ini, Persidafon memantapkan posisinya di urutan teratas klasemen sementara Liga Ti-Phone Grup III, dengan poin 12,hasil 5 kali bertanding, 4 kali menang dan sekali kalah, memasukkan 13 gol dan hanya kemasukkan 2 gol. Tempat kedua dan ketiga diduduki oleh Persiba Bantul dan PS Barito Putra yang memiliki poin sama yakni 10.
Enam gol bagi Persidafon Jayapura dicetak  oleh Ernest Jeremiah pada menit 18 dan 34, Patrick Wanggai pada menit 28, Marcelo Cirelli pada menit 32, Cristian Worabay menit 69 dan Abel Cello menit 85. Meski PSS Sleman juga memiliki sejumlah peluang, namun tak satupun berbuah gol, sehingga anak asuh M Basri ini harus keluar lapangan dengan kepala tertunduk lesu setelah wasit Suwandi asal malang meniup peluit berakhirnya pertandingan itu.
Pada babak I, menit 18 Ernest membuka krang gol bagi Persidafon, 10 menit kemudian giliran striker muda berbakat, Paatrick Wanggai memperbesar keunggulan Gabus Sentani menjadi 2-0. Empat menit kemudian dari gol kedua, giliran Marcelo palang pintu Persidafon yang menjebol gawang PSS Sleman yang dikawal Geri Mandagi, selanjutnya Ernest kembali menunjukkan kelasnya, setelah mencetak gol keduanya pada menit 36. Persidafon lending dengan 4 gol hingga berakhirnya babak pertama.
Memasuki babak kedua, tak banyak perubahan yang dilakukan pelatih Agus Yuwono terhadap komposisi pemain, dan terlihat tempo permainan anak-anak dari kaki gunung cyclop ini agak menurun. Namun sayang peluang ini tak mampu dimanfaatkan oleh anak-anak Sleman, bahkan permainan pemain PSS Sleman selalu dapat didikte oleh Eduard Ivakdalam cs. Akhirnya Abel Cello kembali membawa Persidafon unggul 5-0 melalui gol yang dilesakkannya pada menit 69. Setelah itu terjadi pergantian pemain dikubu Persidafon, Eduard Ivakdalam dan Ernest ditarik keluar digantikan oleh Angga Permana dan Erdy Titaley. Masuknya dua tenaga muda ini kembali berbuah hasil, dimana pada menit 86 melalui kerjasama yang baik, Cristian Worabay menutup pertandingan itu dengan gol spektakuler dari sudut sempit, dan membawa Persidafon memenangi pertandingan itu dengan skor meyakinkan 6-0.
Agus Yuwono, pelatih Persidafon mengaku puas atas hasil yang ditorehkan pemainnya, meski mengakui ada sejumlah kelengahan yang terjadi, namun ia berjanji akan mengevaluasinya, sehingga pada pertandingan berikut bisa lebih baik lagi.
Sementara pelatih PSS Sleman, M Basri mengakui kekalahan timnya, dan memberi jempol kepada tim Persidafon yang dinilainya bermain sangat luar biasa.” Kami juga bermain tidak buruk, tapi nampaknya pemain kami kalah kelas dari para pemain Persidafon, selamat buat Persidafon,” tutur M Basri.
Selanjutnya Persidafon dijadwalkan akan kembali menjamu Persiba Bantul pada tanggal 20 Desember mendatang di Stadion Barnabas Youwe, sementara PSS Sleman akan bertandang ke kandang Perseru Serui pada tanggal yang sama. (alberth yomo )

Sabtu, 11 Desember 2010

Kalahkan Persebaya, Persidafon Menempel Barito

Jayapura - Persidafon Jayapura akhirnya mampu mengalahkan Persebaya Surabaya dengan skor 3-1, pada pertandingan sepak bola Liga Ti-Phone 2010 Grup III yang berlangsung di stadion Barnabas Youwe ( SBY ) Sentani,Kamis (9/12 ) kemarin. Kemenangan ini merupakan ambisi Persidafon untuk membalas kekalahan 3-2 yang pernah dideritanya ketika menghadapi Persebaya Surabaya pada ajang Piala Indonesia 2009 lalu,di Surabaya.
 Persebaya unggul lebih dulu melalui Loumbu pada menit 24. Tertinggal 0-1, tidak membuat semangat anak-anak Selicin Gabus, julukan Persidafon, patah semangat.Persidafon terus meningkatkan serangan, hingga pada menit ke-33 lewat sundulan Kapten Persidafon, Eduard Ivakdalam, berhasil menjebol gawang Persebaya, 1-1. Gol tersebut membuat para pemain Persidafon semakin percaya diri. Hasilnya,Patrick Wanggai membawa Persidafon unggul 2-1 di menit ke-39. Abel Celo melengkapi kemenangan Persidafon menjadi 3-1 pada menit 52 setelah bola tendangan menyusur tanah yang dilepaskannya tak mampu dijangkau oleh penjaga gawang Persebaya.Dengan kemenangan ini tim asuhan pelatih Agus Yuwono itu merangsek ke peringkat 2 di bawah Barito Putra pada klasemen sementara Divisi Utama Wilayah III dengan poin 9 dari dari empat laga. Persidafon akan kembali melakoni laga kandangnya di Stadion Barnabas Youwe Sentani pada 16 Desember 2010 melawan tim PSS Sleman.
Pelatih Persebaya, Suwandi, mengatakan kekalahan timnya antara lain disebabkan cuaca yang panas.  Pada pertandingan grup III lainnya pada hari yang sama, Perseru Serui ditahan tamunya Persigo Gorontalo 1-1 di Stadion Marora, Serui. Persigo unggul lebih dulu melalui Marwin Hanafi Batubara pada menit 35. Perseru menyamakan kedudukan 1-1 melalui Mamadou Lamarana Diallo (58). Sementara itu, pada pertandingan grup II, tuan rumah Persemalra Maluku Tenggara mengalahkan Persis Solo 2-0 di Stadion Maren, Tual, Maluku Tenggara. Dua gol Persemalra dihasilkan Lukas Latuperissa (42) dan John Pattikawa (50).(yomo)

Klasemen Sementara Liga Ti-Phone 2010 Grup III

No      Klub                         P      W      D      L      GD      PTS
1     PS BARITO                 6     3     1     2     8-4     10
2     PERSIDAFON             4     3     0     1     7-2     9
3     PERSIBA BANTUL     3     2     1     0     5-0     7
4     PSIR                             4     2     1     1     3-2     7
5     PERSIGO                     5     2     1     2     5-5     7
6     PSS                              3     2     0     1     4-2     6
7     PSBI                            4     2     0     2     3-3     6
8     PERSEBAYA              5     2     0     3     5-6     6
9     PERSEKAM               4     2     0     2     5-7     6
10     PERSIPRO               5     2     0     3     2-8     6
11     PERSERU SERUI     4     1     1     2     4-6     4
12     PSMP                       5     1     1     3     4-7     4
13     PERSIKU                 4     1     0     3     3-6     3

Minggu, 05 Desember 2010

Pasific Post Grup Tutup Tahun 2010 Dengan Double Winner

The Winner
 Jayapura- Tahun 2010 nampaknya akan menjadi tahun bersejarah bagi seluruh crew pacific post grup, betapa tidak, di tengah aktifitas meliput, dan melaksanakan tugas-tugas kemediaan lainnya, pasukan Abdul Munib dan Angelbertha Sinaga ini mampu berbuat hal yang lebih membanggakan dan akan dikenang sepanjang hidup, yakni menjuarai pertandingan olahraga antar media pada ajang yang berbeda.
Setelah menjuarai Pertandingan Volly antar Media pada bulan September lalu, pacific post grup kemudian menutup akhir tahun 2010 ini dengan menjuarai momen penting lainnya, yakni menjadi Kampium ( Juara ) Liga Futsal Antar Media se- Jayapura. Sehingga untuk kedua momen bersejarah itu, kami sebut sebagai Double Winner yang luar biasa bagi seluruh Crew Pasific Post Grup di tahun 2010 ini.
Dengan hasil itu, maka kami berhak untuk memasang logo satu bintang pada kaos tim kami untuk ajang serupa pada tahun mendatang, baik pada kaos tim Volly maupun pada kaos tim Futsal. Ya, mungkin agak berlebihan pernyataan ini, tapi itulah kebanggaan kami, suatu kebanggaan yang diraih dengan kerjasama, kekompakan dan kerja keras.
“Ini suatu hasil yang luar biasa, kami peroleh hasil ini pada saat-saat yang penting dalam hidup, dimana, pada saat menjuarai pertandingan Volly dengan mengalahkan TV Mandiri Papua 3-1 pada partai Final, hari itu bertepatan dengan hari ulang tahun Ibu, kemudian menjuarai Futsal pada saat hari lahirnya Erwin( salah satu pemain Futsal Pasific Post Grup ),” ujar Angelbertha Sinaga, Pemimpin redaksi pacific post.
Ibupun berharap, pada tahun mendatang di ajang yang sama ataupun pada ajang berbeda, anak-anak Pasific Post Grup bisa menunjukkan penampilan yang konsisten sehingga dapat meraih hasil yang maksimal.Ya, sesuai dengan motto pacific post grup Selalu Ada Hal Baru, maka kami yakin pada tahun 2011 mendatang pasti ada hal baru lainnya yang akan diukir oleh Crew Pasific Post Grup. ( yomo )

Kalahkan Persigo 3-0, Persidafon Makin Mantap!

Sentani- Persidafon Jayapura mampu memenuhi ambisinya untuk meraih 3 poin, setelah berhasil menang 3-0 atas lawannya Persigo Gorontalo pada pertandingan lanjutan kompetisi sepak bola divisi utama Liga Indonesia yang berlangsung di stadion Barnabas Youwe, Minggu (5/12) kemarin.
3 gol untuk Persidafon Jayapura disumbangkan oleh Eduard Ivakdalam pada menit ke-5 dan 12 babak pertama, kemudian Patrik Wanggai memperbesar keunggulan Persidafon menjadi 3-0, melalui gol yang diciptakan pada menit 55 babak kedua.
Tim tamu Persigo Gorontalo juga memiliki sejumlah peluang gol, namun selalu kandas ditangan kipper  Persidafon I Putu Dian Ananta yang sore kemarin tampil cukup cekatan. Disamping itu kuatnya barisan pertahanan Persidafon yang dikawal Marcello Cirelli, membuat penyerang-penyerang Persigo sulit untuk menciptakan gol ke gawang Persidafon.
Pada menit awal babak pertama, Persidafon Jayapura sempat membuka peluang gol melalui heading Eduard Ivakdalam, namun sayang, bola dari hasil tandukan Edu itu mampu diblok oleh kipper Persigo Fredi Herlambang, kemudian satu tembakan keras dari Ernest melambung tinggi di atas mistar gawang.Akhirnya pada menit ke lima, melalui kerjasama antara patrik wanggai yang memberikan bola kepada Frengki Amo, lalu diteruskan kepada Eduard Ivakdalam yang berada dalam areal Finalti Persigo, dan dengan sekali sentuhan Edu mengecoh pemain belakang Persigo kemudian dengan cerdik menempatkan bola di sisi kiri kipper Fredi Herlambang, dan gol.
Persigo berusaha bangkit mengejar ketertinggalannya, dan nyaris membuahkan hasil pada menit ke 30, melalui tendangan sudut, satu tembakan keras dari Henrdy Joel berhasil ditepis kipper Persidafon. Sebaliknya Persidafon kembali membangun serangan melalui patrik wanggai dan ernest jeremiah, namun satu tembakan keras dari Ernest lagi-lagi diblok kipper Persigo. Pada menit 11, Satu kesalahan dilakukan pemain belakang Persigo dengan menendang patrik wanggai, wasit memberikan hadiah tendangan bebas dari luar areal 16 meter, kesempatan itu digunakan dengan baik oleh edu Ivakdalam, dengan tembakannya yang terukur, bola tepat bersarang dijaring gawang sudut kanan yang dikawal kipper Fredi Herlambang, Persidafon melaju dengan skor 2-0, skor ini bertahan hingga babak pertama usai.
Memasuki babak kedua pada 3 menit awal, Persidafon memiliki 3 peluang emas, namun sayang, baik Patrik Wanggai,Ernest Jeremiah dan Abel Cello gagal memanfaatkan peluang itu menjadi gol. Memasuki menit ke-55, satu umpan dari pemain pengganti Dodi K kepada Patrik Wanggai, dapat dikuasai dengan baik, dan dengan satu sentuhan mengecoh lawan,lalu mengarahkan ke kiri kipper dan gol. Persidafon pimpin 3-0.
Permainan yang sempat berjalan dengan baik ini, akhirnya dinodai dengan satu katu kuning yang dikeluarkan wasit kepada Kapten Tim Persigo  Marwan Muhamad, setelah mengganjal dengan keras Marcelo Cirelli. Kedua pelatihpun melakukan beberapa pergantian pemain, dari Kubu Persidafon, Setelah Franky Amo yang ditarik keluar digantikan Doddy, Viktor Pae dan Ernest Jeremiah juga ditarik keluar digantikan Lukas Rumkabu dan Angga Permana. Demikian pula dikubu Persigo, Hendre Suge, Hendri Joel dan Yudi Mamonto ditarik keluar di gantikan dengan Fadli, Marwin dan Jems.
Hingga peluit ditiup wasit Dedik dari Denpasar, yang menandakan usainya babak kedua, Persidafon tetap unggul 3 gol tanpa kebobolan. Seluruh Pendukung Persidafon akhirnya keluar dengan rasa puas, demikian pula halnya dengan para pemain dan official yang merasa bangga atas hasil yang diraih sore kemarin. Selanjutnya Persidafon dijadwalkan akan menjamu Persebaya Surabaya pada Kamis ( 9/12 ) mendatang, kita tunggu hasilnya apakah Persidafon mampu mengulang kesuksesannya?(yomo)



Jumat, 26 November 2010

Korupsi Penyebab Penderitaan Rakyat

Jayapura- Korupsi di Papua dinilai sudah sangat mengkuatirkan dan membahayakan kehidupan rakyat dan menjadi salah satu penyebab penderitaan bagi masyarakat Papua, karena itu dihimbau kepada seluruh masyarakat untuk memerangi segala bentuk tindakan korupsi.
Demikian diungkapkan Ketua Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP ) Perwakilan Papua, I Nyoman Sardiana pada kegiatan Sosialisasi Anti Korupsi, yang berlangsung di aula kantor BPKP Perwakilan Papua, di Jayapura, Kamis (25/11 ) kemarin.
Pada kegiatan sosialisasi anti korupsi yang dikuti oleh mahasiswa, pengurus komite sekolah dan para wartawan di Jayapura itu, I Nyoman mengungkapkan, bahwa persoalan korupsi telah menjadi persoalan seluruh lapisan masyarakat, karena telah merusak system tatanan bermasyarakat, penderitaan masyarakat di berbagai sector, menyebabkan sikap frustasi,ketidakpercayaan dan apatis terhadap Pemerintah dan memunculkan berbagai masalah social dalam masyarakat.
“ Jadi saya berharap, kita semua tidak hanya menghimbau, tetapi harus benar-benar bertindak untuk memberantas korupsi, kalau perlu kita perangi korupsi,” ujar Ketua Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP ) Perwakilan Papua, I Nyoman Sardiana.
Sementara itu Kepala Bidang Investigasi BPKP Perwakilan Papua, Hierorymus Saktyo P, SE,CFE yang tampil sebagai pembicara pertama, mengungkapkan bahwa Korupsi di Indonesia seperti badai yang siap meperorak porandakan kehidupan masyarakat, karena itu perlu mendapat perhatikan kita semua, baik Pemerintah, Swasta dan seluruh lapisan masyarakat.
Selain Hierorymus, pembicara lainnya, yakni Kasat III Tipikor Direskrim Polda Papua, Kompol M Yusuf juga mengungkapkan hal yang sama, yakni korupsi harus diberantas.” Tahun 2010 ini kami sudah menangani 14 kasus korupsi, 10 kasus sudah disidangkan, sedangkan 4 kasus lainnya sedang dalam proses, kami berharap ada peran serta dari seluruh masyarakat memberikan laporan dengan data yang akurat, sehingga dapat ditindaklanjuti untuk memerangi kasus korupsi di Papua,” tandasnya.
Lalu Plh Asisten Pidana Khusus Kejaksaan Tinggi Papua, Costantien Ansanay,SH,CN, dalam paparannya menegaskan bahwa pihaknya tidak main-main dengan segala bentuk tindakan korupsi. Managemen yang lemah di dalam Pemerintahan, menjadi penyebab tumbuh suburnya korupsi di Papua.” Management Pemerintahan kita sangat rapuh, ini yang mesti dibenahi,” tegasnya.
Mulyono Prakoso dari Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK ) yang tampil sebagai pembicara terakhir mengungkapkan, bahwa kunci pemberantasan korupsi adalah pada upaya penindakan, sosialisasi dan peran serta masyarakat. “Indonesia merupakan Negara terkorup di Asia Tenggara, jadi kalau pelaku korupsi ditindak dengan tegas, ada harapan untuk kita bisa mengurangi korupsi,” ujarnya.
Sosialisasi yang diisi dengan sesi tanya jawab ini mendapat respon yang sangat luar biasa dari para peserta, baik dari kalangan mahasiswa, komite sekolah dan para wartawan dengan menyampaikan berbagai pertanyaan dan usul. Meski sempat menyayangkan dengan singkatnya waktu, namun para narasumber berjanji siap berdiskusi dimana saja terkait upaya-upaya penanganan dan pemberantasan kasus korupsi di Papua. ( yomo )

Sabtu, 20 November 2010

SERUAN GUBERNUR PROVINSI PAPUA UNTUK PERDAMAIAN

SERUAN GUBERNUR PROVINSI PAPUA UNTUK PERDAMAIAN DAN PERSAUDARAAN DALAM RANGKA MEMBANGUN MASA DEPAN YANG LEBIH BAIK, LEBIH DAMAI, LEBIH SEJAHTERA DAN LEBIH BERMARTABAT BAGI SEMUA
Gubernur Provinsi Papua, Barnabas Suebu S.H kembali menyerukan agar semua pihak untuk menahan diri pasca insiden Yoka yang berakibat sejumlah rumah habis dibakar dan dirusak. Kejadian itu dipicu oleh beredarnya sebuah lagu yang dibuat oleh beberapa orang remaja/pemuda yang menghina sekelompok masyarakat yang tinggal dikompleks expo, Waena. Perbuatan menghina ini adalah perbuatan yang biadab, melanggar hukum, melanggar hak asasi serta harkat dan martabat manusia.
Segera sesudah memperoleh informasi tentang insiden tersebut pada hari rabu, 17 November 2010, Gubernur langsung berkoordinasi dengan Kapolda Papua dan pejabat walikota Jayapura untuk mengambil langkah-langkah dan warga masyarakat,khususnya mereka yang ditimpa musibah ini.
Pada kesempatan itu juga, dari salah seorang petugas gereja, Gubernur mendengar rekaman lagu itu. Gubernur sangat kecewa, karena isi lagu itu benar-benar buruk dan sama sekali tidak bisa dibenarkan, apapun alas an pembuatannya.”Ini perbuatan biadab oleh orang yang tidak tahu tata karma dan sopan santun. Saya mengutuk lagu itu!Ini jelas-jelas perbuatan melanggar hukum!,” tegas Gubernur Suebu. Gubernur menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Kapolda Papua, kapolresta Jayapura, dan seluruh jajaran Kepolisian Negara yang bertindak sigap dan langsung memproses serta menyelidiki lebih jauh oknum-oknum yang terlibat dalam pembuatan dan pengedaran lagu tersebut.
Barnabas Suebu,S.H
Terkait dengan berita yang beredar di masyarakat, bahwa Gubernur Suebu menyebut salah satu kelompok sebagai “biadab”, Gubernur dengan tegas membantahnya. Gubernur menegaskan bahwa yang biadab itu adalah perbuatan yang dilakukan. “ Arti kata perbuatan biadab itu adalah perbuatan melanggar hukum, melanggar HAM dan melanggar harkat dan martabat manusia. Membuat lagu yang menghina orang atau masyarakat lain itu adalah perbuatan yang jelas-jelas melanggar hokum. Membakar rumah orang-orang yang tidak bersalah adalah perbuatan yang juga jelas-jelas melanggar hokum. Para pelakunya, entah yang membuat, menyanyikan dan menyebarluaskan lagu yang menghina itu, maupun yang membakar rumah-rumah orang-orang yang tidak berdosa, harus diproses secara hokum,” sambung Gubernur.
Dalam pada itu Gubernur menegaskan bahwa apabila kata biadab itu tidak dapat diterima atau dipahami dalam arti yang lain, maka Gubernur menarik kata biadab tersebut dengan diserta permohonan maaf. Yang pasti, perbuatan melanggar hokum itu tidak boleh dibiarkan.
Lebih jauh Gubernur menegaskan bahwa lagu tersebut diciptakan oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab, yang bisa saja memicu dan menciptakan kebencian dan permusuhan, untuk memecahbelah persaudaraan diantara sesame rakyat Papua.” Pihak kepolisian sudah menangkap mereka dan sedang menyelidiki secara seksama tentang siapa actor intelektual dan apa motif dibalik pembuatan lagu tersebut. Polisi juga menyelidiki tentang kemungkinan adanya anasir dari luar yang secara sengaja tidak menghendaki terciptanya kehidupan yang rukun dan damai serta penuh persaudaraan di Tanah Papua,” Sambung Gubernur.
Gubernur lebih jauh menghimbau agar seluruh masyarakat, dimanapun berada, yang masih memiliki lagu tersebut-entah dalam bentuk rekaman, syair, tulisan, baik yang disimpan dalam telepon seluler, laptop, atau media penyimpanan lainnya, untuk segera menghapus lagu tersebut.” Memiliki dan menyimpan lagu itu juga adalah perbuatan yang melanggar hokum, apalagi mengedarkannya,” tegasnya.
“Seluruh kejadian ini jelas-jelas adalah rancangan setan untuk menciptakan kecelakaan bagi rakyat Papua,” tegas Gubernur. Jangan beri kesempatan kepada pihak mana pun untuk merusak persatuan dan kesatuan rakyat Papua yang sudah dibangun mantap selama ini. Marilah kita berpaut kepada rancangan Tuhan bagi Papua, agar kita bersatu dalam persaudaraan sejati guna membangun masa depan yang lebih baik, lebih damai, lebih sejahtera, dan lebih bermartabat bagi semua,” jelas Gubernur.
Gubernur juga menghimbau kepada kedua belah pihak untuk kembali ke tempat tinggalnya masing-masing dan kembali melakukan aktifitas seperti biasa, tidak boleh takut, karena pihak kepolisian menjamin tidak akan terjadi lagi aksi serang menyerang dan perbuatan-perbuatan lainnya yang melanggar hukum.

Kamis, 18 November 2010

Yang Tercecer Dari Pelaksanaan PNPM Mandiri- Respek Di Distrik Wari Kabupaten Tolikara ( Bagian_1)

“ Tim Dicaci Maki, Tapi Juga Disambut Layaknya Bupati atau Gubernur”

Pada bulan Agustus 2010 lalu, Penanggung Jawab Operasional Kegiatan (PjOK ) Distrik dan Tim Pengelolah Kegiatan Distrik ( TPKD ) serta Pendamping PNPM Mandiri Respek untuk Distrik Wari Kabupaten Tolikara, berhasil mencairkan dana PNPM Mandiri- Respek sebesar Rp 1,4 Milyar di Bank Papua Cabang Wamena, lalu dana tersebut di bawah terbang ke Distrik Wari untuk dipergunakan bagi kepentingan masyarakat, sesuai dengan petunjuk SK Gubernur Provinsi Papua Nomor 140 Tahun 2009. Bagaimana penerapannya? Berikut wawancara tim papua baru dengan Ketua TPKD ( Distrik Wari ) Silas Treido dan Sekertaris Kampung Kalibu, Karel Fruaro serta beberapa  masyarakat di Distrik Wari….

Laporan : Alberth Yomo

Distrik Wari Kabupaten Tolikara, memiliki 11 kampung yang terdaftar sebagai penerima dana Bantuan Langsung Masyarakat ( BLM )PNPM Mandiri – Respek, antara lain Kampung Wari, Papedari, Dotori, Kowari, Wiki, Kruku, Friji,Korera,Muna/Ganoma, Beleise/Dorman dan Kalibu. Sehingga Total dana yang diperoleh Distrik ini untuk penerapan PNPM Mandiri-Respek adalah Rp.1,1 Milyar. Namun, selain dana BLM tersebut, pada waktu yang sama, Distrik Wari juga menerima dana lain sebesar Rp.300 Juta, yang menurut Ketua TPKD Wari, Silas Treido, merupakan dana PNPM.
Entahlah itu dana PNPM atau bersumber dari mana, namun yang jelas, tim pengelolah dana Respek dari Distrik Wari, saat itu menerima Rp 1,4 Milyar. “ Saat itu kami membawa uang ke Wari sebesar Rp 1,4 Milyar. Uang tersebut di luar Dana Operasional Kegiatan ( DOK ) sebesar Rp 100 Juta,” ungkap Silas Treido.
“Ketika proses pencairan dana itu sedang berlangsung di Wamena, seluruh masyarakat di Distrik Wari sedang menanti dengan serius, bahkan tempat radio (SSB) sudah  dipadati warga hanya untuk mendapat kepastian kapan tim tiba di Wari,” cerita Silas.
Bahkan ketika terjadi penundaan keberangkatan tim dari Wamena ke Wari, sempat menimbulkan kemarahan warga, meskipun itu bukan factor kesengajaan tetapi murni disesuaikan dengan kondisi pesawat yang hendak dipakai. “ Aduh, kami dicaci maki habis-habisan, ketika tiba di Wari, padahal pesawat hanya tertunda satu hari saja,” ujar Silas dengan senyum lepasnya yang khas.
Seperti menyambut kedatangan kunjungan Gubernur atau Bupati, itulah yang dirasakan Silas Treido yang juga Kepala Kampung Wari ini, ketika pesawat yang mereka tumpangi mendarat mulus di lapangan terbang Wari. Mereka dikawal mulai dari tangga pesawat hingga tiba di rumah, hamper tak diberi ruang untuk bergerak. Kemudian diberi penjelasan tentang bagaimana dana tersebut akan digunakan sesuai dengan petunjuk pelaksanaan sebagaimana yang diatur dalam SK Gubernur Papua Nomor 140 itu.( Bersambung )





PNS Pemprov Papua Kembali Demo Tuntut TKD

Ratusan Pegawai Negeri Sipil [PNS] di lingkungan pemerintah Provinsi Papua, melakukan aksi demo di halaman kantor Gubernur Papua dan menuju ke gedung negara, Kamis [18/11] pagi kemarin, menuntut agar Tambahan Penghasilan Bersyarat atau yang dulu dikenal dengan Tunjangan Kinerja Daerah [TKD] selama tahun 2010 sejak bulan Januari belum dibayarkan.

Demo yang melibatkan pegawai dari sejumlah instansi di lingkungan pemerintah Provinsi Papua baik di kantor Gubernur Dok II maupun Dinas Otonom dan instansi lainnya, juga menuntut Gubernur Papua Barnabas Suebu, untuk segera mencopot jabatan Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Asset Daerah [BPKAD] Provinsi Papua, Achmad Hatari yang dituding “mempersulit” pembayaran dana tunjangan kinerja tersebut.

Aksi demonstrasi ini sontak membuat pelayanan di Kantor Gubernur dan Dinas Otonom Papua menjadi lumpuh, karena tak ada satupun pegawai melakukan aktivitas perkantoran. Sejumlah pegawai yang sedang berdemo, bahkan melakukan swiping di ruang kerja pegawai Kantor Gubernur untuk kemudian menghentikan dan mengajak pegawai lainnya melakukan aksi demo secara bersama-sama.

Pendemo meminta Gubernur dapat menampung aspirasi mereka. Jika tidak diperhatikan, para pegawai mengancam akan memboikot seluruh aktivitas pelayanan serta melakukan pemalangan kantor dinas jika tunjangan yang diminta tersebut belum kunjung dibayarkan dalam waktu dekat ini.

Para pegawai tersebut bertahan dan harus bertemu dengan Gubernur Papua, Barnabas Suebu,SH namun sangat disayangkan para pegawai itu tidak bisa bertemu gubernur, karena sedang berada di Makassar mengikuti Rapat Gubernur se-Indonesia yang berlangsung saat ini.

Sekda Papua, drh. Constant Karma saat dikonfirmasi wartawan usai menutup workshop wartawan di Hotel Aston Jayapura mengatakan, tuntutan PNS itu adalah mengenai tambahan penghasilan bersyarat atau tunjangan kinerja. Namun sesuai Peraturan Gubernur Nomor 6 tahun 2010 hanya mengatur tiga bulan kedepan yakni dari Oktober, November dan Desember.

Tetapi para PNS mempertanyakan, kemana tunjangan kinerja selama sembilan bulan, terhitung sejak Januari 2010?. “Dulu memang sudah ada, tetapi tidak ada penilaian dan hal itu oleh BPK tidak diperbolehkan, tanpa adanya suatu penilaian. Gubernur sebenarnya telah memberikan sosialisasi kepada pimpinan SKPD tetapi hingga ketingkat bawah tidak mendapat kejelasan,” ujar Sekda.

Sekda menegaskan, sosialisasi pembayaran tambahan penghasilan bersyarat ini tidak sampai pada pegawai-pegawai di tingkat paling rendah. “Jadi ini kan penghasilan tambahan bersyarat, diluar dari gaji. Maksudnya untuk diberikan kepada pegawai yang betul-betul bekerja dan pembayaran ini sangat beda, jika pegawai yang bekerja hingga malam akan dapat berbeda dibandingkan dengan pegawai yang datang dan pulang sebelum jam pulang kantor,” tegasnya.

Ditambahkan, dalam melakukan penilaian untuk tambahan penghasilan bersyarat ini dilakukan secara berjenjang. Dimana, kepala SKPD harus ada penilaian terhadap kepala bagiannya, kepala seksi harus ada penilaian terhadap bawahannya, begitu kepala bidang dapat menilai kepala-kepala seksinya, kata Sekda.(yomo)

Melihat Dari Dekat Sekolah Menengah Kejuruan Di Wari Kabupaten Tolikara ( Bagian_3/ Habis )

Setelah melihat bangunan rumah guru dan asrama, kami kembali melalui jalan yang sama menuju satu bangunan lagi, yakni gedung laboratorium. Posisi gedung ini berada di sebelah kiri gedung administrasi, jaraknya kurang lebih 70 meter dari gedung administrasi.
Laporan : Alberth Yomo

Sama seperti gedung lainnya, laboratorium ini dibangun semi permanen dengan memakai jendela kaca bergerendel, tanpa hordein, sehingga isi dalam ruangan bisa dilihat. Tampak semua sudut ruangan masih kosong, sehingga dapat diketahui bahwa ruangan ini belum pernah digunakan untuk praktek.
Karel mengungkapkan kepada pacific post, bahwa sejak sekolah ini dibuka tahun 2007 lalu, ada sekitar 30 anak yang masuk, namun dalam perjalanannya hingga tahun 2010 bulan maret lalu, yang lulus hanya 15 siswa, lainnya tidak melanjutkan sekolah, tanpa diketahui alasannya.
Salah satu mantan siswa SMK, Korneles Treido yang ditemui pacific post di Kampung Wari, juga mengungkapkan hal yang sama, bahwa mereka yang lulus pada maret 2010 lalu ada 15 anak, dan itu merupakan lulusan pertama dari SMK N Tolikara. Sejak bulan itu, tidak pernah ada kegiatan belajar mengajar hingga saat ini ( bulan oktober 2010 ).
“ Guru-guru semua sudah pulang, jadi tidak ada kegiatan belajar. Kami tidak tahu kapan baru guru-guru kembali ke sini. Padahal anak-anak banyak yang sudah tunggu untuk mendaftar masuk sekolah,” tandas Karel.
Karel mengungkapkan, bahwa sejak sekolah ini dibuka, ada sekitar 11 guru yang silih berganti dating dan pergi, selalu ada guru baru. Tapi tidak lama mengajar, guru itu pergi lagi. Anak-anak disini tidak sekolah baik. “Jadi kalau di Koran bilang ini sekolah internasional, itu sangat memalukan,” tandasnya.
Karel dan seluruh orang tua berharap agar Pemerintah Daerah bisa memperhatikan dan menseriusi persoalan SMK ini. Karena ini merupakan satu-satunya sekolah SMK yang ada di Kabupaten Tolikara. Dirinya sangat menyayangkan, anak-anak di kampungnya yang terlantar, bukan saja di SMK, tapi juga di tingkat SMP dan SD mengalami nasib yang sama, yakni terbengkalai selama berbulan-bulan tanpa proses belajar mengajar.
Hal lain yang diungkapkan Karel adalah, bahwa pendidikan di kampong Wari tidak berjalan lancer, karena banyak guru-guru yang mengeluh honor mereka tidak dibayar. Disisi lain, Kepala Sekolah, baik di SMK,SMP dan SD Wari yang dirangkap satu orang ini, menjadi keluhan para guru, karena selain tidak focus juga tidak serius memperhatikan masalah sekolah.***

Melihat Dari Dekat Sekolah Menengah Kejuruan Di Wari Kabupaten Tolikara ( Bagian_2 )

Menyusuri jalan masuk ke halaman sekolah, sudah tidak terlihat jelas mana jalan sebenarnya, karena, baik jalan maupun halaman sekolah seluruhnya sudah ditutupi rumput setinggi pinggang orang dewasa. Bahkan Karel, pemuda kampung yang menjadi guide khusus ini, tersungkur masuk dalam parit saat hendak berpose di depan papan nama SMK N Tolikara.

Laporan : Alberth Yomo

Gedung pertama yang kami jumpai ketika memasuki pelataran sekolah adalah kantor administrasi, di mana terdapat ruang guru, ruang kepala sekolah dan ruang tata usaha. Bangunan semi permanen ini luasnya kurang lebih 8 x 20 meter. Memiliki jendela kaca bergerendel dan ditutupi hordein warna merah, sehingga kami tidak bisa melihat isi dalam ruangan itu.
Disamping kanan gedung administrasi, kurang lebih 7 meter, terdapat bangunan memanjang kurang lebih 60 x 10 meter, terdapat 4 ruangan yang cukup luas, ruangan pertama, nampaknya dipersiapkan untuk ruang perpustakaan, namun yang terlihat hanya beberapa rak buku kosong, sementara 3 ruang lainnya merupakan ruang belajar, di mana 3 ruangan ini, pembatas ruangnya dibuat bergerendel, sehingga bisa difungsikan juga sebagai ruang pertemuan atau aula sekolah. Nampak terlihat dalam ruangan ini, puluhan kursi meja kayu tersusun rapi. “ Ini waktu rapat orang tua siswa, jadi semua kursi meja dipindahkan ke ruangan ini,” tandas Karel..
Setelah melihat ruangan tersebut, kami melanjutkan melihat gedung lainnya yang merupakan kembarannya. Ukurannya sama, terdapat empat ruangan, masing-masing ruangan luasnya kurang lebih 10x10 meter yang nampaknya merupakan ruang belajar. “ Bisa menampung 30 siswa dalam satu ruangan, tapi rata-rata siswa per kelas hanya 10 sampai 20 siswa, jadi mungkin ada 60 siswa di sekolah ini,”tandasnya. Ruangan ini dibiarkan terbuka, sehingga memudahkan orang atau binatang bisa masuk. Ada ruangan yang tidak ada kursi dan meja belajarnya, ada yang hanya beberapa kursi dan meja.
Kami melanjutkan lagi berjalan semakin ke belakang menyusuri rumput dan semak-semak untuk melihat rumah guru dan asrama. Kurang lebih 100 meter berjalan ke belakang, kami mendapati dua bangunan kembar ukuran 8x8 meter, rumah semipermanen yang terkesan mewah, terdapat ruang tamu, ruang keluarga, dua kamar tidur, dapur dan WC. Tapi sayang, tidak ada penghuninya. Satu rumah, pintu dan jendelanya terkunci, sedangkan satunya lagi dibiarkan terbuka, sehingga pada beberapa bagian mulai rusak dan dikotori.
“Rumah guru su bagus begini, tapi trada guru yang mau tinggal disini, jadi ada masyarakat yang bilang, kalau guru tidak mau tinggal di rumah ini, nanti masyarakat ambil rumah ini untuk dijadikan tempat tinggal, karena banyak juga masyarakat yang belum dapat bantuan rumah social,” ungkapnya.
Semakin ke belakang lagi kami berjalan, kurang lebih 100 meter dari 50 meter dari rumah guru, kami mendapati 2 gedung lagi.” Yang ini asrama putri, sedangkan yang itu ( 30 meter di depan kami ) asrama putra,” ujar Karel yang pernah diperbantukan bekerja di sekolah ini, namun karena dirinya menilai ada kecurangan yang dilakukan pimpinan sekolah dalam hal penggajian, akhirnya ia tidak bekerja lagi di sekolah ini.
Bangunan dengan luas kurang lebih 30 x 15 meter ini, juga merupakan bangunan semi permanen, dalam bangunan ini terbagi lagi menjadi 2 ruang ukuran 10x10 yang nampaknya merupakan ruang tidur. Sementara dibagian belakang ruangan ini, terdapat 3 Toilet dan 3 kamar mandi. Gedung Asrama putri tampak tertutup, sementara asrama putra, pintunya sudah terbuka, dan ruangannya sudah ditempati orang, dengan membangun 2 tempat tidur darurat. “Macamnya ada orang yang biasa tidur disini, mungkin orang dari gunung,” tandas Karel.( Bersambung )

Melihat Dari Dekat Sekolah Menengah Kejuruan Di Wari Kabupaten Tolikara ( Bagian_1 )

Pada tahun 2007 lalu, salah satu media cetak di Jayapura menulis tentang Sekolah Menengah Kejuruan yang baru diresmikan di Kabupaten Tolikara, dalam tulisan itu, dikatakan sekolah tersebut  mampu menampung ribuan siswa dan ungkapan lainnya soal kelebihan sekolah tersebut. Namun sudah tiga tahun berlalu, tak terdengar kabar tentang sekolah yang katanya bertaraf Internasional itu. Seminggu lebih, pacific post berada di Distrik dimana sekolah itu dibangun, bagaimana kondisinya?

Laporan : Alberth Yomo

Tidak mudah untuk bisa sampai di Distrik Wari Kabupaten Tolikara, transportasi ke sana hanya menggunakan pesawat udara dan jalur transportasi sungai menggunakan longboat. Jika menggunakan pesawat udara, nampaknya harus dicarter dengan puluhan juta rupiah, namun jika ingin yang lebih murah, pasti lewat jalur sungai, tapi itupun tidak mudah.
Menggunakan transportasi sungai, terlebih dahulu harus transit di lapangan terbang Dabra yang biasanya melayani penerbangan perintis Merpati yang disubsidi Pemerintah,yang tentunya harga tiketnya bisa terjangkau. Kemudian dari Dabra, setelah menyiapkan bensin kurang lebih 30 liter, sewa perahu longboat dengan ketinting atau motor temple lalu menyusuri sungai  Mamberamo( Taritatu ), kemudian masuk kali Taiyeve, transit di kampong Taiyeve I, lalu melanjutkan perjalanan menyusuri kali Wari hingga tiba di pelabuhan Wari.
Apabila kondisi kali dalam keadaan banjir atau air naik, maka perjalanan tersebut bisa lebih cepat, dapat menghabiskan waktu kurang lebih 5 jam. Tetapi jika kalinya dalam kondisi normal, maka butuh waktu lebih dari 6 jam, karena perlu extra usaha untuk menarik perahu ketika terkandas di bebatuan, dan perlu menyimpan sebagian tenaga untuk memikul beban dan berjalan kaki sejauh 2 kilometer lagi untuk sampai di Ibukota Distrik Wari.
Beruntung  pada perjalanan ke sana, ketika bermalam di Taiveye I, turun hujan deras, sehingga kali Wari banjir dan air naik cukup tinggi, sehingga pagi harinya kami bergegas cepat menuju Distrik Wari. Dua jam berikut, kami telah berada di pemukiman masyarakat Wari. Setelah 4 hari berdiskusi dan melakukan observasi kondisi kampong, hari ke-lima, saya khususkan untuk melihat dari dekat sekolah menengah kejuruan itu.
Ditemani oleh salah seorang pemuda Kampung, saya disarankan menggunakan sepatu boat karet untuk kami memasuki lokasi sekolah, karena lokasi sekolah menurutnya  sudah ditutupi rumput liar, yang ditakuti kalau-kalau ada ular berbisa. Dan memang benar, nampak seluruh halaman sudah ditumbuhi rumput setinggi pinggang orang dewasa, bahkan pohon liar juga tak jarang terlihat di areal seluas kurang lebih 3 hektar itu, seperti sebuah bangunan yang sudah tidak digunakan lagi. …( bersambung )

Penuturan Direktur Eksekutif YALI Papua Tentang Keberadaan Cagar Alam Cyclop

Bencana alam banjir bandang yang terjadi di Wasior belum lama ini menurut para penggiat lingkungan hidup, disebabkan oleh rusaknya hutan pada kawasan penyangga, bencana itu kemudian mengingatkan kita pada bencana serupa yang terjadi di Sentani tahun 2006 lalu, penyebabnya sama yakni rusaknya kawasan penyangga Cagar Alam Cyclop. Lalu apa hikmahnya? Berikut penuturan Direktur Eksekutif Yayasan Lingkungan Hidup ( YALI ) Papua, Bastian Wamafma kepada tim papua baru…

Laporan: Alberth Yomo

“ Perhatian kepada ( Cagar Alam )Cyclop sudah belasan tahun lalu diberikan, dan telah banyak kegiatan yang dilakukan baik oleh Pemerintah, Lembaga Sawadaya Masyarakat, Perguruan Tinggi maupun Lembaga Internasional, melalui kajian-kajian yang kemudian diseminarkan dan mendapat berbagai rekomendasi namun hasilnya mandek? Ibarat menjaring angin alias sia-sia saja, “ ungkap Bastian Wamafma, Direktur Eksekutif Yali Papua kepada papua baru di kantornya, Senin(15/11 ) kemarin.

Dijelaskan, bahwa keprihatinan berbagai pihak terhadap keberadaan cagar alam cyclop sudah berlangsung lama, dan telah dilakukan berbagai kajian terhadap sumber daya alam yang terkandung di dalamnya, maupun dampak dari pemanfaatan sumber daya alam itu, bahkan puluhan rekomendasi sudah dihasilkan dari kajian-kajian yang dilakukan berbagai pihak tersebut.

“ Tapi sayang upaya-upaya yang dilakukan berbagai pihak itu tidak mampu membendung ancaman-ancaman yang menimpa kawasan, seperti berkurangnya kualitas dan kuantitas debit air, yang merupakan implikasi pertambahan penduduk, perladangan bebas dan pemanfaatan kayu soang yang meningkat dari tahun ke tahun,” ujar Bas panggilan akrab Bastian Wamafma.

Pernyataan Bastian ini sejalan dengan apa yang dikemukakan Direktur PDAM Jayapura Gading Butar Butar beberapa waktu lalu dalam suatu jumpa pers di Jayapura, dimana dalam pernyataan itu Gading Butar Butar mengungkapkan, bahwa debit air di kota Jayapura dari sisi kualitas dan kuantitasnya sudah sangat mengkuatirkan, jika tidak segera dipecahkan akar masalahnya, maka masyarakat di kota Jayapura siap menanggung konsekuensinya.  

Menurut Bastian, bahwa hal yang penting dan mesti dilakukan Pemerintah saat ini adalah bertindak menjalankan rekomendasi-rekomendasi yang pernah dibuat dan disepakati, sehingga pertemuan-pertemuan yang pernah dilakukan benar-benar memberi manfaat yang signifikan sejalan dengan waktu, uang dan tenaga yang telah dikeluarkan baik oleh pemerintah maupun lembaga-lembaga social lainnya, kalau perlu tindakan tegas.

“Relokasi warga, penyusunan peraturan dalam bentuk Perda  tentang pengelolaan CAC (Cagar Alam Cyclop) merupakan dua contoh dari hal-hal yang pernah dibicarakan pada setiap kesempatan berbicara tentang cyclop, tetapi apa yang dibicarakan dalam pertemuan itu, rekomendasi yang dihasilkan pada pertemuan itu, tidak ada yang jalan, entah kenapa,” ujar Bas yang menjadi penggiat lingkungan hidup dari tahun 2000 ini.

Hal lainnya yang diamati Bas adalah ego sektoral, dimana Pemerintah Daerah dan Lembaga-Lembaga Swadaya Masyarakat yang melakukan kajian terhadap keberadaan cyclop berjalan sendiri-sendiri.” Dua-duanya bikin kegiatan, tapi setelah itu mentok ( macet ) saat implementasi,” tegasnya.

Bas kemudian mengingatkan, bahwa dari hasil kajian Natural Resources Management bekerjasama dengan BAPPEDALDA Provinsi tahun 2002 hingga tahun 2004 wilayah angkasa kota Jayapura hingga Kampung Doyo Kabupaten Jayapura, ada hidup lebih dari 2000an jiwa penduduk yang menetap dalam kawasan , dan ini akan menjadi ancaman serius pada tahun-tahun mendatang bila dihubungkan dengan pemanfaatan lahan.” ungkapnya

Jadi Bas meminta, kiranya ada kesadaran dari masyarakat untuk tidak melakukan aktifitas dalam kawasan, dan mentaati aturan dan solusi yang ditawarkan Pemerintah, karena ini untuk kebaikan kita semua, agar ada hari depan bagi anak-anak negeri.” Jangan sampai kita dan anak cucu kita mencucurkan air mata karena banjir bandang yang meluluhlantakan rumah dan semua yang kita miliki,” pesannya.***

Mencermati Pesan Gubernur Provinsi Papua Pada Pelantikan Penjabat Bupati

“Pegang teguh janji yang saudara ucapkan kepada Tuhan, Ingat, Janji ini kepada ini Tuhan,”

Pada beberapa waktu lalu Gubernur Provinsi Papua, Barnabas Suebu SH telah melantik beberapa Bupati definitive dan  juga telah melantik beberapa orang Penjabat Bupati, untuk memimpin penyelenggaraan pemerintahan di daerah-daerah dimana mereka menjabat. Bahkan dalam beberapa waktu ke depan, akan melantik pejabat-pejabat daerah yang baru. Ada beberapa pesan Gubernur yang sangat penting dan perlu digaris bawahi oleh mereka yang telah dilantik dan yang akan dilantik. berikut laporannya :

Laporan : Alberth Yomo

Prosesi pelantikan seorang pejabat di Indonesia, apakah itu seorang Presiden, Gubernur, Bupati bahkan pelantikan seorang kepala kampung, tidak terlepas dari apa yang kita sebut sumpah jabatan. Prosesi ini merupakan suatu ritual baku di Indonesia bahkan di dunia yang telah berlangsung lama dan mungkin akan terus berlangsung abadi. Prosesi ini biasanya ditandai dengan mengangkat lengan tangan kiri sejajar bahu lalu dua jari, yakni jari telunjuk dan jari tengah diacungkan, sementara jari manis dan jari kelingking diapit oleh ibu jari menjadi satu kesatuan merapat di dalam telapak tangan kiri dan pada saat yang sama, tangan kanan calon pejabat menempel di atas kitab suci.
Setelah itu, calon pejabat akan meniru dan menjawab pernyataan sang pelantik.” Dengan nama Tuhan saya berjanji,” demikian sepenggal kalimat lasim yang diucapkan para pejabat yang dilantik. Berjanji berdasarkan agama apa? Tanya sang pelantik, kemudian akan dibalas sang penerima jabatan sesuai dengan nama Agama yang dianutnya. Usai ritual itu, pasti akan diakhiri dengan pemberian ucapan selamat dengan cara berjabatan tangan dan memberi ucapan selamat. Namun prosesi ini, bagi sebagian orang adalah prosesi yang tak bernilai,karena walau sudah bersumpah atas nama Tuhan,selalu saja sumpah janji itu dilanggar, demi kepentingan pribadi dan golongan. Tapi entahlah,mungkin hanya bagi sebagian orang.
Senang dan bangga, itu yang pasti dirasakan seseorang ketika melalui prosesi ini.” Kepercayaan seperti ini tidak bisa diberikan kepada semua orang,  kepercayaan ini datangnya hanya sekali dalam kehidupan seseorang, karena itu saudara melihat bahwa kepercayaan yang diberikan adalah satu kehormatan, kehormatan yang saudara terima, kehormatan ini mengandung tanggung jawab yang besar, karena itu saya berpesan saudara pegang teguh janji yang saudara ucapkan kepada Tuhan, janji ini kepada Tuhan,”tegas Gubernur Provinsi Papua, Barnabas Suebu SH, pada pelantikan dua orang penjabat Bupati, beberapa waktu lalu di gedung Negara, Jayapura.
Pada penegasan itu, Barnabas Suebu menekankan kalimat “Janji Kepada Tuhan” dua kali berturut-turut dalam satu kalimat langsung. Artinya apa?Bahwa seorang Barnabas Suebu mengetahui dengan betul konsekuensi dari janji itu, Barnabas Suebu juga tahu apa akibatnya ketika seseorang mengingkari janjinya kepada Tuhan. Gubernur Provinsi Papua ini meyakini, bahwa konsekuensi dari ingkar janji kepada Tuhan berbeda dengan ingkar janji kepada sesama manusia, dan konsekuensinya jelas, yaitu  Hukuman dan hukuman dari Tuhan itu tentu beda dengan hukuman yang diberikan oleh manusia. “Apabila saudara mengingkari janji ini, saudara akan bertemu dengan konsekuensi- konsekuensi,” tandas Gubernur Provinsi Papua ini.
Gubernur Provinsi Papua ini kemudian mengungkapkan contoh-contoh kasus akibat dari inkonsekuen pejabat-pejabat  Papua yang mengingkari janjinya kepada Tuhan .”Kita tahu banyak pemimpin di Papua yang mengingkari janjinya kepada Tuhan, sehingga mereka sudah mengalami akibat dari konsekuensi itu yang akan terjadi pada diri dan hidup saudara apabila janji ini tidak ditepati seiklas-iklasnya yang setulus-tulusnya seperti yang saudara ucapkan kepada Tuhan,” tandasnya.
Konsekuensi yang dimaksud Gubernur, jelas adalah konsekuensi hukum, dimana ketika seorang pejabat menyalahgunakan kewenangan yang diberikan, misalnya melakukan korupsi terhadap dana APBD atau dana-dana lainnya, maka hotel prodeo akan menjadi tempat peristirahatan berikutnya, dan mungkin akan menjadi tempat yang tepat untuk pengakuan dosa dan tempat yang baik untuk merendahkan diri kepada Tuhan, itupun kalau Tuhan berkenan.
 “Apabila saudara bekerja dengan hati yang tulus dan iklas memenuhi janji saudara kepada Tuhan, kepada Pemerintah, bangsa dan Negara, kita berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang sumber dari segala kekuasaan itu, dari surga akan mengurapi kepemimpinan saudara, maka berkatnya akan mengalir kepada Kabupaten dan masyarakat yang saudara pimpin sehingga melalui kepemimpinan saudara, nama Tuhan dipuji, rakyat mengalami damai sejahtera dan nama saudara akan diingat sepanjang di mana saudara berada,” tegas Barnabas Suebu.
Kepada penjabat Bupati, Gubernur Provinsi Papua ini mengingatkan, bahwa tugas pokok seorang penjabat Bupati, sifatnya sementara saja.”Saudara bukan bupati definitive, saudara diminta untuk mengisi lowongan waktu sebelum bupati definitive dipilih memulai tugas dan tanggung jawabnya di kabupaten yang saudara pimpin. Tugas-tugas tentang penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan dan pembinaan masyarakat tidak boleh berhenti dan harus terus berjalan, untuk itu saudara dilantik,”ucap Gubernur mengingatkan.
Saudara juga, lanjut Gubernur Provinsi Papua ini,  ditugaskan untuk menyelesaikan pemilihan umum kepala daerah yang akan dan sedang berlangsung sampai dengan hari pelantikan. Saudara mendapat tugas dan tanggung jawab untuk memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat dan saya ingin berpesan bahwa masa jabatan penjabat hanya satu tahun paling lama, oleh karena itu saudara dilarang mengambil keputusan-keputusan yang membawa akibat jangka panjang dan memberi beban kepada bupati definitive yang akan datang.
“ Saudara dilarang megambil keputusan-keputusan yang membawa beban negara jangka panjang bagi kabupaten dan bagi pimpinan definitive. Dengan demikian dengan waktu yang singkat, saudara mempersiapkan jalan bagi pemimpin yang baru dan nama saudara dicatat sebagai penyedia jalan bagi pemimpin yang akan datang,” tegas Bas, panggilan akrab Gubernur Provinsi Papua ini.***

Kamis, 28 Oktober 2010

Yang tercecer dari pelaksanaan Pemilukada di Kabupaten Mamberamo Raya

“ Anehnya, 9 kampung definitive milik Pemerintah Tolikara ikut Memilih”

Pada tanggal 14 Oktober lalu, Masyarakat di Kabupaten Mamberamo Raya menggelar pesta demokrasi pemilihan kepala daerah Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Mamberamo Raya periode 2010-2015, namun anehnya, masyarakat di 9 Kampung di satu Distrik dalam wilayah Pemerintahan kabupaten Tolikara, ikut memilih. Bagaimana?Berikut laporan langsung pandangan mata wartawan pacific post dari Distrik Wari Kabupaten Tolikara…

Laporan : Alberth Yomo

Pemilihan Umum Kepala Daerah Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Mamberamo Raya periode 2010-2015 tanggal 14 oktober 2010 lalu merupakan yang pertama sekaligus merupakan sejarah baru, bagi Kabupaten yang baru dimekarkan tahun 2008 lalu. Namun, ada sesuatu yang aneh tapi nyata, yang sudah diketahui, tapi seolah-olah malas tahu, yakni KPUD Mamberamo Raya menetapkan beberapa Distrik milik Pemerintah Tolikara sebagai tempat pemungutan suara. Seperti yang terjadi di Distrik Wari Kabupaten Tolikara dan mungkin juga di Distrik Dow dan Distrik Sebey Kabupaten Tolikara, karena beberapa kotak suara juga diantara ke sana.
Pada tanggal 13 oktober  2010, sekitar pukul 11.00 Wit, sebuah pesawat cesna milik Tariku Aviation mendarat di lapangan terbang Wari. Seperti biasa, kalau ada pesawat yang masuk, pasti semua masyarakat akan keluar dari rumahnya masing-masing untuk melihat gerangan siapa yang diantar oleh pesawat itu.
Karena saat itu, aku sedang berada di kali mencari ikan bersama beberapa anak di kampong itu, jadi kesempatan melihat pesawat terlewatkan. Namun, selang beberapa waktu kemudian,setelah pesawat itu keluar, muncul beberapa pemuda ke tempat kami, dan memberitahukan, kalau pesawat tadi membawa kotak suara dan 3 orang petugas penyelenggara Pemilu.
Aku tersentak kaget, dan bertanya, apakah Distrik Wari juga ikut memilih?Ini kan pemilihan Kabupaten Mamberamo Raya, dan Wari adalah Distrik dari Pemerintah Tolikara. “ Iya kk, biar kita masuk di Tolikara, tapi kita juga biasa ikut pemilihan untuk Mamberamo Raya, karena disini juga masuk wilayah Mamberamo,” ujar salah satu pemuda.
Ya sudah, pada esoknya aku ikut memantau pelaksanaan pemungutan suara di Distrik yang 9 kampungnya berdekatan ini . Apa hasilnya?100 persen kemenangan untuk pasangan nomor urut 2. Saya akui, pelaksanaan berjalan sukses, meski tidak menggunakan asas rahasia lagi, karena pencoblosan langsung diketahui panitia, mana yang dicoblos, semua dilihat langsung oleh petugas.
Aku baru tahu kemudian, bahwa keikutsertaan masyarakat di Wari pada pemilukada Kabupaten Mamberamo Raya, karena factor balas jasa, atas 30 rumah social yang dibangun sang kandidat di wari, sewaktu menjabat sebagai karateker bupati Mamberamo Raya. Dan akan menyusul bantuan dan perhatian lainnya ketika sang kandidat terpilih secara definitive menjadi bupati.***



Senin, 04 Oktober 2010

Pernyataan Penting Pdt. Rainer Scheuneman Bagi Kemajuan Persipura

Pada acara diskusi bertemakan” Sepak Bola Papua menuju Kemandirian” yang dilaksanakan oleh wartawan olahraga Papua di Jayapura, dengan menghadirkan pembicara para kandidat calon walikota Jayapura periode 2010-2015 di auditorium RRI Jayapura,Minggu (4/10 ), hadir pula para pemerhati dan pengamat sepak bola Papua, diantaranya Pdt.Rainer Scheuneman, Benny Jansenem, Niko Dimo dan Fernando Fairio. Dari ke-empat pengamat bola Papua ini, Pdt, Rainer Scheuneman tampak memberikan pencerahan yang spectakuler tentang fakta penting factor-faktor penghambat kemajuan sepak bola Papua, berikut laporannya :



Laporan : Alberth Yomo

“Kita bisa bersyukur dan bangga dengan apa yang telah dilakukan oleh pemain-pemain Persipura masa lalu, tetapi sejujurnya masih banyak hal yang harus dibenahi, agar kita bisa mencetak pemain-pemain Papua menjadi pemain kelas dunia,” ujar Pdt. Rainer.
Diuraikan,bahwa untuk saat ini, di Papua kita bisa memberikan nilai 10 kepada para pemain Persipura, tetapi untuk tingkat Asia, nilai raport mereka( pemain persipura ) adalah 7. Mengapa?Karena melawan Pelita Jaya mereka bisa menang 5-0, tetapi ketika main di luar negeri atau ditingkat Asia melawan Cina, mereka kalah 9-0 dan  8-0. Apa yang salah?tidak ada pembinaan sejak usia dini.
 “Pembinaan yunior harga mati. Anggaran Persipura harus lebih banyak ke Yunior, Kita (pengurus sepak bola di Papua ) telah melakukan kesalahan dan telah gagal dalam 10 tahun terakhir melakukan pembinaan Yunior secara terus menerus, sehingga kondisi itu yang kita lihat saat ini, pemain kita belum bisa berbuat lebih di tingkat Asia,” tandasnya.
Diungkapkan,  dari 450 pemain ISL yang saat ini beredar, hanya 35 pemain Papua. Kita mengatakan Papua gudang pemain, tetapi apa kenyataannya?, kita hanya bisa menyumbangkan 7,7 persen pemain Papua. Karena itu kita harus menanamkan target saat ini, minimal kita harus mencapai 30 persen atau setidaknya 25 persen penyumbang pemain dari Papua 5 atau 10 tahun ke depan.
Selain Pembinaan usia dini yang ditekankan oleh Pdt Rainer, hal lainnya yang menjadi keprihatinan pria Jerman yang sudah 15 tahun mengabdi di tanah Papua ini adalah soal Kepelatihan dan Perwasitan di Papua. “Kesalahan lain yang kita lakukan adalah tidak ada penjenjangan dari system kepelatihan kita. Saya sebagai pendeta, tetapi mempunyai lisensi kepelatihan yang lebih tinggi dari seluruh pelatih yang ada di Papua, ini aneh sekali,” ungkap Rainer yang sudah mengantongi sertifikat kepelatihan Lisensi B dari UEFA ini.
Sebagai bentuk keprihatinan itu Rainer mengharapkan ada perhatian serius untuk eks pemain Persipura agar diberdayakan terus menerus menjadi pelatih yang professional, supaya bisa mengisi kepelatihan yunior di Papua.” Kita bangun gedung 20 tingkat, tetapi kalau fondasinya lemah tidak bisa,” imbuhnya.
Dirinya kemudian mencontohkan sepak bola Timor leste yang merdeka tahun 2002, pertandingan pertama, mereka kalah 28-0 dari Australia, tetapi masyarakat timor leste mereka sambut luar biasa, mereka pawai dan bangga kepada pemain-pemainnya, karena mereka yakin, suatu hari nanti, Timor leste akan berada di depan.
“Buktinya, tahun 2010 mereka kalahkan Indonesia 2-0. Ini suatu hal yang memprihatinkan untuk kita di Indonesia. Itu yang saya katakan tadi, untuk mencapai itu, perlu pembinaan yunior yang serius, kepelatihan yang serius dan perwasitan yang serius. Tidak ada wasit Papua saat ini di ISL. Ini memprihatinkan. Saya harapkan ke depan, harus diperhatikan secara menyeluruh,” harapnya.***

Jumat, 30 Juli 2010

Catatan Ringan Perjalanan Dari Kampung Metaweja, Kabupaten Mamberamo Raya - Provinsi Papua






“ Tempuh perjalanan sejauh 69 km untuk berobat anak yang sedang sakit”
Pagi itu, cuaca sangat dingin, mentari pagi perlahan mulai menampakkan wajahnya dari balik gunung kwanima, seakan takut dengan munculnya sang mentari, kabut putih yang semula menutup perkampungan metaweja,mulai lenyap dari hadapanku. Tiba-tiba terdengar suara tangisan seorang anak kecil dari balik rumah berdinding gabah yang berada di sebelah rumah tempat kami menginap, suara itu seakan memecah kesunyian pagi.
Tangisan semakin keras terdengar, seiring dengan bentakan suara seorang wanita dewasa, tampaknya seorang Ibu yang sedang membujuk anaknya agar tak menangis lagi, namun sang anak tak menghiraukan bujukkan ibunya, ia terus merengek, sehingga membuat sang Ibu menjadi resah lalu membentak anaknya.
Sejam kemudian, datanglah guide kami dan memberitahukan, kalau suara tangisan tadi adalah tangisan seorang anak benama Petu, berumur setahun lebih yang mengalami demam tinggi, sehingga ia memohon bantuan kepada kami, kalau sekiranya ada obat pada kami, untuk membantu menurunkan panas anak tersebut. Dan kebetulan aku masih menyimpan 3 butir obat generic Parasetamol, lalu aku berikan dengan petunjuk agar diberi setengahnya yang diaduk dalam sendok makan lalu memberi minum obat itu kepada Petu.
“Sudah lama tidak ada petugas kesehatan di kampung ini, jadi kalau ada orang yang sakit, kami akan berusaha membawanya ke Kasonaweja ( Ibukota Kabupaten Mamberamo Raya)” ungkap Panus Sawai, seorang penginjil yang telah mengabdi hamper 19 tahun di wilayah kepala air sungai Apawer, termasuk di Kampung Metaweja, tempat asalnya.
Panus mengungkapkan, bukan hanya Petu yang sakit, tetapi ibunya juga dalam keadaan sakit, sepertinya gejala sakit malaria, sehingga ia menyarankan untuk segera bergegas menuju Kasonaweja. Kebetulan pada saat yang bersamaan, kamipun akan meninggalkan Metaweja menuju Kasonaweja, jadi pasien kecil ini bersama ibunya, atas pertimbangan Panus, akan ikut dalam rombongan kami berjalan menuju Kasonaweja, dengan menempuh perjalanan kurang lebih 69 km menyusuri sungai dan hutan selama tiga hari perjalanan untuk bisa tiba di Kasonaweja.
Bukan hanya Petu dan Ibunya, bersama kami, ada juga Hans Soromoja, salah satu porter kami yang mengalami hal yang sama. Remaja kelas II SMA ini juga mengalami demam tinggi. “ Saya tidak mau tinggal di sini, lebih baik saya ke Kasonaweja, supaya bisa dapat obat,” ujar Hans, ketika ia disarankan untuk tinggal, karena demam tinggi yang dialaminya.
Hans disarankan untuk tinggal bukan tanpa alas an, karena perjalanan yang akan ditempuh ini dikuatirkan sangat beresiko memperparah keadaannya, karena perjalanan ini selain jauh ( 69 Km ), jalannya juga tak mulus, yakni jalan di atas bebatuan tajam, puluhan bahkan ratusan kali masuk dan keluar menyeberangi sungai, panasnya terik matahari, kekuatiran akan turunnya hujan dan banjir, hingga resiko lainnya.
Tetapi bagi Hans, Petu dan Ibundanya, ancaman itu bukanlah hal yang baru, tetapi sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup mereka di Metaweja. Hans bahkan menyebut diri mereka adalah “anak batu”, artinya mereka tumbuh dan besar dalam kondisi alam seperti itu, jadi tajamnya batu kali dan resiko lainnya, sama sekali tidak membuat telapak kaki mereka pilu, karena telah terbiasa.
Aku mencoba melepas sepatu boat dan meniru langkah mereka dengan berjalan tanpa sepatu, aku tak sanggup ketika melangkah sekitar 100 meter, belum lagi melewati hutan yang dipenuhi lintah, aku melihat punggung kaki hingga betis mereka ditumpuki lintah pengisap darah, ketika lintah itu dibersihkan, tampak kaki mereka seperti diiris-iris dengan silet, terlihat darah segar membasahi punggung kaki dan betis kaki mereka, tetapi itu dianggap biasa-biasa saja.
Ketika dalam perjalanan, Panus mengungkapkan, bahwa obat parasetamol yang aku berikan, ternyata manjur, sehingga demam yang dialami Petu sang pasien kecil sudah menurun dan kondisi Petu sedang dalam keadaan baik, demikian pula dengan Ibunya. Sementara Hans, hanya menghangatkan tubuhnya dekat api yang menyala, ketika kami sedang beristirahat dan bermalam dalam perjalanan itu. Kondisi Hans, benar-benar membuat aku panic,karena terlihat jelas ia menahan rasa sakit itu, tetapi disisi lain, aku melihatnya sebagai seorang remaja yang kuat, meski dalam kondisi demikian, ia mampu bertahan hingga kami tiba di Kasonaweja.
Tetapi yang aku salut, meski perjalanan itu jauh dan ditempuh dalam waktu tiga hari berjalan kaki, namun aku merasa seperti sedang berwisata di hutan dengan guide-guide local yang luar biasa. Tim di bagi dua, satunya jalan mendahului guna menyiapkan makan ala kadarnya, sementara tim lainnya mengawal aku dan temanku berjalan di belakang. Ketika tiba pada suatu titik, aku sering terkejut, karena selalu ada kejutan yang melegahkan hati yang dilakukan oleh tim pertama.
Mereka seakan mengetahui apa yang sedang aku rasakan. Ketika haus, tiba-tiba di depan jalan sudah ada air kelapa muda, ketika perut keroncongan, di depan jalan sudah di siapkan makan ala kadarnya, berupa daging hasil buruan dan pisang yang dibakar. Ketika kepanasan, diajak berendam dalam air sungai, sambil menyelam mencari ikan dengan sumpit, jika dapat, kami membakar lalu menikmatinya bersama. Hingga gelap menghampiri, kamipun membaringkan tubuh dalam bevak sempit, menanti esok untuk kembali melanjutkan perjalanan.
Sejak terbentuknya pemerintahan kampong definitive pada pertengahan tahun 80-an, masyarakat di kampong ini, tak pernah menikmati pelayanan pendidikan dan kesehatan. Beruntung ada niat baik dari para penginjil yang mengajarkan bahasa Indonesia, baca dan tulis, sehingga masyarakat di Kampung ini, kecuali kaum perempuan, sudah fasi berbahasa Indonesia. Bangunan sekolah SD ( 2 ruang kelas ), baru dibangun tahun 2008 lalu oleh Pemerintahan sementara Kabupaten Mamberamo Raya, sementara pembangunan dibidang kesehatan, baik fisik maupun pelayanan kesehatan tidak pernah ada hingga saat ini.
Meskipun pada tahun 2001 telah diberlakukan otonomi khusus bagi Provinsi Papua dengan kucuran dana bertriliunan rupiah, namun sangat disayangkan melihat kondisi yang dialami masyarakat di Kampung Metaweja. Ironisnya lagi, sejak terbentuknya Kabupaten Mamberamo Raya pada tahun 2008, sejumlah bantuan dana yang diberikan Pemerintah, melalui program Respek dan Pemberdayaan Kampung dengan dana mencapai Rp 300 Juta per tahun, tidak jelas penggunaannya.
Sekadar diketahui, rata-rata penduduk di Kampung Metaweja berprofesi sebagai petani dan peramu, sehingga setiap harinya, mereka selalu bergelut dengan kebun untuk menanam pisang dan umbi-umbian, menokok sagu dan berburu binatang hutan, seperti Babi, Tikus Tanah, Lao-lao, Soa-soa, burung dan mencari ikan dan udang yang berada di kali-kali yang mengalir di sekitar wilayah mereka.
Mata pencaharian mereka nyaris tidak ada yang dapat dijual ke pasar, hanya tanaman Pinang dan Kakao yang sedikit membantu mereka untuk mendapatkan uang, namun hal itu tidak berlangsung secara kontinyu, kondisi ini diakibatkan oleh letak Kampung Metaweja yang jauh dari pusat pasar di Kasonaweja, sebagaimana di sebutkan di atas, butuh waktu 3 hari untuk berjalan kaki dari Metaweja ke Kasonaweja, hal ini tentu sangat memberatkan bagi masyarakat. Beban yang sanggup dipikul hingga ke kasonaweja, berdasarkan pengamatan kami, tidak lebih dari 20 kilogram per orang dewasa.
Pinang merupakan barang yang sering di pikul dari Metaweja ke Kasonaweja untuk di jual, sekali jalan, mereka sanggup membawa 10 oki pinang ( 20 Kg ), satu oki pinang, biasa dijual dengan harga Rp 250.000 hingga Rp 300.000,- . Jika 20 kg pinang itu di jual, maka bisa diperoleh uang sebesar Rp 3 Juta. Namun, dari pengamatan dan hasil wawancara, 20 kg pinang yang di bawah dari Metaweja, setengahnya di bagi kepada kerabat atau untuk konsumsi sendiri, setengahnya lagi di jual, sehingga kemungkinan, mereka biasa mendapatkan uang dari hasil penjualan pinang adalah kurang lebih Rp 1 – 1,5 Juta.
Selain itu, ada tanaman Kakao yang baru dua kali di pasarkan ke Sarmi, oleh Panus Sawai,penginjil di Metaweja ini. Harga Kakao saat itu di jual per kilogramnya Rp 10.000,-. Ada 100 kg yang di bawah saat itu, sehingga ia mendapatkan uang Rp 1 Juta, namun, hamper ratusan lebih uang yang dia tebus untuk membayar biaya perjalanan, terutama menanggung bensin. Seperti diketahui, rute pulang pergi dari Tamaja ( Apawer ) ke Sarmi membutuhkan 400 liter bensin campur, yang mana harga bensin campur per liternya Rp 15 ribu di Apawer dan Rp 8000 di Sarmi.Setelah sukses dengan penjualan perdana, Panus kembali memanen 300 Kg, dan berupaya membawanya ke Sarmi, dijual kepada penadah kakao di Sarmi, hasilnya cukup menggemberikan, dirinya bisa membeli beras dan alat-alat dapur lainnya untuk membahagiakan sang anak dan istrinya.
Tapi setelah itu, niat Panus untuk kembali menjual Kakao ke Sarmi terbentur pada masalah perahu dan bahan bakar, padahal dirinya sudah memanen sekitar 100 kg Kakao, akibatnya dirinya hanya pasrah melihat kakaonya yang rusak. Demikian halnya tanaman Kakao yang ada di kebun sudah siap panen, namun dirinya enggan untuk memanen, karena terbentur pada masalah transportasi tadi. Dari pengamatan kami, nampak kondisi tersebut sangat memprihatinkan, semua kakao di kebun sudah masak, bahkan ada yang menjadi busuk dan kering berwarna hitam, panus hanya pasrah saja melihat kondisi kebun kakaonya.
Secara administrative, Kampung Metaweja berada dalam pemerintahan Distrik Mamberamo Tengah Kabupaten Mamberamo Raya, Provinsi Papua. Kampung ini berada diantara beberapa kampung, antara lain :
- Sebelah Utara berbatasan dengan wilayah administrative Kampung Tamaja ( Sarmi )
- Sebelah Selatan berbatasan dengan wilayah Sormoja gunung dan wilayah Marinavalen
- Sebelah Barat berbatasan dengan wilayah Kampung Mrumere
- Sebelah Timur berbatasan dengan wilayah Kampung Sasaupece dan Kampung Babija
Kampung Metaweja berada pada koordinat 02017’59.5” Lintang Selatan dan 138021’04.4” Bujur Timur atau berada kurang lebih 50 km arah timur dari Kasonaweja, yang kini menjadi pusat pemerintahan sementara Kabupaten Mamberamo Raya.
Perjalanan terdekat ke kampung Metaweja dapat ditempuh dengan transportasi sungai lewat sungai Apawer, kemudian menyusuri kali wire dan kali Omeri. Namun, rute ini sangat ditentukan oleh keadaan sungai Apawer, jika curah hujan tinggi dan terjadi peningkatan air sungai, maka memungkinkan bagi alat transportasi untuk menuju ke Kampung Metaweja, sebaliknya, jika curah hujan rendah atau sedang, maka rute tersebut tidak bisa dilewati. Waktu yang dibutuhkan untuk sampai di Kampung ini, andaikan kondisi air sungai sedang naik, adalah kurang lebih 3 hari perjalanan dari muara Apawer, sedangkan dari Distrik Aurimi ( Lokasi lapangan terbang terdekat ) hanya sehari.
Jalur lainnya, yaitu lewat sungai Mamberamo, kemudian masuk lewat muara kali kuama atau bisa lewat kampung Mrumere atau kampung Marinavalen, dan berjalan kaki sejauh 57 km kearah timur. Jalur ini, butuh waktu 2- 3 hari untuk sampai di Kampung Metaweja.
Dari kedua rute tersebut di atas, yang sering digunakan masyarakat adalah rute ke-dua melalui Kasonaweja, karena rute ini yang dianggap paling cepat dan aman untuk bisa sampai di Kasonaweja ataupun sebaliknya.
Kebetulan rute ini yang kami lewati, dimana waktu yang kami butuhkan adalah 3 hari berjalan kaki. Dari kasonaweja menggunakan speedboat menuju muara Kuama butuh waktu 30 menit, lalu berjalan kaki sejauh 57 km ke arah timur, dengan rata-rata perjalanan per hari adalah 5 jam.
( Alberth Yomo/ staf peneliti Yayasan Lingkungan Hidup Papua )


Kamis, 20 Mei 2010

Rakyat Papua, Mari Kita Berdoa Untuk Persipura


“Saya berkeyakinan, bahwa dengan kekuatan doa, Mujizat Itu Pasti Nyata”

Liga Super Indonesia atau Indonesia Super Liga ( ISL ) Tahun 2009/2010 beberapa saat lagi akan berakhir,tepatnya tanggal 30 Mei 2010 mendatang merupakan pertandingan terakhir dari seluruh rangkaian pertandingan kompetisi sepak bola terakbar di Nusantara ini. Ada 18 tim sepakbola terbaik di Indonesia yang berkompetisi dalam Iven ini, ada 396 pemain Indonesia terbaik dan ada 180 official tim yang mencurahkan tenaga dan pikirannya ,bahkan entah berapa ratus milyar rupiah dana yang dikucurkan tiap-tiap tim untuk membiayai 34 pertandingan mereka dalam kompetisi ini.
Namun terlepas dari semua hal yang disebutkan di atas, kami orang Papua merasa bangga, karena memiliki dua tim yang masuk dalam jajaran tim-tim terbaik itu. Persipura Jayapura dan Persiwa Wamena, itulah kebanggaan kami. Karena kebanggaan itulah, nilai uang tak berarti bagi kami untuk membeli karcis masuk stadion, membeli tiket pesawat, tiket kapal laut, menyewa hotel, menyewa kendaraan, bahkan membeli souvenir maupun makanan ngemil sekalipun. Karena kebanggaan itu juga, kami tak peduli dengan kesesakan, kemacetan, kepanasan, bau keringat, kulit hitam yang terbakar matahari bahkan nyawa sekalipun.
Hitam kulit,keriting rambut, kami Papua….itulah sepenggal syair yang dilantunkan Edo Kondologit yang membakar semangat dan kebanggaan kami terhadap Boas Solossa,Ian Luis Kabes, Gerald Pangkali, Ortisan Solossa, David Lali, Kamasan Jack Komboy,Paulo Rumere, Edison Ames, Kristian Uron,Tinus Pae, Imanuel Wanggai, Stevi Bonsapia, Victor Igbonefo, Bio Paulin Piere, Jendry Pitoy, Ricardo Salampesy, Erol Iba, Ferdiansyah, Eduar Ivakdalam, Timotius Mote, Piter Rumaropen, Yesaya Desnam,Vendry Mofu, dan pemain Persipura serta Persiwa lainnya.
Kini kebanggaan kami ditantang dengan kondisi nyata yang terjadi pada detik-detik terakhir perjalananan kompetisi sepak bola ISL 2009/2010, yang mana perjalanan salah satu tim kebanggaan kami, Persipura Jayapura, menuju puncak tertinggi ISL, dihadang oleh tebing terjal nan curam. “Tidak Mungkin” bagi Persipura, itulah dua kata yang ada dalam benak semua warga Negara Indonesia pencinta sepak bola yang menyaksikan dan mengikuti jalannya kompetisi musim ini,.
Arema Indonesia, kini telah mengoleksi 69 poin dari 32 pertandingan, dengan 22 kemenangan, 3 seri dan 7 kalah, memasukkan 51 gol dan kemasukan 20 gol, selisih gol + 31, masih menyisahkan 2 kali pertandingan. Tim kebanggaan kami, Persipura Jayapura, telah mengoleksi 66 poin dari 33 pertandingan, dengan 18 kemenangan, 12 seri dan 3 kalah. Memasukkan 61 gol dan kemasukkan 32 gol, selisih gol +29, namun masih menyisahkan 1 kali pertandingan.
Artinya, Arema Indonesia dipastikan akan juara hanya dengan meraih hasil seri saat bertandang ke kandang PSPS atau Persija ( 26 dan 30 Mei 2010 mendatang ). Arema akan mengunci gelar ISL 2009/2009, jika pada tanggal 26 mampu menahan imbang tuan rumah PSPS. Jika itu terjadi, maka pertandingan Persipura Jayapura versus Persiwa Wamena, tidak akan bermakna. Namun sebaliknya, Persipura Jayapura bisa Juara, jika Arema Indonesia kalah berturut-turut dari PSPS dan Persija, sementara Persipura Jayapura meraih kemenangan dari Persiwa Wamena.
Memang ini hal yang “Tidak Mungkin”, tapi benar kah demikian?”Tidak”, saya mempunyai keyakinan yang sungguh kepada Yesus Kristus, Tuhan dan Allah kami, yang memberikan harapan melalui Firmannya,” Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah, dan apa yang mustahil bagi manusia, tidak mustahil bagi Allah. Karena keyakinan itulah, maka saya mengajak kepada kita semua yang mencintai dan membanggakan Persipura, Mari Kita Berdoa Untuk Persipura, karena saya berkeyakinan, bahwa hanya dengan kekuatan Doa, mujizat itu pasti nyata. Amin! ( Alberth Yomo,S.Hut – Fans Persipura Jayapura )

Minggu, 09 Mei 2010

Sepenggal Kisah Perjalanan Dari Kampung Taria


Setelah hampir seminggu tertahan di Dabra ( 25 Maret – 1 April ), tanggal 29 Maret pukul 10.15 Wit, kami bertolak dari Dabra 1 menuju Taria, lewat Baso 1, menggunakan perahu cole-cole yang panjangnya sekitar 17 meter dan lebar kurang lebih 40-50 cm itu yang digandeng dengan mesin 10 PK ( Ketinting ). Dalam perahu itu, ada 5 orang, Jhon Dude selaku motoris, Audy, Aser, Gotlif, dan aku sendiri serta ditambah dengan barang-barang bawaan kami.
Perahu itu awalnya melaju menyusuri tepi pinggir sungai Taritatu, beberapa menit kemudian, pemukiman Kampung Dabra 1 mulai lenyap dari pandangan kami, aku mulai merasakan derasnya arus sungai Taritatu, terasa perjalanan kami begitu lambat, meskipun telinga ini menjadi tuli oleh kerasnya bunyi mesin ketinting yang dipompa kencang melawan arus, tapi aku merasa seakan-akan tidak ada pergerakan ke depan, kami sepertinya sedang berlabuh dan sedang dihanyutkan oleh arus.
Beberapa jam kemudian, kami mulai merasakan pedisnya sengatan matahari yang terasa membakar kulit, masing-masing kami mencari sesuatu yang bisa dipakai untuk melindungi tubuh dari sengatan terik matahari. Audy mengambil tikar, menutup kepalanya, Gotlif membuka baju luarnya dan menyisahkan baju dalam, Aser memilih berbaring dan hanya melindungi matanya dengan siku tangan, Jhon Dude juga melepas bajunya tinggal telanjang dada, kemudian menggantungkan bajunya dipundak kiri, sementara tangan kanannya tetap memegang dayung yang membantu mengemudi dan mengarahkan haluan perahu. Beberapa kali Gotlif menimba air sungai Taritatu, kemudian membasahi kepala dan tubuhnya untuk melawan sengatan matahari.
Beberapa jam kemudian, bensin dalam tangki ketinting habis, kami berhenti sejenak, kemudian mengisi full tangki ketinting dan kembali melanjutkan perjalanan. Tepat jam 16.00 Wit, kami tiba di muara kali Dabre,kemudian menyusuri kali Dabre menuju Baso 1, tepat jam 18.30 Wit, kami tiba di Kampung Baso 1, yang disambut hangat beberapa warga yang nampak sudah saling kenal, setelah beberapa saat bercanda ria dan menghangatkan tubuh dengan segelas kopi bersama warga, kamipun kemudian bermalam di rumah milik Kepala Kampung Baso yang ditinggal kosong.
Paginya, tanggal 30 Maret, bersama Jhon Dude, kami mengantarkan Aser dan Audy menuju Baso II, keluar dari pelabuhan Baso 1, jam 10 pagi, tiba di Baso II jam 14.00, setelah itu, aku dan Jhon Dude, kembali lagi ke Baso 1, kami tiba di Kampung Baso 1, jam 17.30 Wit. Karena tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan ke Taria, akhirnya kami putuskan untuk bermalam lagi di Baso 1.
Selanjutnya, pada tanggal 31 Maret, pukul 08.00 Wit, Aku,Gotlif dan Jhon Dude kembali meneruskan perjalanan menuju Taria yang jaraknya kurang lebih 50 Km ke arah selatan dari Kampung Baso 1. Hanya butuh waktu 1 jam untuk keluar dari pelabuhan Baso 1 menyusuri kali Dabre dan keluar ke muara, selanjutnya menyusuri sungai Taritatu. Sekitar pukul 11.30 Wit, kami tiba di muara kali Taria, kemudian masuk menyusuri kali taria.
Awalnya kami menyusuri kali taria dengan mulus, namun ketika semakin jauh dari muara, kurang lebih 1 jam dari muara, kami menemui kendala, di hadapan kami terlihat timbunan kayu yang menutup jalur sungai, mesin ketinting dimatikan, beberapa saat kami terpaku melihat tumpukan sampah kayu yang ada dihadapan kami, sangat tidak mungkin untuk kami membersihkan timbunan itu dan melaluinya. Kami mencari jalan alternative, kami menemukan ada bekas ranting yang baru dipotong, kami mengikuti bekas tersebut dengan dayung dan membantu menarik beban perahu dengan bantuan ranting pohon yang dapat dijangkau. Setelah keluar dari tempat tumpukan kayu tersebut, ketinting kembali dihidupkan, dan perjalanan kembali dilanjutkan. Kami kembali ketimpa sial, baru beberapa saat keluar dari tumpukan kayu yang menutup jalur sungai, kami diperhadapkan lagi dengan pemandangan yang sama. Namun kali ini tidak ada jalan alternative, kami terpaksa bekerja keras dengan memindahkan batang kayu yang menghambat jalan perahu dan membantu mendorong dengan menarik batang tebu air. Setelah bekerja keras selama 30 menit,akhirnya kami keluar dari masalah itu, dan kembali menghidupkan ketinting, meski sempat terkandas pada batang pohon yang tersembunyi di dalam air, namun hal itu segera kami atasi dan terus melanjutkan perjalanan.
Ketika waktu mulai menunjukkan jam 14.00 Wit, kami melihat beberapa warga masyarakat yang sedang menokok sagu, lalu kami berhenti sejenak di salah satu bevak, nampak seorang Bapak, yang diketahui bernama Sokrates Barusa warga Kampung Taria, sedang meng- asar ikan bersama Istri dan 3 orang anaknya. Setelah menyapa mereka dan menanyakan posisi pelabuhan taria yang berjarak kurang lebih sekitar 15 Km, kami dibekali dengan beberapa ekor ikan, dan kembali melanjutkan perjalanan.
Setelah melalui sekitar 7 bevak, daya dorong perahu terasa mulai berat, arus kali taria juga terasa kian kuat, walau menyadari hal itu, tapi kami tetap memaksa, akhirnya hal yang kami kuatirkan terjadi, sekitar jam 15.30 Wit, baling-baling ketinting kami terlepas dan hilang terbawa arus, akibat tersangkut pada tebu air yang melintang di dalam kali taria. Tidak ada baling-baling cadangan, terpaksa kami turun dari perahu lalu bahu membahu menarik dan mendorong perahu melawan arus.
Hampir 3 jam kami berjuang melawan arus dengan menarik perahu dengan harapan segera mendapat pelabuhan Taria, tapi hal itu tidak terjadi, karena gelap sudah menutupi pemandangan kami, akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat melepaskan kelelahan dengan bermalam di sekitar bantaran kali taria.
Setelah menghangatkan badan dengan kopi, kami kemudian beristirahat, namun lagi-lagi ketimpa sial, sekitar pukul 23.00 Wit, hujan deras mengguyur, kami hanya bisa berlindung di bawah ranting pohon kering yang sudah roboh dengan beratapkan mantel hujan, sementara barang-barang bawaan kami telah diamankan dalam plastic sampah. Hujan deras itu ditambah dengan serangan nyamuk, membuat kami benar-benar kewalahan, dan tidak dapat tidur hingga pagi.
Pagi harinya, tanggal 1 April, walau dalam keadaan fisik yang lelah, kami tetap bersemangat untuk melanjutkan perjalanan. Saat itulah, musibah hamper saja menimpa kami, saat berusaha untuk menyeberangkan perahu ke pinggir kali di seberang, perahu kami terhempas dengan kencang oleh arus, walau kami berusaha dengan melompat dan menarik, tapi justru kami ikut terhempas, beruntung Jhon Dude dengan sigap melompat ke tepi yang aman dan menarik sekuat tenaga perahu itu, akhirnya kami selamat tiba di tepi meskipun sepatu boat aku menjadi korban, kemudian melanjutkan perjalanan dengan mendorong perahu menyusuri kali Taria yang arusnya semakin kencang.
Setelah 1 Km perjalanan dari lokasi itu, kami menemui sejumlah warga masyarakat, lalu meminta petunjuknya tentang lokasi pelabuhan, ternyata jarak pelabuhan sudah berada sekitar 500 meter lagi, kamipun bersemangat, kemudian beberapa saat, akhirnya berhasil masuk di pelabuhan Taria.
Karena kami bertiga baru pertama kali mengunjungi Kampung Taria, sehingga tidak mengetahui dengan pasti posisi Kampung yang sebenarnya, awalnya kami berpikir, lokasi kampung dekat dengan pelabuhan, ternyata perkiraan itu salah, setelah berjalan memikul beban menyusuri hutan sejauh 4 Km, barulah kami tiba di pemukiman Kampung Taria,jam 14.00 Wit. Rencana kembali mengambil sisa barang di pelabuhan tidak mampu lagi kami lakukan, kemudian kami meminta bantuan masyarakat untuk mengambilnya. Saat itu kami merasakan keletihan yang sangat luar biasa, tanpa membereskan barang dan membersihkan rumah, langsung merebahkan badan dilantai papan melepaskan kelelahan itu, huuf…cape deehhh.
Sekedar diketahui, Kampung Taria, secara geografis berjarak kurang lebih 200 KM arah barat daya dari Bandar udara Sentani, yang dapat ditempuh dalam waktu kurang dari dua jam menggunakan pesawat jenis cesna, Pilatus hingga jenis Caravan. Sementara menggunakan transportasi air, dapat ditempuh dalam waktu 4- 6 hari perjalanan dari pelabuhan Jayapura, menggunakan kapal perintis dengan tujuan pelabuhan Trimuris atau Kasonaweja, Ibukota Kabupaten Mamberamo Raya. Setelah itu, dari Trimuris, menggunakan speed boad tujuan Dabra melalui sungai Mamberamo, dan selanjutnya dari Dabra menuju pelabuhan Taria bisa ditempuh dengan menggunakan perahu kole-kole yang digandeng dengan engine 15 PK atau mesin 10 PK ( ketinting ).
Jarak garis lurus Dabra - Taria adalah 33,5 Km, sementara jarak perjalanan ( Lap Distance ) dengan menyusuri sungai adalah kurang lebih 91,9 Km. Jika menggunakan mesin 10 PK( Ketinting )dari Dabra menuju Taria, perjalanan tersebut dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 15 jam ( tanpa hambatan ) dengan kebutuhan BBM 15 liter, sebaliknya dari Taria menuju Dabra, waktu yang diperlukan adalah 7 jam ( tanpa hambatan ), BBM 10 liter. Waktu perjalanan kemungkinan akan semakin singkat jika menggunakan Engine 15 atau 40 PK, namun dengan kondisi sungai taria yang mengalami pasang surut dan dangkal, akan menjadi hambatan bagi pengguna motor temple 15 atau 40 PK. (yomo)

Kamis, 06 Mei 2010

Taria, Diantara Mamberamo Raya dan Mamberamo Tengah


Kampung Taria, secara geografis berjarak kurang lebih 200 KM arah barat daya dari Bandar udara sentani, yang dapat ditempuh dalam waktu kurang dari dua jam menggunakan pesawat jenis cesna, Pilatus hingga jenis Caravan. Sementara menggunakan transportasi air, dapat ditempuh dalam waktu 4- 6 hari perjalanan dari pelabuhan Jayapura, menggunakan kapal perintis dengan tujuan pelabuhan Trimuris atau Kasonaweja, Ibukota Kabupaten Mamberamo Raya. Setelah itu, dari Trimuris, menggunakan speed boad tujuan Dabra melalui sungai Mamberamo, dan selanjutnya dari Dabra menuju pelabuhan Taria bisa ditempuh dengan menggunakan perahu kole-kole yang digandeng dengan engine 15 PK atau mesin 10 PK ( ketinting ).
Kampung ini telah ada sejak Pemerintahan Kabupaten Jayapura tahun 1997, namun masih merupakan suatu wilayah rukun wilayah dari Kampung Dabra, selanjutnya pada tahun 2001, menjadi bagian dari Kampung Fuao, setelah itu, pada tahun 2007 menjadi kampung sendiri dalam wilayah Pemerintahan Distrik Mamberamo Hulu Kabupaten Mamberamo Raya.
Namun, ketika masyarakat di Kampung ini belum setahun bereforia dengan dengan kehadiran Kabupaten Mamberamo Raya, kini mereka dipusingkan dengan hadirnya Kabupaten Mamberamo Tengah yang diresmikan awal tahun 2008. Selanjutnya Kabupaten ini mengklaim wilayah Taria menjadi miliknya. Agar lebih menegaskan keberadaan Taria sebagai milik Kabupaten Mamberamo Tengah, tak tanggung-tanggung pejabat Bupatinya, yang meskipun hanya sebagai carateker, langsung mengeluarkan dana miliaran rupiah dengan mendatangkan perusahaan besar yang membawa peralatan berat, guna memulai pembangunan jalan dan lain sebagainya yang dimulai dari Kampung Taria.
Melihat hal itu, tak ketinggalan pejabat carateker Bupati Mamberamo Raya unjuk gigi, dirinya langsung membangun 60 unit rumah sehat di Kampung Taria untuk membuktikan dan menegaskan bahwa Taria merupakan wilayahnya. Sementara itu, Carateker Bupati Mamberamo Tengah tak mau kalau, jalan kota mulai di bangun, kantor dan rumah pegawai kini siap digunakan, air bersih dan PLN menjadi bukti keseriusannya, Masyarakat kian bingung, disisi lain mereka bernaung di rumah yang dibangun oleh Mamberamo Raya, namun di sisi lainnya, mereka juga kini menikmati air bersih dan penerangan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Mamberamo Tengah.
“ Kami bingung, kami sebenarnya masuk di Kabupaten Mana?,” ungkap Yeremias Kabdo, ketua Baperkam Kampung Taria, saat ditanya tentang status keberadaan Kampung Taria. Hal itu pernah di tanyakan kepada kedua carateker Bupati, tapi keduanya tetap mengklaim Taria sebagai milik Pemerintahannya. Demikian halnya ketika mendapat kunjungan Wakil Gubernur Papua, hal itu pernah ditanyakan, tetapi tidak mendapat kejelasan dari Wakil Gubernur. “ Bapak Wakil Gubernur bilang, soal batas wilayah, nanti dari Pemerintah Provinsi yang atur, kalian rakyat hanya tau menikmati saja hasil-hasil Pembangunan yang Pemerintah lakukan,” jelas Yeremias Kabdo meniru ucapan Alex Hesegem, saat turkam ke kampungnya 2009 lalu.
Kepala Kampung Taria, Robert Foisa mengaku heran dengan ketidakjelasan itu.” Saya ini aparat dari Pemerintah Kabupaten Mamberamo Raya, dan semua warga di sini adalah orang Mamberamo Raya, tapi kenapa, kami tidak diberi penjelasan soal ini?kami ini milik Mamberamo Raya atau milik Mamberamo Tengah?,” ungkap Roberth. Dirinya tak ingin dituding makan untung dari kondisi itu, sehingga meminta kepada Pemerintah Provinsi Papua segera memperjelas status mereka.
Bahkan akibat kehadiran Mamberamo Tengah, kini di kampong Taria warganya mulai terpencar dengan membentuk Pemerintahan Kampung yang baru, sebelumnya hanya Kampung Taria, sekarang ada kampong Tariko dan Kampung Taria 2, dan sedang diupayakan untuk mendapat restu dari Pemerintah Kabupaten Mamberamo Tengah. Wilayah yang dihuni oleh suku Taburta itu, kini telah dihuni pula oleh suku Gen dari Kobakma dan suku Wina dari Tolikara, yang cepat atau lambat, diduga akan menjadi sumber konflik.
Jika merujuk pada Undang- Undang Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Pembentukkan Kabupaten Mamberamo Tengah, maka keberadaan Kampung Taria, sebenarnya tidak termasuk dalam cakupan wilayah Mamberamo Tengah, sebagaimana yang tertuang dalam Undang-Undang tersebut, khususnya pada bagian kedua pasal 3. Kalau Mamberamo Tengah kemudian mengklaim Taria sebagai wilayahnya, maka Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2008 ini,mungkin harus ditinjau kembali.
Pada bagian kedua Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2008, tentang cakupan wilayah, pasal 3 ayat 1, menjelaskan, bahwa Kabupaten Mamberamo Tengah berasal dari sebagian wilayah Kabupaten Jayawijaya yang terdiri atas cakupan wilayah : Distrik Kobakma, Distrik Kelila, Distrik Eragayam, Distrik Megambilis dan Distrik Ilugwa. Ayat 2, Cakupan wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat 1 digambarkan dalam peta wilayah yang tercantum dalam lampiran dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini.
Kemudian pada pasal 4, dijelaskan, bahwa dengan terbentuknya Kabupaten Mamberamo Tengah, sebagaimana dimaksud dalam pasal 2, wilayah Kabupaten Jayawijaya dikurangi dengan wilayah Kabupaten Mamberamo Tengah sebagaimana dimaksud dalam pasal 3. ( Jadi dalam pasal ini, tidak tertulis, ada pengurangan wilayah dari Kabupaten Mamberamo Raya )
Selanjutnya pada bagian ketiga, tentang batas wilayah, sebagaimana dijelaskan dalam pasal 5 , bahwa Kabupaten Mamberamo Tengah mempunyai batas-batas wilayah :
- Sebelah Utara berbatasan dengan Distrik Mamberamo Hulu Kabupaten Mamberamo Raya ( Artinya, batas itu adalah titik tertinggi dari gunung yang membatasi wilayah dataran rendah Mamberamo dan wilayah pegunungan )
- Sebelah Timur berbatasan dengan Distrik Elelim dan Distrik Abenaho Kabupaten Yalimo
- Sebelah Selatan berbatasan dengan Distrik Wolo dan Distrik Bolakme Kabupaten Jayawijaya, dan
- Sebelah Barat berbatasan dengan Distrik Bokondini dan Distrik Kembu Kabupaten Tolikara
Batas wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat 1 digambarkan dalam peta wilayah yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini.
Penegasan batas wilayah Kabupaten Mamberamo Tengah secara pasti di lapangan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dan ayat 2 ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri paling lama 5 ( lima ) tahun sejak diresmikannya Kabupaten Mamberamo Tengah.
Dengan penjelasan pasal 3 , pasal 4 dan pasal 5 tersebut jelas menegaskan, bahwa keberadaan Taria adalah tetap dalam wilayah Pemerintahan Kabupaten Mamberamo Raya. Apalagi pada pasal tersebut tidak ada penjelasan yang mengatakan kalau cakupan wilayah Mamberamo Tengah meliputi sebagian wilayah Mamberamo Raya.
Tapi sayangnya, untuk mengakali agar Taria diakui masuk dalam wilayah Distrik Megambilis, Pemerintah Kabupaten Mamberamo Tengah kemudian memindahkan Ibukota Distrik Megambilis dari Kampung Megambilis ke Kampung Taria , padahal jarak antara Kampung Megambilis dan Kampung Taria adalah 42 KM.
Hal inilah yang kemudian membingungkan masyarakat di Kampung Taria, dan kini mereka menanti jawaban atas ketidakpastian dari pencaplokan wilayah yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Mamberamo Tengah. Apalagi keberadaan aparat pemerintahan kampung Taria kini tengah disorot aparat-aparat dari Kampung lain, yang menganggap aparat di Kampung Taria telah mengambil keuntungan dari keberadaan dua Kabupaten itu sehingga berkembang tuntutan yang meminta agar aparat Kampung Taria dikeluarkan dari daftar administrasi Pemerintahan Kabupaten Mamberamo Raya.
Karena perkembangan itulah, maka aparat di Kampung Taria memohon, agar sebelum menjadi Pemerintahan yang definitive, ada baiknya Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat segera menyelesaikan persoalan ini, sehingga tidak menyusahkan mereka.(yomo)


Jumat, 23 April 2010

Puluhan Anak Di Roufaer Diduga Terserang Wabah ISPA



“ 12 Anak Meninggal Dunia, Lainnya dalam kondisi Kritis”

Jayapura- Puluhan anak di Distrik Roufaer diduga terserang wabah penyakit, dalam satu bulan terakhir ini, tercatat ada 12 orang anak telah meninggal dunia, dan beberapa anak dalam kondisi kritis berada di kampung, sedangkan lainnya telah dievakuasi ke Jayapura oleh pesawat cesna milik Tariku Aviation. Demikian diungkapkan tim peneliti dari Yayasan Lingkungan Hidup Papua, kepada pacific post, di Kotaraja, Kamis( 23/4 ) kemarin
Tim Yali Papua yang baru saja tiba di bandara sentani setelah melakukan penelitian study plaminieri di Kampung Kustra Distrik Mamberamo Tengah Timur menjelaskan, bahwa kondisi tersebut mereka temukan di Kampung Kustra dan Noyadi, di tambah dengan informasi langsung sejumlah masyarakat yang berasal dari Kampung-Kampung sekitar.
“ Kepala Desa Eri menggungkapkan ada 12 anak yang sudah meninggal dunia, mereka bingung untuk mengatasi anak-anak lainnya, karena tidak ada dokter. Bahkan pada pertemuan langsung dengan Bupati di Kampung Noyadi, Senin( 19/4 ) lalu, persoalan itu sudah disampaikan, tapi belum juga ada dokter yang ke sana,” tandas Nafli Lessil, salah satu staf peneliti Yali Papua.
Dijelaskan, timnya melihat sendiri bagaimana orang tua di Kampung Noyadi menggendong anak mereka sambil membujuk untuk melawan penyakit yang mirip sesak asma atau sesak napas itu.” Mereka seperti terserang ISPA ( Infeksi Saluran Pernapasan Akut ),” ungkap Nafli.
Tidak saja tim Yali Papua, pilot pesawat cesna Tariku Aviation, Mr El Grengerich, juga mengakui hal serupa. Pilot yang biasa melayani rute penerbangan misi ke kampung-kampung sekitar Distrik Roufaer dan Mamberamo Tengah Timur, bahkan meminta tolong kepada tim Yali Papua, kalau sekiranya memiliki mitra dengan dokter atau rumah sakit, kiranya bisa segera membantu mengatasi persoalan yang sedang dihadapi masyarakat di sana,
“ Kalau ada dokter yang bersedia, saya siap mengantarkan,” kata Pilot El yang ditirukan Nafli.Pilot El mengkuatirkan jika kasus ini tidak segera ditangani oleh tim medis, kemungkinan akan banyak anak-anak yang jatuh korban.
Hingga berita ini diturunkan, Direktur Eksekutif Yali Papua, Bastian Wamafma SE, beserta tim Yali Papua sedang berupaya mencari dokter yang siap dan bersedia untuk dimintai pertolongannya. “ Kalau ada dokter, kami akan koordinasikan dengan pihak Tariku Aviation, sehingga pertolongan bisa segera diberikan kepada masyarakat di sana,” jelas Bastian Wamafma.(yomo)